funfactnya adalah dr. Icha sudah melapor sejak 14 Juni. ke Badan Kehormatan DPRD, ke Dinkes TTU dan ke IDI.
semua jalur resmi sudah ditempuh. tapi yang membuat kasus ini akhirnya "bergerak cepat" bukan laporan itu, melainkan "kematiannya"
dinkes TTU memang sudah menyatakan keprihatinan sejak awal. tapi keprihatinan saja tidak menghentikan apa pun. tidak ada tindakan tegas dan konkret yang membuat dr. Icha merasa lebih aman untuk kembali bertugas.
RS Leona baru menemui Bupati untuk minta maaf, setelah dr. Icha meninggal dan kasusnya ramai di media, setelah izin operasionalnya terancam. bukan saat dokternya "masih hidup dan ketakutan" untuk kembali bekerja.
"dimana perlindungan RS terhadap dokternya??"
Golkar baru menugaskan pemanggilan kadernya hari ini. PKB baru berencana tabayun. Semua "akan", dan "baru menugaskan", serta baru "berencana".
kata- kata kerja masa depan, padahal kasusnya sudah berlangsung dua minggu sebelum dr. Icha menghadap yang kuasa.
sungguh miris "kepedulian itu baru muncul" setelah ada yang harus meninggal lebih dulu.
"apakah harus ada nyawa melayang dulu baru peduli?"
Ini pola yang lazim dan sering kita lihat di negeri ini. Institusi bergerak cepat untuk pemulihan citra, tetapi lambat untuk pencegahan.
surat keprihatinan dikirim cepat. izin RS dibekukan cepat. tapi perlindungan nyata, yang seharusnya hadir SEBELUM seseorang putus asa, "datang terlambat."
dr. Icha sudah melakukan semua yang seharusnya. Melapor lewat jalur resmi, mengikuti SOP, mencari pendapat dari yang lebih ahli, berusaha bertahan. sistem yang gagal menjaganya bahkan di tengah ia berusaha menjaga dirinya sendiri. beliau menjadi korban.
RS gagal melindungi karyawannya, dinkes gagal melindungi tenaga kesehatannya, IDI gagal melindungi anggotanya, badan kehormatan DPRD gagal membina anggotanya. MIRIS
Tangis Pilu Ibunda dr. Icha: Perpisahan Terberat Seorang Ibu untuk Anaknya
Testimoni langsung Ibunda Dr. icha:
“Kamu catat, saya anggota dewan komisi 3 yang membawahi kementerian kesehatan bla bla bla……..”
“Saat ini juga saya bisa berhentikan praktek kamu”
“Panggil wartawan”
“Mukanya ditunjuk tunjuk….”
Bayangin suasana suram di IGD tersebut, dan dr. Icha sudah mengaku ke ibunya dalam kondisi sangat ketakutan dan terintimidasi.
BPJS itu ibarat seorang suami...
Yang bilang ke istrinya,
"Mah, belanjanya bebas apa aja ya. Yang penting keluarga sehat."
Tapi uang belanjanya cuma Rp1 juta.
Akhirnya...
Daging nggak kebeli. Buah dikurangi. Susu harus pilih yang lebih murah.
Yang dimarahin siapa?
Istrinya.
Kadang saya merasa... Faskes dan nakes ada di posisi istri.
Diminta memberikan pelayanan terbaik. Tapi harus bekerja dengan anggaran yang sudah ditentukan.
Akhirnya pasien komplain ke dokter. Dokter komplain ke manajemen. Manajemen komplain ke BPJS.
Masalahnya, kebutuhan pelayanan terus naik, sementara sumber daya selalu terbatas.
Sistem kesehatan di negara mana pun pasti harus mencari titik temu antara kualitas layanan, jumlah peserta, dan biaya yang mampu ditanggung.
Jadi menurut saya, perdebatan kita seharusnya bukan cuma "siapa yang salah?"
Tapi...
Apakah ekspektasi yang kita inginkan sudah sejalan dengan anggaran yang kita sediakan.
Memurut mu gimana ?
In Indonesia 🇲🇨, there’s an unwritten rule:
when an image appears on the back of a truck, it means real support from the people.
Now look what’s on the move.. IRAN
The truckers’ movement in Indonesia is strongly standing with Iran.
This isn’t just a picture — it’s the voice of the people.
@bardanslm Toyota telanjur mengakar & investasi di ICE. Pernah ngobrol sama petinggi toyota, mereka masih anggap EV itu industri antara. Mungkin kedepannya hidrogen. Tapi sama aja, distribusi & infra nya malah lebih prematur dibanding EV.
Yg jelas, pabrikan jepang udah kalah momen.
@yappingfess Tiap menjelang natal malah kita semua dapat bonus tahunan yang jauh lebih gede dari THR. Emang gak dihubungkan sama natal sih, tapi selalu dijadwal sebelum libur natal (& thn baru). Padahal profit perusahaan juga belum closing.