Temen gue dulu anak trisakti, pernah sekali kit aksi bareng. Gue dan yang lain pulang ke rumahnya, orangtuanya dua duanya dokter spesialis, rumahnya pake ac central, masuk rumah disambut bibi, kami pulang dianter sama supir pribadinya. Di meja makan pas makan,
Kita kelas menengah ke bawah bersuara karena terdampak, menegah ke atas karena empati. Yang anomali, "still prabowo". Alias gue gatu otaknya pada dimana.
Saya mau cerita sedikit tentang anak saya, mahasiswa TRISAKTI yang kemarin ikut demonstrasi. ❤️
Lagi ramai tuduhan mahasiswa yang turun ke jalan itu bayaran 100 ribu. Nah, saya jadi ingin ikut cerita. 😅
Anak saya 19 tahun. Latar belakang pendidikannya dari sekolah internasional, dan sekarang menjadi mahasiswa Universitas Trisakti.
Alhamdulillah, selama ini kami mampu memberikan pendidikan yang baik, kehidupan yang nyaman, dan memenuhi segala kebutuhannya.
Ketika dia bilang ingin ikut demonstrasi, saya tidak melarang. Justru saya SUPPORT PENUH!
Lucunya, bukannya pulang membawa uang, dia malah chat minta emaknya isi e-wallet karena takut ATM-nya dibekukan. YA SAYA TRANSFER DONG! 🤣
Tidak lama kemudian dia mengirim pesan:
“Doain Ma, aku takut asline.” 🥹
Bahkan sempat bertanya, “Nek ditangkep?”
Saya jawab, “Tak bebasin!” 🤣
Sebagai ibu, tentu saya khawatir. Tapi di balik rasa khawatir itu, saya justru merasa bangga.
Bangga karena anak saya tidak hanya belajar di ruang kelas, tetapi juga belajar peduli terhadap apa yang terjadi di negaranya.
Saya bisa memberikan pendidikan terbaik yang saya mampu, kehidupan yang nyaman, dan segala fasilitas yang dibutuhkannya. Tetapi saya tidak ingin semua kenyamanan itu membuatnya tumbuh menjadi manusia yang tidak peduli terhadap keadaan orang lain.
Jadi ketika ada yang begitu mudah menuduh mahasiswa yang turun ke jalan sebagai mahasiswa bayaran, saya cuma bisa tersenyum.
KALAU SOAL SIAPA YANG BAYAR ANAK SAYA, JAWABANNYA SAYA, EMAKNYA SENDIRI! 😭🤣
Saya yang membiayai pendidikannya. Saya yang memberikan uang sakunya. Saya yang mengisi e-wallet-nya. Dan saya pula yang deg-degan menunggu dia pulang.
Tapi satu hal yang tidak pernah saya beli adalah HATI NURANINYA.
Anak saya tidak perlu turun ke jalan demi uang 100 ribu. Dia ikut karena punya kepedulian dan ingin menyuarakan aspirasi yang diyakininya.
Tidak semua anak yang hidup berkecukupan tumbuh menjadi pribadi yang apatis. Dan tidak semua mahasiswa yang turun ke jalan pantas dituduh bayaran.
Bagi saya, keberhasilan mendidik anak bukan hanya ketika kita mampu memberikan kehidupan yang nyaman, tetapi ketika di tengah segala kenyamanan itu, anak tetap memiliki empati terhadap kehidupan orang lain.
Dari seorang ibu yang bangga, sekaligus deg-degan menunggu anaknya pulang dengan selamat. ❤️
UANG SAKUNYA DARI EMAKNYA, TAPI IDEALISME DAN HATI NURANINYA MILIK DIA SENDIRI! 🇮🇩❤️
#trisakti
orang-orang yg terbiasa nenteng hermes, parfum dior, rambut selalu dikeramasin orang lain aja speak up soal rejim bangsat ini, lah elo cekout nunggu tanggal kembar aja sok still prabowo, ngedabrusssss…..
sebenci bencinya gua sama 02 voters gua paling benci paling jijik sama 02 voters yg decide untuk bungkam sampe detik ini atau bahkan masih ngebela ketololan orang-orang pilihan mereka, presiden lu bakar rakyat ajg lo tinggal sejengkal lagi dibakar hidup hidup sama mereka
KENAPA SI HARUS DEMONYA DI BUNDARAN HI ??!!! ‼️‼️‼️‼️
HI tuh tujuan demonya kemana ya? Kalo di depan gedung DPR kan istilahnya demo ke anggota DPR, demo depan istana tuh demonya ke presiden. Kalo demo di HI tuh ada apa di situ yak?
KARENA..
di HI itu pusat perkantoran, jantung perdagangan global, banyak investor asing disana, banyak pula orang" asing yg bekerja disana.
Ketika ada sesuatu yg mengarah kepada protes kebijakan/aksi pemerintah, seluruh mata didunia tau dan lihat langsung aksi dijalanan, dan langsung menyebar ke internet penjuru dunia.
Sama hal nya seperti yg menempel spanduk kemarin di patung bunderan HI