@lookasz14@tanyarlfes Kenapa semua nya harus utk yg gak mampu?
Kalau kaum medioker, emang gak boleh dapet bantuan apa2, bukan dgn cuma2 lo setiap bantuan yg kami terima, kami harus berusaha ini itu juga utk dapet 'bantuan'. Huft, suka sebel deh ๐ฎโ๐จ
Dan Alhamdulillah, skg, aku sangat menyakini kalau Islam itu agama yg luar biasa dan aku mengakui sbg seorang muslim, bukan hanya krna aku terlahir sbg seorang muslim, tapi memang aku memutuskan untuk memilih menjadi seorang muslim. Rasanya di hati sgt beda, masyaAllah โบโจ
Dulu, aku beragam dan beribadah, yaa karna aku terlahir sebagai seorang muslim. Namun, makin lama, aku mulai mempertanyakan "Kenapa begini dan begitu?". Long story short, aku baca dan nyari tau ini itu-nya dan nemu banyak jawaban atas pertanyaanku โจ
imo, kehidupan dewasa yang sesungguhnya adalah saat diri kita mulai suka agama kita sendiri dan mulai banyak momen 'ohhh karena ini' Islam mengatur atau kasih hukum x terhadap perkara y.
imo, kehidupan dewasa yang sesungguhnya adalah saat diri kita mulai suka agama kita sendiri dan mulai banyak momen 'ohhh karena ini' Islam mengatur atau kasih hukum x terhadap perkara y.
@saptaipb Ini bener bgttttt, aku dari dulu suka misah2in sampah brdasarkan kategorinya. Eh pas datang Bapak sampahnya, di gabung semua ๐ญ
Jdi, skg, yg bsa ku kumpulin, ku kumpulin dulu, ntar kasih ke pemulung/organisasi yg bsa ngolah sampah gtu ๐ฅฒ
Halo.
Saya sering memakai kereta api untuk perjalanan rutin Semarang-Jakarta, dan sebaliknya. Di kereta, saya sering mendapati contoh seperti ini.
Dan salat seperti ini: tidak sah (jika yang dikerjakan adalah salat fardu).
Pertama, semangat shalatnya patut diapresiasi. Tapi harus diketahui bahwa salat itu ada fikihnya, dan contoh di bawah ini bisa jadi melewatkannya.
Berdiri (qiyam) adalah rukun salat fardu. Kecuali si Mas salat sunnah, maka tidak perlu berdiri (meski bukan di kereta, salat sunnah dengan duduk diperbolehkan).
Maka berdiri, meskipun sedang di kendaraan apapun (termasuk kereta), masih menjadi wajib bagi orang salat. Fikih menjelaskan: jika kalian mampu berdiri, ya wajib berdiri.
Ada pengecualian, tapi sempit:
1. Kalau kendaraannya terlalu bergoyan sehingga berdiri benar-benar membahayakan kalian,
2. Tidak ada ruang sama sekali untuk berdiri, atau
3. Khawatir waktu salatnya habis sementara turun tidak mungkin.
Sebagai pengguna setia KAI, saya cukup tahu betul umumnya sudah ada musala yang bersih di gerbong dekat restoran.
Kalau ada musala, dan fisiknya si Mas mampu berdiri, maka salat di kursi penumpang seperti ini: belum sah menurut kebanyakan ulama (jumhur).
Sekali lagi, niat si Mas sudah benar, dan harus diapresiasi.
Tinggal mengubah caranya saja.
๐
Gw mau ngomel agak panjang. Monggo dibaca.
Dalam supply-demand, ketika supply naik, harga jadi turun.
Hal yang sama terjadi pada IPK tinggi dan cum laude.
Kalau semua orang cum laude, maka cum laude berhenti jadi istimewa.
Ketika terlalu banyak lulusan berpredikat cum laude, nilai IPK sebagai sinyal kualitas jadi turun "marwah"-nya.
Gw pernah liat wisuda suatu kampus, rektornya dengan bangga mengumumkan rata-rata IPK adalah 3,65.
Peserta sidang wisuda tepuk tangan.
