raffi nagita nyadar ga si, LO ANCURIN SISTEM PEMERINTAHAN DIEM-DIEM DENGAN MASUKIN ORANG YANG GA KOMPETEN
AYOLAH MASSA BERGERAK, MASA IYA BUMN KOMISARIS DIISI MANTAN ASISTEN MEREKA????
"Jangan asal beli buku Tan Malaka!
Zen RS bongkar kesalahan fatal puluhan penerbit yang merusak sejarah aslinya."
"Banyak buku Tan Malaka yang beredar ternyata cacat terjemahan? Ini alasan kenapa kamu sering pusing pas baca bukunya!"
Zen RS dalam sebuah podcast yt Asumsimenegaskan bahwa buku Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia) yang ditulis oleh Tan Malaka adalah dokumen tertulis pertama dalam sejarah yang secara eksplisit menggunakan dan mencetuskan istilah "Republik Indonesia", jauh sebelum Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya.
Zen RS membongkar kekeliruan fatal dari belasan versi buku Naar de Republiek yang beredar di pasaran. Banyak penerbit tidak mencantumkan nama penerjemah karena mereka tidak riset dan tidak tahu bahwa buku asli tersebut aslinya ditulis oleh Tan Malaka dalam bahasa Belanda yang sangat akademis dan berlapis-lapis, bukan bahasa Indonesia.
Misreading Terhadap Buku Madilog (Bukan Sekadar Ilmu Logika)
Terjadi misreading (salah baca) massal di kalangan anak muda terhadap buku Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika). Banyak yang mengira Madilog hanyalah panduan agar cara berpikir menjadi rasional atau logis. Padahal bagi Tan Malaka, Madilog dibentuk sebagai senjata/perangkat berpikir revolusioner bagi kaum buruh dan murba untuk melakukan perubahan sosial dan aksi nyata.
Zen juga memberikan formula membaca semesta pemikiran Tan Malaka. Jika Madilog mengajarkan cara berpikir (fondasi) dan Masa Aksi/Gerpolek mengajarkan taktik di lapangan (praksis), maka buku Naar de Republiek adalah jembatan emas di antara keduanya. Buku ini jauh lebih ringkas, dibandingkan Madilog, dan tidak setebal buku Dari Penjara ke Penjara yang mencapai 900 halaman.
Melalui riset arsip kolonial, Zen menemukan bahwa pemerintah Hindia Belanda sangat ketakutan dengan buku ini. Kepala Reserse Hindia Belanda (A.E. van der Lely) dalam laporan intelijennya menyebut buku ini sebagai dokumen rencana pemberontakan dan rencana perang yang sangat lengkap, hingga media internasional kala itu menjulukinya sebagai "Rencana Perang Tan Malaka".
Buku Naar de Republiek memuat cetak biru (blueprint) dan program nasional yang sangat komprehensif. Bayangkan, 20 tahun sebelum proklamasi 1945 berkumandang, Tan Malaka sudah merancang secara detail bagaimana sistem militer dan kurikulum pendidikan jika Indonesia merdeka nanti. Tidak ada tokoh pergerakan lain di zamannya yang mampu berpikir sejauh itu.
Dalam podcast ini Zen juga membacakan kutipan langsung dari bagian belakang buku yang ditujukan khusus untuk kaum intelektual. Buku ini aslinya ditulis dalam bahasa Belanda karena sasarannya adalah kelas menengah ke atas yang punya banyak pengetahuan tapi minim pemahaman terhadap penderitaan massa. Tan Malaka memperingatkan kaum intelek agar tidak hanya menjadi pajangan (performative) sebelum mereka dibuang oleh kapitalisme kolonial seperti sepah tebu.
Selengkapnya baca aja deh langsung bukunya Tan Malaka - Naar De Republiek yang diberik catatan kritis oleh Zen.
Ah kagak. Gak ada spesial2nya dari dulu juga. Malah termasuk salah satu kampus yg demennya cari aman. Isinya banyak oportunis dan orang2 cari karir dari aktivisme.
Imbas rupiah melemah, harga obat naik 10-20 persen.
Orang desa memang tidak pakai dolar wo, ntar kalo pidato lagi jangan bilang orang desa gak pakai obat ya. Plus pidato selanjutnya wajib pakai teks
PAGI INI TERJADI KEKERASAN OLEH TNI‼️
Peristiwa mencekam dimulai pada pagi hari sekitar pukul 06.50, ketika rombongan aparat TNI tiba di wilayah RW 10 Lenteng Agung. Di tengah situasi yang mulai mambandangi kecemasan, pada pukul 07.20, beberapa warga perempuan berinisiatif untuk
Alerta Alerta!
Warga RW 10 Lenteng Agung dan Mahasiswa mendapatkan kekerasan dari beberapa Anggota TNI dalam upaya penggusuran paksa pagi ini.
Hentikan Kekerasan!
Kedatangannya di massa aksi cuma nongol, foto yang keren cekrek, cabut, redam situasi di medsos, upload foto lagi nongol tadi, “duh anjing foto gw nongol di massa aksi ini keren banget udah bisa dianggap sekelas Munir”