Do’anya cantik banget :
“Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari ketidakpastian masa depan, dari keputusan yang keliru, dari perihnya kenyataan, dari pahitnya kekecewaan, dari hati yang berbolak balik, dari penghianatan manusia dan cinta yang salah.”
Dulu sblm nikah, rasanya pengen cepet2 ndang nikah biar segera angkat kaki dr rmh.
Eh setelah nikah rasanya pengen plg trs, krn selalu kangen Mama. Tiap mau balik ke rmh sendiri setelah dr rmh Mama tuh rasanya sedih kaya gimanaaaaa gt, huhu dasar aku🥹
Rumput tetangga memang selalu terlihat lebih hijau. Tp yg harus diingat, se-hijau2nya rumput tetangga pasti ada telek kucing tersembunyi di dalamnya.
Se-perfect2nya hidup manusia, pasti ada ujian baginya yg tdk kita ketahui. Sooo ojok kemalan iri dengki y ges😌🙂
Emg bener ya, rezeki setelah punya anak itu masyaAllah bgt. Baru bs ngerasain pas udh ada anak, dulu taunya cmn dr kata org2. Alhamdulillah skrg udh bisa buktiin sendiri🥹🤲🏼
Interesting how wars are named after the country attacked: Vietnam War, Iraq War, Afghanistan War, Iran War... That's because if they were named after the attacker, it would be too confusing, since 80% of conflicts would be called the US war.
Menurut gw, having a child itu keputusan yang paling sakral dalam hidup manusia. Bahkan daripada menikah.
Karena kita menghadirkan satu jiwa baru lagi di dunia yang seperti ini. Yang one day kita akan lepasin gitu aja, sementara kita jg akan dimintai pertanggungjawaban.
Sayangnya, banyak orang mikir punya anak sekadar ngelahirin, ngasih makan, udah.
Padahal tiap manusia punya kebutuhan dasar dan banyak hak, sampai aspirasi dan cita2 yang menurutku parents musti turut bertanggungjawab.
Sebelum dollar nyentuh 17k ada yang nawarin pendidikan dan internet gratis dan kita malah milih makan bergizi gratis, itupun makanannya dominan ga bergizi serta banyak yang keracunan.
Pernyataan bahwa MBG tetap dibagikan saat libur Lebaran bahkan dimajukan tanggal 17 Maret terdengar lebih seperti kepanikan proyek daripada kepedulian program.
Libur sekolah, anaknya di rumah.
Tapi MBG tetap harus jalan.
Kenapa?
Karena kalau berhenti seminggu saja, rantai bisnisnya ikut libur.
Kalau memang tujuannya membantu gizi anak, kenapa tidak diberikan tunai saja ke orang tua?
Lebih sederhana.
Lebih fleksibel.
Lebih masuk akal.
Tapi tentu saja…
kalau tunai, terlalu banyak pihak yang kehilangan “jatah operasional”.
Jadi jangan heran kalau program ini dipaksa tetap jalan bahkan saat libur.
Karena yang takut “anak kehilangan gizi” mungkin sedikit.
Yang takut aliran uang berhenti seminggu, kemungkinan jauh lebih banyak.
Singkatnya:
Ini bukan lagi soal makan bergizi.
Tapi soal proyek yang tidak boleh berhenti, bahkan saat sekolah libur.