Gw bingung karena implikasinya jadi ada beberapa kemungkinan:
1. >50% mahasiswanya pintar sekali
2. Kurikulumnya super mudah
3. Dosen2nya mengamalkan hadits "Barangsiapa memudahkan urusan orang lain yang sedang kesulitan, Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat" di dunia perkuliahan alias Dosen Bonus
Fenomena ini ga langka, malah cukup aman disebut "jamak", yaitu: Fenomena "false signalling"
Semua orang tampak unggul di transkrip, tapi memble saat uji kompetensi di dunia nyata.
Sama halnya di level wajib belajar 12 Tahun. Mulai jarang gw dengar cerita anak tidak naik kelas. Tapi justru makin sering terdengar berita anak SMA tidak bisa perkalian dasar.
Balik lagi ke soal IPK.
Kalau terlalu banyak orang cum laude, predikat itu berhenti jadi istimewa. Nilai IPK sebagai sebuah indikator sinyal : disiplin, kualitas kognitif, dan pencapaian akademik, jadi turun nilainya.
Market akhirnya mencari sinyal lain yang relevan: portofolio, sertifikasi, prestasi, pengalaman, atau balik lagi dari mana kampus asalnya.
Gw gatau bagaimana cara mengakhiri omelan ini, masih panjang sebenernya. Dan gw pun enggak tau solusinya mulai dari mana. Tapi gw cuma mau bilang:
"Ketika sistem pendidikan berhenti menjadi juri yang jujur, Market menghukum dengan berhenti percaya"
[Omelan ini terinspirasi setelah baca tulisan Guru Besar UGM Eduardus Tandelilin di bawah ini]
@chocosuswals Please jgn pernah ambil/makan hak yg bukan punya kita, krna percaya deh, nanti Allah bakal ngambil "hak" tsb dgn cara yg gk pernah diduga dan lebih dari yg pernah diambil.
Udah bnyk bgt ini contohnya dududu
Ternyata masalah di Selat Hormuz ini, ada efek yang lebih luas yang berpotensi lebih parah lagi, dan akan datang dari arah yang gak kita sangka.
Let me explain.
Ini bukan sekedar masalah minyak yang gak bisa dikirim dari Timur Tengah ke Asia/Eropa.
Minyak bumi tu masalahnya banyak sekali produk sampingan dan turunannya. Dan produk-produknya tadi, sangat vital di berbagai industri.
Jadi kita gak akan berhadapan dengan "harga bensin naik" doang
Coba kita list satu-satu ya
(Mungkin gak lengkap, pasti ada yang miss, tapi baca aja, biar kalian pada tau potensial chaosnya)
PRODUK TURUNAN MINYAK
LPG - sekitar 1.5 juta barel per hari. LPG ini kunci utama buat penghangat dan masak di berbagai negara di Asia, termasuk Indonesia dong. Di Eropa, LPG juga masih dipakai buat penghangat (ada yang LNG juga).
Biaya masak nambah, berarti biaya makan nambah dong?
Naphtha - 1.2 juta barel per hari. Nafta adalah produk turunan yang nanti diolah jadi PLASTIK, serat sintetis, deterjen, sampai bahan kimia pelarut, dll. Setau saya, Asia Timur sudah mulai kekurangan banget. Ditambah kalau gak salah belum lama Chandra Asri, salah satu perusahaan penghasil produk turunan minyak bumi di Indonesia sudah kibar bendera putih.
Implikasinya? Harga consumer goods kayak packaging, baju, bahkan elektronik karena komponennya banyak plastik juga
Produk turunan lainnya - diesel, avtur, dll. Ya kalau ini udah jelas ya. Ongkos transportasi di mana-mana bakal naik. Dan transportasi ini gak cuma buat manusia, tapi juga barang-barang, logistik, dll
Selain minyak, masalahnya daerah teluk juga merupakan eksportir lainnya. Seperti LNG (liquifed natural gas) dan lainnya
Qatar adalah salah satu eksportir LNG terbesar. Dengan sekitar 20% suplai LNG dunia yang dikirim lewat laut. Gas alam ini udah naik berapa puluh persen sejak 1 bulan lalu. Ini jadi masalah di Eropa, karena penghangat dan listrik banyak juga yang pakai LNG
Daerah teluk juga merupakan eksportir PUPUK, mulai dari urea, amonia, dan fosfat. 16-18% ekspor global yang lewat laut, berasal dari sini.
