pagi yg sangat hiks hiks hiks 😭😭
daridulu donor darah & MCU gapernah sekalipun sampe ditusuk berkali2" begini 😭😭😭😭😭
dah kl di malang BETTER ke RSSA aja!
rame sih, tapi at least nersnya pro.
untungnya ni lab deket setumpuk jd at least bs menghibur diri :")))
Sepupuku jaga kasir minimarket, shift malam. Pas tutup kasir, uang di laci kurang tiga ratus lima puluh ribu.
Dia hitung ulang empat kali. Tetep kurang.
Aturannya jelas dan udah lama dipake, selisih ditanggung penjaga shift. Gajinya sebulan satu juta sembilan ratus. Dia duduk di belakang konter, struk berhamburan di pangkuan, ngitungin lagi dari awal padahal udah tau hasilnya.
Supervisornya dateng jam sebelas malem, dipanggil lewat telpon.
Sepupuku udah siap dimarahin, udah nyiapin kalimat buat minta cicil. Yang keluar dari mulut supervisornya malah, "Struknya mana semua? Sini saya bantu."
Mereka berdua ngitung ulang bareng sampe jam satu pagi. Habis itu dia minta rekaman CCTV ke kantor pusat, sama log sistem kasir hari itu.
Tiga hari kemudian ketauan. Ada satu transaksi pulsa kecatat dua kali, uangnya masuk ke rekening provider, bukan ilang di laci.
Sepupuku nggak jadi ganti sepeser pun.
Yang bikin dia diem lama bukan itu. Supervisornya cerita, dia sengaja nahan laporan selisih itu ke pusat sampe semuanya jelas, biar nama sepupuku nggak kecatat di mana-mana.
Sekarang tiap ada anak baru masuk, supervisor itu ngajarin satu hal duluan, sebelum cara pake mesin kasir.
"Kalau ada selisih, panggil saya. Jangan dibayarin sendiri diem-diem."
Atasan yang baik bukan yang nggak pernah nyalahin. Tapi yang mau cari tau dulu sebelum nyalahin.
Sukma, Palu
cc wnmei_at
Hari ini aku kehilangan salah satu karyawan terbaikku.
Dia loyal. Jujur. Selalu bantu tanpa disuruh. Kalau aku lagi kewalahan ngurus customer, produksi, operasional, sampai drama proyek, dia orang pertama yang kepikiran buat aku panggil.
Bukan karena pilih kasih.
Tapi karena kalau dikasih tugas, dia langsung jalan. Nggak banyak tanya. Nggak perlu diawasi.
Sebagai owner, kadang itu yang paling dibutuhkan.
Ternyata…
Selama ini dia dibully sama beberapa karyawan lain.
Alasannya?
Karena mereka nganggep dia “cari muka” dan “anak emas bos”.
Padahal yang mereka lihat cuma hasilnya.
Mereka nggak lihat kalau setiap hari aku harus ngurus puluhan masalah sekaligus. Saat waktuku terbatas, tentu aku akan minta tolong ke orang yang bisa diandalkan.
Yang bikin hatiku makin nyesek…
Ternyata dia pernah WhatsApp aku buat cerita kalau dia dibully.
Dan aku nggak sadar. Pesannya miss aku baca. Dan aku menyepelekan bahwa “nanti juga bakal baikan lagi”
Aku baru tahu semuanya setelah dia memutuskan resign dan pulang ke luar pulau.
Rasanya campur aduk. Selain aku mikir bahwa akan kewalahan lg, hrs training lagi, kyk udah males dan ga ada waktu buat nemuin satu orang yang sama sama gila kerja.
Selama ini aku pikir tantangan terbesar dalam bisnis itu customer yang komplain, supplier yang telat, proyek yang molor, atau cash flow.
Ternyata…
Yang lebih bahaya adalah budaya kerja yang pelan-pelan rusak tanpa kita sadari.
Aku selalu percaya kalau karyawan yang rajin akan jadi contoh. Tapi ternyata, di beberapa lingkungan, justru orang yang rajin malah dijauhi.
Orang yang kerja cepat dibilang cari muka.
Orang yang membantu bos dibilang penjilat.
Padahal mungkin dia cuma sedang bekerja sebaik mungkin.
Hari ini aku belajar satu hal.
Sebagai owner, kita nggak cuma bertanggung jawab menghasilkan profit.
Kita juga bertanggung jawab memastikan orang baik di perusahaan merasa aman.
Karena kalau orang-orang baik memilih pergi…
Yang tersisa belum tentu orang-orang terbaik.
Kalau bisa mengulang waktu, mungkin hal pertama yang akan kulakukan adalah membaca pesan itu lebih cepat, dan perbaiki situasinya
Semoga di tempat barunya, dia dihargai seperti yang seharusnya.
Dan semoga aku bisa memperbaiki budaya di perusahaan ini, supaya kejadian seperti ini nggak pernah terulang lagi, dan bisa ngehandle banyak karyawan yang sifatnya beda2 .
cc : jeslinajoeng
@Paksatpamgalak Makanya harus punya prinsip *Kalo gak bisa beli pake cash, berarti emang belum saatnya.*
Tabung aja dulu, gak usah gengsi. Hidup sesuai kemampuan dan berhemat. Karena hutang tuh dibawa mati, rasulullah aja gak mau loh nyolatin orang yang masih punya hutang.
hidup itu selalu punya cara buat ngasi kamu kesempatan baru, bahkan setelah semuanya terasa hancur. it's never too late to rebuild, to forgive yourself, and to try once more.
setiap pagi, setiap matahari terbit, itu bukti kalau kita masih dikasi waktu buat mulai lagi. untuk menyusun ulang hal-hal yang dulu sempat bikin kita jatuh tapi kali ini, dengan versi diri yang lebih sadar dan lebih lembut.