Pernahkah kamu bertanya? Ke mana perginya data medis kamu setelah berobat? 🤔
Data kesehatan adalah bagian mendasar dari hak asasi manusia dan privasi digital. Sebuah gerakan bersama hadir untuk mendorong sistem kesehatan yang lebih adil dan aman.
Pernahkah kamu sadar ke mana perginya data kesehatan kamu setelah berobat?
Hadirilah Peluncuran Kampanye:
"MY DATA OUR HEALTH: Dari Data Saya Untuk Kesehatan Bersama"
✨ Segera daftar acara gratis dan inspiratif ini melalui: https://t.co/eVK7VwBTKY
Sadly, ini ada benernya 🥺
Peringatan keras buat temen2 yg suka mendem emosi/perasaan secara kronis, alias berlama2 mendem, ga diungkapin, dst.
Ada penelitian yg ngehubungin semua itu dg risiko kematian dini yg lebih tinggi dibanding mereka yg mampu nyalurin emosinya dg baik :(
Teman-teman dokter, teman-teman nakes.
Jas putih yang kita kenakan, seragam rumah sakit yang melekat di tubuh kita, sejatinya adalah pakaian penetral emosi.
Saat seragam itu dipakai, kita sedang mengingatkan diri sendiri bahwa segala lelah, kecewa, marah, dan segala tekanan yang kita rasakan, ada tanggung jawab besar untuk tetap bersikap profesional.
Karena selelah-lelahnya menjadi tenaga kesehatan, percayalah, masih lebih melelahkan menjadi pasien.
Sakit itu Tidak Enak.
Badan terasa asing. Pikiran penuh ketakutan. Waktu berjalan lebih lambat. Bahkan bagi kita yang setiap hari bekerja di rumah sakit, sejujurnya menjadi pasien adalah salah satu hal yang paling kita takuti.
Kita memahami keterbatasan fasilitas. Kita tahu rumitnya sistem rumah sakit dan BPJS. Kita mengerti perpindahan kamar membutuhkan proses. Kita tahu padatnya IGD, rumitnya rawat inap, dan betapa banyak hal harus dikerjakan dalam waktu bersamaan.
Kita tahu semua itu.
Tapi pasien kan enggak.
Pasien hanya melihat keluarganya kesakitan. hanya ingin mengetahui apa yang sedang terjadi, berapa lama harus menunggu, dan apakah ada seseorang yang sungguh peduli kepada mereka.
Sering kali, cukup kata-kata kita,
“Mohon maaf ya, Pak, Bu. Saat ini prosesnya masih berjalan. Kami masih menunggu kamar tersedia. Perkiraannya sekitar satu jam (atau berapapun jam) lagi. Kami akan terus memberi kabar.”
Bagi orang yang sedang takut kejelasan adalah bentuk kasih sayang.
Nada suara yang lembut adalah obat pertama. Penjelasan yang apa adanya itu membuat menunggu terasa lebih manusiawi.
Hubungan kita dengan pasien tidak dibangun seperti hubungan atasan dan bawahan. Kita adalah partner. Kita berdiri di sisi yang sama, bahu-membahu melawan penyakit.
Kita mengerjakan bagian kita dengan ilmu, keterampilan, dan hati. Pasien menjalankan bagiannya dengan kepercayaan, keberanian, dan kesabaran.
Keduanya sama-sama berjuang.
Dan ketika perjuangan itu berhasil, ketika seorang pasien sembuh dan akhirnya pulang, kembali memeluk keluarganya, kembali bekerja, kembali menjalani hidupnya, itu perasaan BAHAGIA yang tiada dua.
Itulah salah satu alasan kita memilih jalan ini.
Lalu ketika ada pasien menyampaikan keluhan di media sosial, bahkan ketika nama rumah sakit atau BPJS ikut disebut, mengapa kita harus begitu mudah tersulut?
Mengapa kelelahan kerja harus dituangkan menjadi kata-kata yang kejam dan jahat?
Lelah dapat dipahami. Marah dapat terjadi. Frustrasi adalah bagian dari hidup.
Namun Merendahkan pasien, Mempermalukan orang yang sedang sakit, atau melontarkan kalimat yang melukai martabat manusia, tidak memiliki pembenaran dari sisi mana pun.
Pasien kan salah satu jalan datangnya rezeki kita.
Allah selalu mengirimkan rezeki melalui tangan manusia. Dan rezeki kita, para tenaga kesehatan, datang melalui manusia yang sedang sakit, takut, rapuh,dan membutuhkan pertolongan.
Maka sesungguhnya pasien adalah ladang karunia kita.
Melalui mereka, ilmu kita memiliki arti. Melalui mereka, tangan kita dapat menolong. Melalui mereka, kesabaran kita dilatih. Melalui mereka pula, terbuka begitu banyak kesempatan untuk mendapatkan pahala.
Jadi ayo kita sayangi pasien-pasien kita.
Bagi kita, mungkin mereka adalah pasien ke empat puluh hari itu.
Namun bagi mereka, hari itu mungkin adalah salah satu hari paling menakutkan dalam hidupnya.
Pertolongan kita harus selalu dimulai dari rasa kemanusiaan.
Abis nemu tulisan bagus banget✨️✨️
"Apa yg tidak sampai ke telingamu, itulah cara Allah menjagamu. Apa yang sampai lewat mulut orang lain, itu cara Allah mengujimu. Dan apa yang sampai langsung dari pelakunya itulah cara Allah beri kesempatan agar hatimu belajar memaafkan."
Intinya ga ada satu pun takdir Allah yang buruk, semua baik dan semua ada hikmahnya.
Kasian mah jangan sama politisi. Mereka bisa berkarir lagi. Kasian tuh sama dirimu sendiri. Besok mau makan apa? Biaya hidup dicari bagaimana? Nggak usah berlebihan. Penting belajar isu politik, tapi jangan mau jadi korban politikus. Kagum sewajarnya. Sisakan sisi kritis lebih banyak adanya.
I'll be attending the amazing CAFÉ Climate and Health Conference 2024. Let me know if you're planning to attend so that we can say Hi! 👋
Or register now and join me at the event! https://t.co/wIazjclOMV
#climatehealthcafe - via #Whova event app https://t.co/wIazjclOMV
[DICARI RESPONDEN PENELITIAN!]
Kami mengundang Dosen / Tendik / Mahasiswa (diploma, sarjana, dan pascasarjana) aktif di seluruh Sekolah dan Fakultas UGM untuk berpartisipasi dalam survei penelitian minuman berpemanis dengan mengisi kuesioner berikut: https://t.co/VDMvBKI4ci
[DICARI RESPONDEN PENELITIAN!]
Kami mengundang Dosen / Tendik / Mahasiswa (diploma, sarjana, dan pascasarjana) aktif di seluruh Sekolah dan Fakultas UGM untuk berpartisipasi dalam survei penelitian minuman berpemanis dengan mengisi kuesioner berikut: https://t.co/VDMvBKI4ci