CATATAN PRIBADI PASCA PROSES CAPIM KPK
semalam saya dan keluarga berefleksi bersama dan anak saya bilang, “this is probably the way god protects you.” 😄
saya sendiri melihat keikutsertaan saya dalam proses pencalonan pimpinan KPK ini sebagai ‘eksperimen politik’. meski saya sadar sejak awal bahwa kans saya tidak besar, saya sangat serius. mulai dari menyiapkan berkas, mendaftar, menulis paper, hingga mengikuti semua tes yang demikian melelahkan — lelah hayati dan rohani 🤭
mesti saya akui, bahwa proses tes berjalan relatif baik. misalnya di tes tertulis, penyusunan soal dan formasinya bagus. soal-soalnya tidak pilihan ganda, tidak menjebak, bersifat menggali pendapat. memang ada soal yang secara fair akan memetakan pilihan/sikap politis dan bisa jadi seperti “saringan”. misalnya pandangan tentang pelemahan KPK. saya jawab apa adanya. itu mengapa saya pikir saya sudah akan tersingkir di awal. ternyata tidak - saya lolos.
lanjut ke tahap berikut: critical assessment. ini yang melelahkan. tes dua hari. pelaksana tes adalah konsultan psikologi. sehari full di’hajar’ dengan assessment psikologis yg memang melelahkan pikiran. dari pagi sampai malam. hari berikutnya interaksi dalam kelompok: paparan, debat, leaderless group discussion, game (yang serius), dan diakhiri wawancara dgn psikolog selama 2.5 jam. harus saya akui, tes ini sangat serius. tujuannya: memetakan apakah ada ‘traits’ untuk mampu menjabat di tingkat nasional. karena selama tes saya apa adanya, nyolot dalam diskusi, debat, ditanya psikolog malah saya tanya balik 😜, saya menduga saya terhenti di situ. eh, ternyata saya lolos lagi.
tahap berikut adalah tes kesehatan. raga dan jiwa. di RSPAD. saya alhamdulillah dinyatakan sehat raganya, meski saya yakin jiwa terguncang melihat kekacauan republik 😂. tapi kata dokter, kesimpulannya: bisa menjalankan tugas memimpin KPK jika terpilih. catatan: RSPAD ini yang bertanggung jawab meloloskan para capres kemarin 🤭. jadi saya bercanda ke dokternya, “saya mau tahu yg dianggap tidak mampu itu seperti apa.” dia ketawa ..
setelah tes kesehatan, sampailah pada tahap terakhir. wawancara. dilakukan secara terbuka, dihadiri publik, di gedung III setneg. yang mewawancara 9 pansel plus 2 orang pakar: dadang trisasongko dan taufiqurrachman ruki. pertanyaannya langsung: pandangan tentang jokowi, apakah 02 atau 03, TPN atau TKN, setuju atau tidak KPK dilemahkan, apa strategi jika terpilih, pandangan ttg korupsi parpol, duit selama ini dari mana, rekening apa saja, klarifikasi transfer mencurigakan.
dan saya jawab semua. pandangan saya tentang jokowi, pilihan politik saya, pandangan saya ttg pelemahan KPK, strategi saya jika terpilih (penguatan pencegahan mulai dari kebijakan dan perencanaan pembangunan serta penguatan kapasitas dan integritas KPK), perlunya parpol membuka catatan keuangan, saya jelaskan semua sumber pendapatan. intinya semua saya jawab langsung, lugas, tuntas, apa adanya. tidak ada jawaban normatif, berbelit-belit.
usai wawancara, saya mbatin: this is it. mungkin 'perjalanan' saya akan berakhir di sini. mengapa? mungkin karena saya dilihat terlalu blak-blakan apa adanya. mungkin karena terbaca tidak mau kompromi. mungkin karena strategi pemberantasan korupsi yang saya ajukan dinilai terlalu idealis. mungkin. bisa jadi juga mungkin dianggap tidak 'kompatibel' dengan pendekatan pemberantasan korupsi yang akan diambil ke depan. atau, mungkin saya dianggap tidak kompeten - profil saya tidak cocok memimpin KPK. tapi apapun itu, saya tahu, saya mungkin 'outlier' dari antara yang diwawancara.
