BREAKING!
Warga Papua Selatan hari ini resmi gugat Menteri Kehutanan RI, Raja Juli Antoni, yang keluarkan Surat Keputusan (SK) No. 591 berisi rencana mengubah 486 ribu hektare tanah adat mereka jadi PSN Pangan dan Bioenergi.
Gugatan ini jadi bukti bahwa “Pesta Babi” adalah realita yang terjadi di Papua Selatan hari ini. Di mana kebijakan negara jadi alat legitimasi pemusnahan ruang hidup masyarakat.
Kenapa warga menggugat?
Baru saja mengorbankan rasa malu demi mendapat tomoro frieren 12 ribu itu...
Tapi setelahnya, aku bilang ke mbak kasir:
"Mbak minumannya nggak usah, tolong kasih ke pelanggan berikutnya, atau untuk mbaknya sendiri"
Kenapa?
Karena pahlawan Himmel akan melakukan hal yang sama
most men mistakenly think that a woman's greatest fear is loneliness. You're 100% wrong. her greatest fear is getting married, having children, becoming a domestic servant, living a boring and miserable life with a worthless husband, and realizing She wasted her time with you. She wants a life filled with purpose, growth, and genuine happiness on her own terms. The real fear is losing herself in a life that was never truly hers to begin with.
Awalnya gua kira nonton short video di HP itu bisa menjadi pengisi waktu luang. Tapi setelah baca jurnal ini, gua baru tau efeknya bisa berbahaya untuk otak.
Penelitian dari Tiongkok ini meneliti 48 orang, terus dilihat kebiasaan mereka nonton short video, lalu dicek fungsi atensi & kontrol diri, didukung juga dengan pemeriksaan EEG.
Hasil penelitian ini cukup bikin gue kaget antara lain:
-Semakin sering nonton short video, semakin turun kemampuan otak buat kontrol diri
-Fungsi eksekutif otak, terutama atensi, juga menurun
Short video ternyata berasosiasi dengan overstimulasi dengan karakteristik cepat, singkat, dan penuh reward instan. Lama-lama otak jadi kebiasaan butuh stimulus cepat, sehingga bikin fokus jangka panjang makin susah.
Yang menarik dari studi ini adalah:
Semakin tinggi tingkat kecanduan (adiksi) untuk menonton short video di smartphone, berasosiasi dengan semakin rendah tingkat pengendalian diri (self control)
𝗞𝗘𝗦𝗜𝗠𝗣𝗨𝗟𝗔𝗡
Kebiasaan nonton short video ternyata berkaitan dengan penurunan self-control dan turunnya fungsi eksekutif otak, terutama kemampuan atensi.
Guys, Bu Rani Anggrini Dewi konselor pernikahan 25 tahun lebih, sudah menikah 44 tahun bilang sesuatu yang menurut gua adalah penjelasan paling nyesek yang pernah gua dengar tentang kenapa banyak perempuan menyesal setelah menikah.
Dan ini bukan opini.
Ini dari orang yang setiap hari duduk berhadapan dengan pasangan-pasangan yang pernikahannya sedang hancur.
Jawabannya satu kalimat
mereka masuk ke pernikahan
tanpa tahu siapa diri mereka sendiri.
Dan begitu mereka masuk
semua yang membentuk identitas mereka sebelumnya karir, mimpi, ambisi,
pengembangan diri pelan-pelan hilang.
Bukan karena dirampas.
Tapi karena struktur pernikahan
yang mereka masuki memang tidak dirancang
untuk menampung itu semua.
Bu Rani bilang polanya sangat konsisten dari ribuan kasus yang dia tangani.
Perempuan menikah.
Anak lahir.
Semua fokus beralih ke peran sebagai ibu dan istri.
Pengembangan diri berhenti.
Dan di suatu titik entah dua tahun kemudian atau sepuluh tahun kemudian mereka bangun dan bertanya siapa saya sekarang?
Saya sudah S1,
saya pernah kerja,
saya punya mimpi.
Sekarang saya cuma masak
ngurus anak, dan menunggu suami pulang.
Dan yang membuat ini sistemik dan bukan hanya nasib buruk individu adalah satu fakta yang Bu Rani sebut dengan sangat tegas orang tua Indonesia sekarang sudah sadar untuk menyiapkan anak perempuannya.
Mereka kirim ke universitas terbaik.
Dorong untuk berkarir.
Ajarkan untuk mandiri secara finansial.
Tapi mereka lupa menyiapkan anak laki-lakinya.
Hasilnya adalah collision yang tidak bisa dihindari. Perempuan yang sudah berkembang menikah dengan laki-laki yang masih membawa mindset bahwa suami harus dilayani, urusan rumah tangga dan anak adalah urusan istri, dan suami harus selalu lebih tinggi dari istri dalam segala hal.
Dua orang dengan level perkembangan yang sangat berbeda masuk ke satu institusi.
