@icebreacking Hay kak, aku cuman mau bilang di dunia lgbt tu susah bgt buat setia, saranku kita jangan sesekali percaya even sama pasangan, kalopun hs wajib pakai pengaman, stay safety and healthy ya, semangat
TIGA PEKERJA PERCETAKAN DI KALIBARU DI-RANTAI DAN DISEKAP 21 HARI, KELUARGA KORBAN TURUT DIPERAS!
Kasus dugaan penyekapan dan penganiayaan terhadap tiga karyawan sebuah usaha percetakan di kawasan Kalibaru, Senen, Jakarta Pusat, menjadi sorotan publik setelah video inspeksi mendadak (sidak) yang memperlihatkan kondisi para korban viral di media sosial. Peristiwa tersebut diduga berlangsung selama 21 hari dan kini mendapat pendampingan hukum dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Forum Pemuda Kalbar.
Berdasarkan informasi yang beredar, kasus ini bermula ketika salah seorang karyawan diduga melakukan pencurian. Karyawan tersebut disebut meminta dua rekan kerjanya menjual barang yang belakangan diketahui merupakan hasil pencurian. Kedua rekan tersebut mengaku tidak mengetahui asal-usul barang yang dijual.
Alih-alih menyerahkan persoalan tersebut kepada aparat penegak hukum, pemilik usaha diduga mengambil tindakan sendiri. Ketiga karyawan itu disebut diborgol, dikurung di dalam sebuah gudang sempit, serta kaki mereka dirantai menggunakan besi yang digembok sehingga tidak dapat bergerak bebas.
Kondisi para korban disebut sangat memprihatinkan. Mereka mengaku tidak diberi makan selama tiga hari berturut-turut pada awal masa penyekapan. Salah seorang korban bernama Adit juga mengaku mengalami kekerasan fisik berupa pemukulan yang diduga dilakukan oleh seorang mandor produksi bernama Alex.
Tidak hanya itu, pihak keluarga korban juga mengaku mendapat tekanan. Menurut keterangan yang beredar, orang tua masing-masing korban diduga diminta menyerahkan uang sebesar Rp50 juta sebagai syarat penyelesaian persoalan tersebut.
Kasus ini memicu perhatian luas karena tindakan menyekap, merampas kebebasan seseorang, melakukan kekerasan fisik, hingga dugaan pemerasan merupakan perbuatan yang dapat diproses secara pidana apabila terbukti. Di sisi lain, dugaan pencurian yang menjadi awal peristiwa juga seharusnya diselesaikan melalui mekanisme hukum yang berlaku, bukan dengan tindakan main hakim sendiri.
Hingga kini, LBH Forum Pemuda Kalbar menyatakan telah mengawal kasus tersebut agar dapat diusut secara tuntas melalui proses hukum. Sementara itu, belum terdapat keterangan resmi dari pihak kepolisian maupun pihak terlapor terkait kronologi maupun tuduhan yang beredar. Proses penyelidikan diharapkan dapat mengungkap fakta secara menyeluruh dan memberikan kepastian hukum bagi seluruh pihak yang terlibat.
INFORMACIÓN 🙏🏻 Encontraron a un niño con vida con su cuerpo enterrado y solo tenía la cabeza afuera, lo más conmovedor es que se quería ir en helicóptero pero no quería dejar a su mamá en el sitio, su mamá está tapiada totalmente. 😓💔😥, no puedo con tanto 😭
LANDJOETKEN . .....❗
Maling , Biar Diberikan AMANAH Tetap Saja
Otaknya otak MALING.
Beberapa Kontraktor yang Mengerjakan KOPDES ERAH OUTIH Mengakui Hanya Memperoleh Platfom Rp.800 Juta , Sedangkan Anggaran Yang sudah Ditetapkan Adalah
Rp. 1,6 M ---- 50% Menguap.
KEJAR - PECAT - PENJARA.
Uang siapa niih . .. . .?
SehatIndonesiaku
semakin ngobrol semakin ga percaya, karena mungkin ah dia ngibul kali,
sampe pada akhirnya dia nunjukin video mereka main,
yaps! gue makin shock dan terbesit “wah ga bener ni orang”
bisa bisanya tetep meladeni rasa penasaran nya para anak anak ini,
Kabupaten Bener Meriah, Provinsi Aceh, 6 Januari 2025.
Banjir dan longsor mungkin surut, tapi pemulihan pasca bencana juga harus jadi fokus seluruh elemen. Jaga gotong royong, warga jaga warga!
I must admit, on my “what keeps me awake at night and what we should all come together to tackle and really worry about” is this… where plants are gone and will never have a scientific name…
The principle of "social justice for all Indonesians" sounds like an empty slogan. Because there is no justice for the Papuan people. The most brutal Christmas gift from the government to the Papuan people is the deployment of soldiers to secure the destruction of Papua's nature