Jawaban yg CERDASS, HALUS tapi MENOHOK !!!
Dari, Dr. Media Wahyudi Askar seorang dosen FISIPOL UGM
Ilustrasi yang beliau sampaikan sangat sederhana dan mudah dicerna, bahkan seperti bahasa bayi.
Kalau masih tidak bisa dipahami kok ya kebangetan gitu lho ...
Lagian di dalam bis nya banyak sekali tikus2 yang sangat menjijikan ๐ฑ
Jadi jangan hanya fokus ke sopir bisnya, tapi bisnya pun harus di masukkan bengkel dulu untuk di perbaiki biar tidak blong remnya karena kebanyakan di gerogoti tikus!
List yang tidak bayar pajak di Indonesia (DITANGGUNG APBN) :
โ Presiden dan Wakil Presiden
โ Menteri dan Wakil Menteri
โ Anggota DPR RI
โ Anggota DPD RI
โ Hakim
โ Pejabat negara lainnya yang diatur dalam peraturan perundang-undangan
โ ASN (PNS dan PPPK)
โ Anggota TNI
โ Anggota Polri
โ Pensiunan PNS/TNI/Polri yang pensiunnya dibayar APBN/APBD
Saya rangkum penjelasannya:
Negara menunggak hutang ke PLN.
PLN jadi kurang duit buat beli batu bara.
Sumber batu bara kurang -> pemadaman bergilir.
Pemerintah nunggak hutang kenapa??
Uang buat bayar hutang ini dari APBN.
Yang mana APBN paling banyak buat program mega bintang apa sodara sodara????
Yang belum tau, dia ini dosen Fisipol UGM sekaligus direktur di lembaga riset Celios. Namanya Mas Media. S2 dan S3 dari The University of Manchester.
Well spoken, data bagus lengkap, penjelasan meyakinkan, ngomongnya dengan penuh percaya diri tajam, kritis dan selalu based on data..
Rezim saat ini tuh persis kek bajingan licik. Janji makan gratis buat rakyat, tapi malah jadi bancakan korupsi + keracunan massal.
Kepala program dipecat, duit rakyat triliunan raib, sementara rupiah ambruk, bensin naik, dan lo lo pada disuruh 'sabar' wkwkwkwk.
Anjing, ini bukan pemerintahan, ini perampokan terstruktur pake jas militer.
Pimpinan sama simpatisan kok kompak sama sama denial? Tahana politik adalah kriminalisasi dan salah tangkap itu beneran ada. MBG mangkas anggaran pendidikan itu beneran ada. Guru kena efisiensi karena borosnya MBG itu beneran ada. Aparat ngisi pos sipil itu beneran ada. Publik marah kepada negara itu beneran ada. Mau denial apa lagi?
Guys, tadi gue ngobrol sama abang ojol di jalan.
Dan cerita dia ini menurut gue paling jujur dan paling menggambarkan dampak nyata dari kenaikan Pertamax yang katanya
"tidak akan mempengaruhi rakyat kecil karena cuma kelas menengah yang pakai".
Bohong besar.
Dan ini buktinya dari mulut orang yang merasakan langsung setiap hari.
Begini ceritanya:
Abang ojol ini bilang Pertamax naik, tapi yang justru paling kena dampaknya adalah Pertalite.
Bukan karena harganya naik.
Tapi karena permintaannya yang meledak.
Logikanya sederhana:
orang-orang yang biasanya isi Pertamax sekarang banyak yang pindah ke Pertalite.
Karena selisih harganya makin terasa di kantong.
Dan ketika jutaan kendaraan yang biasanya pakai Pertamax tiba-tiba beralih ke Pertalite stok di SPBU jadi tidak cukup.
Dan ini dampaknya yang langsung kena ke ojol:
Beberapa SPBU Pertalite-nya kosong.
Kadang ada, tapi harus antri 1 sampai 2 jam.
Dan abang ojol ini cerita yang paling bikin gue tertegun:
"Kalau mau subuh-subuh sebelum SPBU buka
kita udah antri."
Bayangkan.
Jam 4 pagi.
Sebelum matahari terbit.
Sebelum SPBU resmi buka.
Sudah ada antrian ojol yang menunggu giliran isi Pertalite.
Dan ini yang paling menyakitkan secara ekonomi:
Waktu antri 1 sampai 2 jam itu bukan waktu kosong.
Itu waktu yang seharusnya bisa dia pakai untuk dapat 2 sampai 3 orderan.
Buat ojol waktu adalah uang secara harfiah.
Setiap menit yang tidak dipakai untuk narik adalah pendapatan yang hilang.
"Emang sih Pertalite kagak naik.
Tapi dengan Pertamax naik ngaruh ke Pertalite."