Dan perempuannya yang selalu diminta untuk menyesuaikan diri ke bawah bukan laki-lakinya yang didorong untuk naik ke atas.
Dan ini yang paling menyakitkan dari seluruh cerita ini. Banyak perempuan yang menyesal bukan karena suaminya jahat.
Bukan karena pernikahannya penuh kekerasan.
Tapi karena perlahan-lahan tanpa ada satu momen dramatis yang bisa ditunjuk sebagai titik balik mereka kehilangan diri mereka sendiri.
Dan begitu mereka sadar bahwa yang hilang itu tidak bisa dikembalikan oleh siapapun termasuk oleh suami yang mencintai mereka itulah penyesalan terdalam yang Bu Rani temui dalam kasusnya setiap hari.
perempuan yang menyesal setelah menikah bukan perempuan yang salah pilih pasangan.
Mereka adalah perempuan yang masuk ke struktur yang tidak pernah dirancang untuk menampung mimpi mereka.
Dan selama struktur itu tidak berubah selama anak laki-laki tidak disiapkan dengan cara yang sama dengan anak perempuan angka penyesalan itu tidak akan turun.
“Dunia ini cukup untuk kita semua”
Aku tiba-tiba ingat kata Psikologku (iya, Psikolog juga ke Psikolog), begini katanya:
“Nell, kita semua itu punya peran masing-masing. Tidak semua orang harus ‘bersinar’ dengan intensitas yang sama.
Ada Psikolog yang terkenal, kayak xx tapi ada juga yang nggak, kayak saya.
Tapi kalau orang yang biasa-biasa aja kayak saya gak ada terus yang ngelayanin kamu konsul siapa?
Dunia ini cukup untuk kita semua.”
Pas dengar itu, aku merasa…lega. Separuh rasa cemasku mereda di tengah-tengah perkuliahan yang bikin aku merasa gak percaya diri dengan kemampuanku.
Aku membandingkan diriku dengan teman-teman lain yang menurutku hebat-hebat sekali. Ditambah standarku memang tinggi. Aku takut tidak jadi “apa-apa”, tidak dapat tempat.
Pelan-pelan aku mulai menata diriku lagi. Semuanya tidak harus sempurna. Aku hanya perlu tetap jalan.
Toh, secara objektif “biasa-biasa”nya aku sebenarnya buat orang lain itu bagus, tidak ada masalah.
Sampai sekarang, aku masih perlu mengingatkan diriku secara berkala,
“Setiap orang punya sinar yang berbeda, seperti bintang. Ada yang terlihat terang dan besar, ada juga yang kecil. Namun, keduanya sama-sama cantik dan penting.”
Hari ini pun aku mengingat kembali, aku mungkin tidak jadi musisi andal seperti Mozart tapi musikku cukup untuk anak-anak. Mungkin juga untuk sobat twitterku.
Dunia ini cukup untuk kita semua. Aku harap, kita yang lagi merasa tergesa-gesa bisa mengingat ini 💛
Himmel sedekahkan harta untuk bangun jembatan yang ga akan dia lewatin, karena ketika jembatannya selesai dia udah meninggal.
Setiap yang lewat jembatan itu, pahala juga mengalir ke Himmel sebagai amal jariyah.
Himmel masuk surga.
pernah baca kalo hubungan ibu dan anak perempuan tuh emg complicated.
mereka saling ngerti sebagai perempuan, saling cinta sebagai anak ortu tapi entah bagaimana, juga saling menyakiti tanpa disadari.
kemarin denger sepupu yg lg ngobrol sama nyokap bilang “kita nih naluriahnya kalo cinta sama seseorg, pasti selalu ada rasa ingin memiliki. entah cinta ke pasangan maupun ke anak.
tapi yg banyak org gatau dan belum mampu, kalo rasa cinta itu ga cuma soal ingin memiliki, tapi tau kapan saatnya ‘melepaskan’
orang tua tuh mesti belajar ‘melepaskan’ anak dengan dunia mereka. kasih mereka kepercayaan. kasih mereka lepas.
betul, kita sebagai orang tua pasti ada rasa khawatir anak kita bakal kenapa napa. tapi coba biarin mereka belajar buat ngadepin masalahnya sendiri. apalagi kalo anaknya udah nikah”
disitu gue tertegun. iya ya. banyak org cinta yg tau rasanya ngejer utk ngedapetin hal tsb. tapi gatau kapan saatnya utk ‘ngelepas’ ketika waktunya dateng.
Karena kamu gatau struggle nya orang yang ditanyai. "Kapan lulus" while they're barely surviving college, "kapan nikah" when they're desperate to find love. You could've asked "gimana kabarnya? Lagi sibuk apa?" Lebih berbobot and shows that you actually CARE about that person.
Guys Prabowo baru ngomong sesuatu yang menurut gw perlu digarisbawahi tebal tebal.