Implikasinya: kesulitan MENANAM bahan pangan. Berarti harga pangan naik. Terutama di India, Brazil, Cina
PUNCAK MASALAH YANG OVERLOOKED.
Dari proses minyak dan gas, ada produk sampingan berupa SULFUR.
Daerah teluk mengekspor 44-50% sulfur yang dikirim lewat laut. Kalau ini bermasalah juga, maka kelangkaan sulfur bisa naik 2 kali lipat.
Apa implikasinya?
Asam sulfat adalah salah satu bahan industri yang wajib banget
Ketegangan di Selat Hormuz bakal menghantam industri-industri yang bergantung sama asam sulfat
1. Sebagai pupuk. Sulfur penting dalam produksi pupuk. Udah pupuknya sendiri makin susah dapet, sekarang buat produksi pupuk sendiri juga udah susah
2. Ekstraksi logam
Sulfur dibutuhkan di industri COPPER (tembaga), NIKEL, COBALT, LITHIUM.
Tandanya apa?
Tembaga = buat elektronik. Elektronik bakal kena impactnya
Nikel, cobalt, Lithium: Buat batre. Mau batre yang biasa dipake buat senter, sampai batre mobil listrik
3. Manufaktur
Ini yang penting, terutama di jaman AI
Sulfur diperlukan buat manufaktur SEMICONDUCTOR.
Berarti ini potensinya makin mahal aja GPU bang
Penutup:
Saya gak mau banyak komentar.
Beberapa sektor bisa jadi bullish
Beberapa komoditas bisa jadi bullish
Tapi kalau efeknya ke semua harga naik karena kelangkaan, lama-lama chaos juga
@giIangmahesa Inilah alasan aku klu ngluarin zakat langsung ke penerima di kampung mama/papa, jd tepat sasaran insyaAllah dan kadang mereka yg di kampung2 gtu gak terjamah utk dapat zakat hiks
Izin sharing sedikit,
- mamiku lulusan S2 M&B di LN & lulusan S2 HI di ๐ฎ๐ฉ dan skrg lanjut kuliah S3. Fyi mamiku jg kerja kantoran dari sblm nikah sampai skrg, simpelnya mami wanita karir yg sukses dan mandiri.
- papiku lulusan SMK dan punya lebih dari 3 gelar profesi (non-akademik), kerja di perusahaan tambang, ngelajanin bbrpa bisnis, well papi pekerja keras.
kalo diliat sekilas, pendidikan mami sama papi tuh jauh bgt. Tapi papi gk prnh ngerasa kecil, papi slalu banggain mami di kolega2nya, full support mami, bhkn papi yg ngerekomendasiin mami lanjut kuliah setinggi yg mami mau. Hampir setiap bisnis trip atau acara papi slalu make sure ngelibatin & ngajak mami.
mostly org2 ketika tau ttg mami pasti slalu ngira mami dominan dibanding papi. Pdhl sebaliknya, mami justru paling manja ke papi dibanding kita anak2nya. Like everything harus sama papi, yups mami princess di rumah ๐
dan yeah, dari mami sama papi aku belajar kalo you have to marry someone yg gk prnh nganggep km itu saingan. Krna ketika menikah kita sdg membentuk keluarga bkn sdg berkompetisi which one better, masyaAllah๐ค
@fandalisme Pernah deact IG saat lagi S2 karena gak siap di tanyain pertanyaan yg aku sendiri gk tau jawabannya ๐ฅฒ
"Gimana perkembangan studi nya?"
"Lulus kapan?"
"Gmn penelitiannya?"
Trauma dan takutnya ada banget ๐
Boleh bgt kok "di babat dan keruk aja semuanya". Kan kita napas pake UANG, bukan oksigen. Klu cuaca ekstrim terjadi dan berefek bencana, gpp bgt kok, asal para kapitalis dapet UANG. Kita mah apa atuh, hanya bagian dari "Takdir Tuhan" ceunah ๐
Hallo @IndiHomeCare@IndiHome
Sudah beberapa hari ini, internet di rumah saya lemot bgt bgt bgt ๐ญ
Padahal kecepatannya udah ditingkatin jadi 100 Mbps dan ini yg make saya doank, tp lemot bgt ๐ญ
Tolong perbaikin donk~