Ini yang gw gak suka
Pernah sadar gak? Kalo pemerintah mau naikin harga BBM, mereka bisa umumin malam ini, dan besok paginya jam 00.00 harganya langsung berubah. Negara bisa langsung nyelametin APBN detik itu juga.
Tapi giliran gaji pekerja? Berdasarkan aturan (kayak PP 36/2021 atau PP 51/2023), penyesuaian UMR itu cuma diketok satu tahun sekali di awal tahun.
Jadi kalau BBM naik lagi di bulan September, lu harus nanggung boncos biaya hidup selama berbulan-bulan sampai nunggu penyesuaian gaji tahun depan.
Dan ingat, kenaikan gaji tahun depan pun dihitung pakai rumus inflasi masa lalu yang kebanyakan ditekan angkanya biar pengusaha gak merasa rugi
Pekerja dipaksa nombokin selisihnya pakai keringat sendiri.
Udah gitu kenaikan upah riil pekerja (upah yang udah dikurangi inflasi bahan pokok) itu cuma di kisaran 1% doang.
Artinya, daya beli lu sebenarnya mandek atau malah drop.
Gak ada guna nya 😭
Aduhhh kerjaan gw kan gak lepas dari motor yah 😭 yaudah lahh mau gimana lagi.
Hukum Fisika dalam Pengereman Kereta Api.
Rasanya pilu banget denger berita kecelakaan Argo Bromo Anggrek dan KRL di Stasiun Bekasi Timur kemarin malam. Banyak keluarga yang tiba-tiba harus menerima kabar yang tidak mereka bayangkan sebelumnya. Aku turut berduka buat semua yang terdampak.
Di tengah duka itu, banyak yang mulai bertanya-tanya di kolom komentar: kenapa masinis tidak langsung ngerem? Kok bisa sampai tidak keburu berhenti?
Sebelum buru-buru menyalahkan, ada beberapa hal yang perlu kita pahami dulu. Soal fisika, soal inersia, momentum, dan energi.
Kereta api itu berat banget, satu rangkaian kereta jarak jauh beserta isinya bisa mencapai ratusan ton. Di sini, konsep fisika bernama inersia dan momentum masuk.
Inersia itu sederhananya adalah "keengganan" sebuah benda untuk mengubah kondisinya. Kalau diam, maunya tetap diam. Kalau bergerak, maunya tetap bergerak. Semakin berat bendanya, semakin besar inersianya, semakin susah kondisinya diubah.
Kita semua pernah ngerasain ini. Waktu naik motor dan tiba-tiba ngerem, badan kita reflek maju ke depan. Itu inersia. Tubuh kita "enggan" berhenti padahal motornya sudah berhenti.
Nah, kalau Momentum itu muncul saat sebuah benda mulai bergerak. Momentum adalah gabungan antara seberapa berat benda itu dan seberapa cepat dia melaju.
Nah, bayangkan itu terjadi pada benda seberat ratusan ton yang melaju di atas rel, dengan kecepatan tinggi. Sebesar apa momentumnya?
Momentum sebesar itu tidak bisa hilang begitu saja dalam hitungan detik, harus dilepaskan pelan-pelan lewat gesekan rem ke roda, dan roda ke jalan.
Nah, masalah berikutnya, roda kereta terbuat dari besi dan relnya juga besi. Gesekan antara keduanya jauh lebih kecil dibanding ban karet mobil di atas aspal.
Desain ini memang bikin kereta bisa melaju dengan efisien, tapi juga susah berhenti cepat. Kalau rem dipaksa sekuat tenaga, roda malah terkunci dan kereta akan tergelincir dan meluncur di atas rel, bukannya berhenti.
Kombinasi dari dua hal tadi menghasilkan jarak pengereman yang panjangnya bikin kaget. Kereta yang melaju 100 km/jam bisa memerlukan jarak lebih dari 1 kilometer untuk berhenti dengan aman. Masinis sudah harus mulai mengerem jauh sebelum halangan terlihat jelas.
Di kasus Bekasi kemarin, begitu KRL terhenti mendadak karena insiden taksi, Argo Bromo yang ada di belakangnya hampir tidak punya cukup jarak untuk bereaksi. Baru sebagian informasi sampai, sinyal langsung merah (sepertinya menandakan kereta sudah harus berhenti).