jadi, ketika diumumkan dan nama saya tidak ada dalam list 10 nama untuk diajukan presiden ke DPR, saya tidak terkejut sama sekali.
proses pencarian capim KPK sudah berakhir bagi saya. to be fair, menurut saya proses ini berjalan relatif baik. tidak sempurna, tetapi not bad. saya dua kali jadi pansel: pansel pemilihan komisioner KIP (komisi informasi pusat), dan direksi BPJS kesehatan. proses capim KPK ini jauh lebih rigid. pansel tidak sempurna, seperti kritik banyak orang, itu jelas. mana ada yang sempurna. tapi saya tahu pansel sudah bekerja keras dan berusaha semaksimal mungkin mencari orang-orang terbaik, meski pada akhirnya mungkin tidak bisa lepas dari kompromi politik. apapun itu, saya sangat menghargai kerja keras pansel.
terima kasih atas dukungan dan doa rekan-rekan selama ini.
Did you notice the elegant woman in red sitting in the tamari-seki seats on senshuraku?
She's "Mrs. Devi"--or Dewi Sukarno the (Japanese-born) 84-year-old widow of the former president of Indonesia, Sukarno.
For decades, Dewi Sukarno was, without contest, one of the world's most glamorous and controversial celebrities who, after her husband's government was overthrown and his subsequent death in 1970, lived in different countries including three years in Switzerland, 10 years in France, and another decade in the United States. She returned to Japan in 2008 and lives in Shibuya, Tokyo.
Asked by reporters who she predicted would win the May tournament, Mrs. Sukarno replied,
"I've been rooting for the Sadogatake stable for about thirty-five years, so it will be Kotozakura."
👨🏫🐥CONBINI HISTORY🐥👨🏫
The name 7-11 refers to the store’s original operating hours: 7AM-11PM. In 1975 it transitioned to 24-hours. How many drunken nights has a 7-11 saved you from oblivion? The toilet receives a surge of vomit after too many Strong Zeroes or a case of Pocari Sweat with two nikuman keeps a hangover at bay.
But 7-11 did more than just pioneer new products and service hours. Behind the scenes 7-11 developed breakthrough operations. In 1978 it began mixed deliveries, whereby trucks picked up products from multiple suppliers to simplify logistics. Previously, it dedicated one truck to one supplier, which led to up to 70 trucks delivering to one store every day. It must have been chaos.
Of even greater significance was the introduction of the Point-of-Sale (POS) system in 1982. Barcodes and computers enabled management to precisely order every item. Stores would have exactly what customers wanted when they wanted it.
It’s worth mentioning that the father of the Toyota Production System, Taiichi Ohno, took on 7-11 as a client after he left Toyota in a fury following leadership’s decision to anoint the finance guy as president in 1978 instead of him. Full of anger he established a company called NPS – New Production System – whose mission was to become a business force even greater than Toyota. It didn’t quite work out that way. But Ohno and his right-hand man, Kikuo Suzumura, did terrorize some Japanese executives into competence, including 7-11’s. Their tactics were not in the model of Amy Edmonson’s “safe spaces”. In his fabulous account of the consultancy New Production System author Isao Shinohara describes Suzumura bringing a CEO to the top shelf of his warehouse racks and telling him to jump off to kill himself because he was too stupid to run his company.
I don’t think it’s a coincidence that 7-11 began mixed deliveries in the same year Ohno left Toyota. After all, it’s a practice Toyota pioneered and Ohno likely oversaw if not conjured up himself. I can imagine an angry Ohno telling the then 7-11 president to drown himself in the oden tank because anyone allowing 70 trucks to hit every store every day was too dumb to run a company.
I leave you with this thought: walk and, if you fall, get up. Walk with a purpose; train every day of your life. Let us walk in hope, look to our roots, and strive ahead fearlessly. https://t.co/dOcJBubSFW
The Holy Spirit is the source of joy, born of our relationship with God, from knowing that we are not alone, lost or defeated even amid struggles and dark nights, because He is with us. We can overcome everything with God, even the abyss of pain and death.
To rise again, to start anew, to take up the journey, we always need to return to Galilee, that is, to go back to the living, concrete and palpable memory of our first encounter with him.