Satu kalimat dari abang ojol ini lebih jujur dan lebih akurat dari seluruh pernyataan resmi pemerintah soal dampak kenaikan Pertamax.
Dan ini yang harus dipahami oleh siapapun yang bilang "kenaikan Pertamax tidak akan berdampak ke rakyat kecil":
Ekonomi itu sistem yang saling terhubung.
Tidak ada harga yang naik secara terisolasi tanpa efek domino ke harga lain.
Pertamax naik โ orang pindah ke Pertalite
โ permintaan Pertalite meledak โ stok di SPBU tidak cukup โ antrian panjang โ ojol kehilangan waktu produktif โ pendapatan ojol turun โ ojol harus narik lebih lama untuk dapat penghasilan yang sama โ waktu istirahat berkurang โ dan siklus ini terus berputar.
Yang dirasakan rakyat kecil bukan harga Pertalite yang naik di angka.
Yang dirasakan adalah waktu hidup mereka yang dicuri oleh antrian yang seharusnya bisa dipakai untuk cari nafkah.
Dan ini ironi yang paling pedas:
Pemerintah bilang Pertalite tidak naik jadi rakyat kecil tidak terdampak.
Tapi rakyat kecil yang menggunakan Pertalite setiap hari untuk cari nafkah sekarang harus berebut dengan jutaan orang lain yang baru pindah dari Pertamax.
Antri lebih lama.
Dapat orderan lebih sedikit.
Penghasilan harian berkurang.
Secara di atas kertas harga Pertalite memang tidak naik.
Tapi secara nyata di lapangan biaya hidup ojol naik.
Dalam bentuk waktu yang hilang, bukan dalam bentuk rupiah yang tertulis di pompa bensin.
Kebijakan yang terlihat baik-baik saja di atas kertas sering punya efek domino yang tidak pernah dihitung oleh orang yang membuat kebijakannya.
Karena mereka tidak pernah antri di SPBU jam 4 pagi.
Tidak pernah merasakan kehilangan 2-3 orderan karena harus nunggu giliran isi bensin.
Yang merasakan semua itu adalah abang ojol dan jutaan rakyat kecil lainnya yang hidupnya bergantung pada setiap menit waktu produktif yang mereka punya.
Dan selama kebijakan dibuat oleh orang yang tidak pernah merasakan langsung dampaknya di lapangan siklus ini akan terus berulang.
Harga di atas kertas mungkin tidak berubah.
Tapi hidup di bawah terus terhimpit.
Saat sekarang hampir semua pedagang merasakan kondisi penjualan sepi. Apalagi pelaku UMKM yang jualan hari ini untuk beli makan besok.
Jadi pemerintah cari ide baru nih.
"Gimana kalau kita buat para pedagang ini semakin pusing, stres kemudian gila"
Akhirnya mereka keluarkan peraturan baru
Kita mpertanyakan & menuntut Prabowo-Gibran atas kebijakan2nya yg alpa. Tapi, kita tidak lupa kerusakan ini juga disebabkan oleh rezim Jokowi yg memanfaatkan MK dg pamannya. KPK jg dirusak oleh solois itu. Mengeritik Prabowo-Gibran jg mngeritik Jokowi!
Kepada para pemimpin republik, kami orang muda bukan musuh bangsa ini. Jangan kerahkan tentara dan polisi untuk membatasi suara kami.
Ajak kami berdialog dan penuhi tuntutan kami. Kami bukan penyebab krisis, para pejabat brengsek itu adalah penyebab kekacauan ini.
situasi di lapangan tim logistik di jakarta
dalam aksi massa hari ini banyak dari kaum ibu ibu
buat yang haus atau lapar bisa datang
ke posko guys gratis
dari rakyat
untuk rakyat
tapi bukan pake duit rakyat
sumber:threadnadaarini
yukk ramein bersuara dengan postingan kek gini guys kalo belum bisa hadir di lapangan, kita penuhi medsos dengan ini
bisa ramein juga di plafrom sebelah
Indonesian President Prabowoโs $15B FREE school meals program is causing budget strain.
If that's not bad enough, it's been the source of food poisoning and corruption.
PRABOWO IS LOSING FISCAL CONTROL. THAT IS CREATING A CONFIDENCE PROBLEM AND A SINKING RUPIAH.
Purbaya bilang kenaikan Pertamax "dampaknya minim ke inflasi."
Ini kebohongan terstruktur yang dikemas jadi pernyataan pejabat. Dan kita disuruh percaya begitu saja.
Izinkan Bagong membongkar ini satu per satu.
32%. Dalam semalam.
Pertamax naik dari Rp12.300 ke Rp16.250 per liter. Hampir Rp4.000 lebih mahal. Dalam semalam!
Bayangkan gaji kamu naik 32% dalam semalam. Nggak pernah terjadi kan? Tapi harga BBM bisa. Dan kita disuruh tenang.