Investigasi masih berjalan, di kondisi duka ini, kita jangan menyalahkan siapapun.
Secara fisika, ini menunjukkan betapa kompleksnya keselamatan kereta api. Sistem sinyalnya, jarak amannya, semuanya dirancang karena kereta tidak bisa berhenti mendadak.
Makanya, kalau kamu lagi di perlintasan rel dan kereta sudah kelihatan, jangan coba-coba melintas. Masinis sudah pasti ngerem sekuat yang dia bisa. Tapi hukum fisika tidak peduli seberapa keras dia mencoba.
⚠️BUS BANTUAN TJ DIHADANG SUPIR ANGKOT DI BULAN BULAN BEKASI
Lagi kejadian musibah gini kok masih sempet2nya main hadang2an angkutan ya, nanti kalo evakuasinya selesai juga udahan kok. 😥
📷: Miyanagi Deswira
@mas_triadhianto@txtdrbekasi
Terdengar empatik, tapi bodoh.
Gini lho bu menteri, kecelakaan kereta itu nggak selalu tabrakan depan-belakang.
Jika terjadi anjlokan akibat masalah wesel atau patah rel, gerbong tengah yg justru bisa mengalami efek teleskopik yg juga sangat mematikan.
Lagian gini lho, ini soal crowd management. Gerbong khusus perempuan itu di ujung tujuannya membantu memisahkan arus penumpang laki2 dan perempuan sejak di peron stasiun. Jika gerbong khusus perempuan diletakkan di tengah, bakal sangat kacau saat jam2 sibuk.
Kalau solusinya cuma pindah gerbong, menjauhkan satu kelompok dari zona bahaya berarti secara menteri ini sangat sadar utk menempatkan kelompok lain (laki-laki dan penumpang umum) di zona maut.
Benar2 komentar nggak etis dalam konteks keselamatan publik. Bukannya ngepush utk meningkatkan standar keamanan, malah pindah gerbong.
Heran, anggota kabinetnya prabowo ini kok banyak banget yg nggak mutu dan absun kek gini.
Saya komentar agak ndakik-ndakik ya Kak. Salah kaprah jika kita mengukur pendidikan hanya dari sudut kegunaan langsung (immediate applicability).
Pendidikan adalah fondasi, bukan alat kerja langsung. Sekolah bertugas membangun fondasi kognitif (pengetahuan dasar & cara berpikir) yang nanti akan “dihidupkan” di jenjang yang lebih tinggi atau di konteks spesifik karier.
Contoh macam praktikum kimia di SMA (seperti menentukan sifat larutan asam-basa dengan lakmus, indikator, atau pH) bukan dirancang supaya kamu bisa langsung bikin sabun atau pupuk di rumah. Tujuannya justru mengajarkan metode ilmiah.
Tidak semua alumni IPA harus jadi ilmuwan. Tapi semua warga negara perlu literasi sains minimal supaya tidak mudah dibohongi hoax, iklan palsu, atau kebijakan pseudosains. Kalau semua mata pelajaran harus “langsung kepake”, pendidikan jadi sempit dan justru bisa berbahaya.
Wacana penutupan program studi yang dianggap tidak relevan dengan industri ini memunculkan pertanyaan dan kekhawatiran.
Ada kebijakan yang tampak efisien dalam jangka pendek, tapi bila tidak hati-hati, justru membelokkan arah perjalanan bangsa dalam jangka panjang. Sambil menunggu informasi lengkapnya, izinkan berbagi tentang paradigma ilmu murni dan ilmu terapan ini.
Ilmu murni kerap dipandang jauh dari praktik. Seolah berdiri di menara gading, tidak menyentuh denyut kebutuhan industri. Padahal, di sanalah akar dari hampir seluruh inovasi yang kita gunakan hari ini berasal. Rumus-rumus yang tampak abstrak, teori-teori yang dulu dianggap “tidak berguna”, justru melahirkan teknologi yang kini kita anggap keniscayaan.
Kita menikmati internet, kecerdasan buatan, hingga kemajuan di bidang kesehatan, tapi tak selalu ingat bahwa fondasinya dibangun oleh para ilmuwan yang bekerja tanpa kepastian aplikasi. Mereka meneliti bukan berbasis permintaan pasar, tetapi karena keingintahuan memahami bagaimana dunia bekerja.