Dia mengaku punya data intelijen soal pendana pengamat yang mengkritik pemerintahannya.
Gw mau lo pikir ini baik baik.
Bukan soal benar atau salah kritiknya.
Bukan soal siapa pengamatnya.
Tapi soal apa artinya ketika seorang presiden secara terbuka mengakui bahwa dia memantau dan punya data tentang orang orang yang mengkritik rezimnya.
Di negara demokrasi yang sehat kritik itu bukan ancaman.
Kritik itu fungsi.
Tanpa orang luar yang menilai tidak ada cermin yang jujur untuk pemerintah.
Karena anak buah tidak akan bilang yang sebenarnya. Mereka bilang oke gas oke gas terus. M
ereka angguk terus.
Bukan karena setuju tapi karena itu yang aman untuk dilakukan.
Dan kalau satu satunya orang yang berani bilang ada yang salah justru direspons dengan gw punya data tentang lo dan siapa yang bayar lo maka pertanyaannya bukan lagi soal siapa yang benar. Pertanyaannya adalah apakah orang berikutnya masih mau angkat bicara setelah tahu risikonya.
Ini yang paling berbahaya dari pernyataan itu.
Bukan karena datanya ada atau tidak.
Tapi karena efek intimidasinya nyata terlepas dari apakah datanya valid.
Orang yang tadinya mau ngomong jadi dua kali pikir. Pengamat yang tadinya mau kritis jadi hitung hitung dulu.
Dan pelan pelan ruang kritik menyempit bukan karena dilarang secara resmi tapi karena tidak ada yang mau menanggung risikonya.
Kalau kritiknya salah buktikan dengan data dan argumen yang lebih kuat.
Kalau kritiknya benar introspeksi.
Itu cara demokrasi bekerja.
Bukan dengan sinyal bahwa orang yang mengkritik sedang diawasi dan didata pendananya.
Pernyataan bahwa MBG tetap dibagikan saat libur Lebaran bahkan dimajukan tanggal 17 Maret terdengar lebih seperti kepanikan proyek daripada kepedulian program.
Libur sekolah, anaknya di rumah.
Tapi MBG tetap harus jalan.
Kenapa?
Karena kalau berhenti seminggu saja, rantai bisnisnya ikut libur.
Kalau memang tujuannya membantu gizi anak, kenapa tidak diberikan tunai saja ke orang tua?
Lebih sederhana.
Lebih fleksibel.
Lebih masuk akal.
Tapi tentu saja…
kalau tunai, terlalu banyak pihak yang kehilangan “jatah operasional”.
Jadi jangan heran kalau program ini dipaksa tetap jalan bahkan saat libur.
Karena yang takut “anak kehilangan gizi” mungkin sedikit.
Yang takut aliran uang berhenti seminggu, kemungkinan jauh lebih banyak.
Singkatnya:
Ini bukan lagi soal makan bergizi.
Tapi soal proyek yang tidak boleh berhenti, bahkan saat sekolah libur.
Buat yg muslim, kita tau ya guys ini diceritain di hadits. Jumlahnya pun juga 70.000 & kalo memenuhi ketentuan tertentu, katanya Dajjal is coming
Tapi ku penasaran deh, apalagi sentimen World War III yg kenceng bgt kayak sekarang. Ada ga yang pernah kepikiran kayak gini juga:
Banyak kan ya ajaran Islam yg terbukti/proven ratusan-ribuan tahun kemudian setelah diturunkan, terutama dr ayat-ayat Al-Qur’an. Kadang, ku kepikiran. Gimana kalo para ilmuwan/pembenci Islam yg punya resource dan power kayak para zionis ini secara sengaja spend waktu buat mempelajari Islam & kitab Al-Qur’an, terus ngelakuin segala larangan dan apa skenario-skenario kiamat yg bisa kejadian. Jadi, mereka secara sengaja ngerancang itu semua? Entah buat nakutin muslim, atau ya power psywar nunjukin kalo mereka lah yg berkuasa di bumi ini
Ditambah, skrg tanda-tanda kiamat kecil yg dulu sering diceritain di pelajaran agama sekolah juga kok rasanya udah checklist semua ya..
Ada yang pernah kepikiran gini ngga? Sebagai yg ilmu agamanya cetek banget, ku mau dong berdiskusi. Koreksi kalo ada yg salah 🙏🏻
frieren!merch INI LUCU BANGET frieren baru aja rilis 2WAY Blanket
Desain bolak-balik (dua sisi) dan bisa dipake jadi selimut biasa, atau dikancingin untuk dipakai as poncho / jubah buat “cosplay” frieren tipis-tipis 😆👌🏻
yang goblok-goblokin rakyat udah balik lagi jadi wakil rakyat, ga ada yang berubah pasca agustus, yang ada justru ratusan kawan-kawan kita yang jadi kambing hitam dan masih menjalani persidangan hari ini.