@dewaxgamex @lanalunulana @Gasmedsos_ Makasih yaa! Anak2 saya panggil saya dan suami mami papi, ga down syndrome kok, alhamdulilah normal, sehat wal afiat ☺️ anyway, kita ada alesan juga kok kenapa mami papi. Jangan asal ngomong kaya gitu ya kak
Ada kok jalan tengahnya, dan nggak perlu mengorbankan hati siapa pun. Kita cuma butuh komunikasi yang benar dan pilihan tepat aja, menurutku.
Gini ya, situasi kayak gini emang sering terjadi dalam kehidupan rumah tangga, terutama di budaya yang masih kuat dengan nilai kekeluargaan.
Nah, solusi terbaik harus mempertimbangkan kesejahteraan semua pihak tanpa harus ada yang "dikorbankan" secara emosional. Pasti.
Mungkin beberapa pendekatan yang bisa kita lakukan adalah seperti,
📝 Membangun komunikasi terbuka dan jujur. Si suami perlu menjadi mediator yang bijak. Dan si istri harus bisa menyampaikan kekhawatirannya dengan penuh penghormatan, sementara mertua juga perlu diberi pemahaman bahwa rumah tangga anaknya membutuhkan privasi.
📝 Alternatif tempat tinggal pastinya. Kalo emang memungkinkan secara finansial, cari rumah yang berdekatan atau dalam satu kompleks, sehingga mertua tetap bisa dekat tanpa harus serumah.
Tapi kalo nggak memungkinkan secara finansial dan harus serumah, maka buatlah ruang terpisah supaya tetap ada privasi.
📝 Pembagian peran yang adil. Kalo si istri ngerasa khawatir tentang kelelahan mental, bisa dipertimbangkan asisten rumah tangga atau jadwal kunjungan tertentu ke mertua, sehingga dia nggak terus-menerus tinggal bersama.
📝 Suami harus bisa jadi penengah. Dia harus bisa memahami kebutuhan istri sebagai pasangan hidupnya, tapi juga punya tanggung jawab sebagai anak. Makanya, dia perlu bersikap adil dalam mengambil keputusan.
📝 Dalam Islam, seorang istri nggak wajib tinggal serumah dengan mertua. Tapi, berbakti kepada orangtua juga disyariatkan. Jadi, perlu dicari jalan tengah yang nggak membebani salah satu pihak.
Pada akhirnya, solusi terbaik adalah yang bisa menjaga keharmonisan rumah tangga tanpa mengorbankan kesehatan mental istri ataupun perasaan mertua.
Yang penting, semua pihak perlu memiliki empati dan pengertian, supaya solusi yang dipilih bisa diterima bersama.
ga perlu kasian sama orang yang gabisa upgrade hp, kendaraan, atau barang branded
soalnya lebih kasian sama yang ga mampu tapi terpaksa hutang sana sini karena gengsi 😫😫
Gapaham sih sama konsepnya. Mon maap emang ku juga mbak hijabers newbie, tapi ku miris banget sama beginian. Kalo belum sanggup pake hijab, dahlah gausa pake aja ga si? Daripada maksa begini. Maap emosi ku ke trigger
Huhu makanya ku belum pernah ajakin anak naik transum yang durasi lama gitu si. Belom berani bawa, takut dijudge orang2. Nanti ngerasain deh kalo udah punya anak giman lelahnya jiwa raga. Dah cukup capeknya, dahlah please gausa nambah capek kita dengan being judgy begitu guys 🥲
Tadi baca orang tweet complaining katanya beliau transum dan terganggu karena ada parents bawa anak2nya naik transum itu juga dan anak2nya berisik. And the worst part was, orang tua nya ga ada effort buat diemin anaknya. Sejujurnya, gue ngeri banget dianggep that kind of parents
Padahal in the other side, bisa jadi orang tua nya udah capek banget ngurusin anak2nya itu. Makanya dah bodoamat aja, paham ga si? Yang sedih pas baca part dimana “kalo tau anaknya berisik gitu, kenapa mesti naik kendaraan umum?” Like, helloooo? It’s a public transportation
I’m sorry for you idiot. Don’t play victim, you still have alo headband, nike socks, stanley tumbler, an ipad, WHAT ELSE? Those Palestinians don’t even have safe place to live, or even clean water to drink. Think about it? How can they make your “safe house” shaking like that?
Aku dan cupcake ku kembali lagi! Kali ini bikin kue cokelat dan pakai strawberry untuk cream nya💕 spesial untuk ku yang kemarin ulangtahun. Dari aku, untuk aku.