Argumen pemerintah kedengarannya masuk akal. Sampai kamu berpikir dua detik lebih lama.
"Pertamax bukan untuk angkutan barang. Bukan untuk angkutan umum. Jadi dampak inflasinya minim."
Pertanyaannya simpel: siapa yang pakai Pertamax?
Bukan cuma orang naik Alphard. Motor injeksi modern โ Vario 160, NMAX, Aerox, Beat terbaru โ wajib RON 92 ke atas. Motor yang sama dipakai jutaan driver ojol setiap hari. Setiap. Hari.
Ojol itu angkutan umum atau bukan?
Ketika harga BBM ojol naik, tarif ojol naik. Ketika tarif ojol naik, harga makanan yang dipesan naik. Ketika harga makanan naik โ itu namanya inflasi. Dan itu sudah terjadi bahkan sebelum pemerintah selesai konferensi pers.
Ekonom UPN Veteran Jakarta sudah bilang dengan jelas: "Kenaikan harga energi menjalar ke distribusi barang, transportasi usaha kecil, hingga mobilitas pekerja sehari-hari."
Ini bukan opini. Ini mekanisme ekonomi dasar yang tampaknya tidak dipahami orang yang seharusnya paham.
Ada yang lebih berbahaya dari inflasi langsung: migrasi konsumen.
Pertamax naik 32%, orang akan pindah ke Pertalite. Berapa banyak? Proyeksi: 26% pengguna Pertamax bakal downgrade.
Akibatnya, konsumsi Pertalite melonjak ke 30,6โ30,8 juta KL. Padahal kuota nasional hanya 29,26 juta KL. Kita melampaui kuota sekitar 5%. Artinya: antrean panjang di SPBU, kelangkaan, dan harga pasar gelap.
Dan "penghematan fiskal" yang diklaim pemerintah dari naiknya Pertamax? Langsung menguap. Kebocoran subsidi akibat migrasi ke Pertalite diproyeksikan mencapai Rp8,2โ9,4 triliun per tahun โ sekitar 40% dari total penghematan kotor. Hilang. Lenyap. Sia-sia.
"Yang pakai Pertamax kan cuma kelas atas." Benarkah?
Kelas menengah Indonesia sudah turun 9,48 juta orang sejak 2019. Daya beli sudah tergerus bertahun-tahun. Rupiah sudah loyo. PHK masih berjalan.
Dan sekarang BBM-nya naik 32%.
Ini bukan "dampak minim." Ini eksekusi daya beli secara sistematis terhadap kelompok yang sudah babak belur duluan.
Yang paling telak: orang dalam koalisi sendiri tidak bisa berbohong sekuat Menkeu-nya.
Ketua Komisi XI DPR โ bagian dari koalisi pemerintah โ berkata terbuka: "Kenaikan BBM biasanya selalu diikuti kenaikan inflasi. Pasti."
Satu kata. Pasti.
Kalau koleganya sendiri bicara "pasti," dari mana datangnya klaim "minim"?
Kenapa narasi "dampak minim" terus didengungkan?
Karena ada yang perlu ditutupi.
Kenaikan ini bukan semata soal harga minyak dunia. Ini soal ruang fiskal yang semakin sempit. APBN tertekan. Program MBG butuh dana besar. Beban utang harus dibayar. Dan Pertamax adalah jalan pintas yang paling mudah dijual ke publik dengan narasi: "Yang kaya yang pakai. Yang miskin aman."
Narasi yang rapi. Narasi yang nyaman. Tapi narasi yang tidak jujur.
Inflasi bukan hanya angka di kertas BPS.
Inflasi adalah pedagang bakso yang terpaksa naikkan harga semangkuk dua ribu perak. Driver ojol yang mulai hitung ulang apa masih worth it kerja hari ini. Ibu rumah tangga yang buka dompet di kasir dan pilih taruh barang satu-satu kembali ke rak.
Itu bukan "dampak minim."
Itu kehidupan nyata yang pejabat kita tidak mau lihat โ atau pura-pura tidak mau lihat.
Pejabat boleh bilang "tenang." Tapi data tidak bisa dibungkam.
DAN KEHIDUPAN NYATA SEMAKIN MENCEKAM
Efek MBG di stop sementara:
1. Harga telur turun jd 24k
2. Harga ayam turun jd 30k
3. Susu uht plain tidak langka
4. Rupiah menguat sedikit
5. IHSG cetak +5%
6. Tidak ada siswa keracunan
7. Para Ka SPPG yg joget2 di bogor, pada gigit jari
8. Guru jadi ga sibuk buang sisa makanan dan ngitung ompreng
Ini baru stop semntara dalam beberapa hari, ekonomi langsung lebih baik.
Apalagi STOP TOTAL?
SETUJU MBG STOP TOTAL?