Kita perlu ingat bahwa relevansi tidak selalu bisa diukur dalam horizon waktu yang pendek. Apa yang hari ini tampak tidak terkait industri, bisa jadi esok hari menjadi tulang punggungnya.
Negara yang hanya menyiapkan tenaga siap pakai, tanpa melahirkan pemikir-pemikir dasar, berisiko terjebak sebagai pengguna belaka. Kita menjadi pasar, bukan pencipta. Kita mengimpor solusi, alih-alih menghasilkan jawaban dari dalam negeri dan membaginya kepada dunia.
Lebih jauh lagi, kebijakan publik yang kuat juga lahir dari pemahaman dasar yang kokoh. Mulai dari ilmu epidemiologi (berbasis matematika dan biologi dasar) yang berjasa besar saat pandemi, lalu ilmu lingkungan (ekologi dan geofisika) dalam menghadapi bencana perubahan iklim, hingga ekonomi teoretis dalam merancang kebijakan fiskal. Semua itu berakar pada ilmu-ilmu yang sering dianggap “tidak praktis”.
Menutup atau melemahkan ilmu murni berarti mengurangi kemampuan kita untuk memahami dunia secara mendalam. Tanpa pemahaman itu, keputusan kita mudah terjebak jadi dangkal.
Tentu, keterhubungan dengan industri itu penting. Bila suka apel bukan berarti benci jeruk. ;)
Perguruan tinggi jelas tidak boleh terlepas dari kebutuhan zaman. Namun, menjawab tantangan itu tidak harus dengan menutup ilmu murni. Yang diperlukan adalah menjembatani, bukan menggantikan. Menguatkan ekosistem, bukan menyederhanakan secara berlebihan.
Pada akhirnya, pendidikan tinggi bukanlah soal mencetak pekerja bagi industri, tetapi tentang menyiapkan masa depan dan membangun peradaban bangsa.
Masa depan itu tidak pernah dibangun hanya dari apa yang terlihat berguna hari ini, pun membangun peradaban tak boleh direduksi jadi sekadar membangun industri.
Maka, barangkali yang perlu kita jaga adalah keseimbangan. Antara yang langsung terpakai dan yang menjadi fondasi. Antara keterampilan dan pemikiran. Antara kebutuhan hari ini dan visi hari esok.
Dengan menjaga keseimbangan itulah, kita dapat berdiri tegak sebagai bangsa yang tak hanya mengikuti kemajuan dunia, tetapi juga menciptakannya.
Video berdurasi 4 menit 30 detik ini membuka secara gamblang sisi gelap dari proses pengadaan yang selama ini tersembunyi.
Dalam video ditampilkan bahwa yang diduga melakukan praktik kotor adalah oknum pemerintahan, tetapi yang menjadi korban adalah konsultan.
Berkendara di Jakarta adalah sebuah permainan prisoners dilemma.
Semua tertib: semua untung dikit
Kita tertib, yg lain enggak: kita rugi banyak
Kita ga tertib, yg lain tertib: kita untung banyak
Kita ga tertib, yg lain jg ga tertib: semua rugi banyak.
Mau komentar agak sensi dikit: inilah namanya normalisasi dan komodifikasi kejahatan. Video ini membungkus lelang sitaan seperti acara shopping haul TikTok yang fun dan menggoda. “Belanja mewah bekas koruptor sambil bantu negara” kalimat ini sendiri sudah morally obscene.
Korupsi bukan sekadar kejahatan ekonomi, tapi pengkhianatan terhadap amanah rakyat. Mengubah hasil pengkhianatan itu menjadi obralan mewah yang bisa dibeli orang kaya adalah bentuk pencucian moral. Seolah korupsi itu hanya “kesalahan bisnis” yang bisa diselesaikan dengan diskon. Badut semua. 🤡
@fasabimuhammad Setuju banget bang gua. Itu dari stasiun lrt TMII ampe cawang lumayan jauh. Dikasih satu aja stasiun kp makasar ditengahnya bakal naikin okupansi pasti.
Kalo ga ngomongin bisnis jualannya mereka, LRT Cibubur Line ini idealnya:
-Stasiun Ciracas digeser ke arah Mcd Cipayung
-Bikin 3 stasiun tambahan: Stasiun Munjul, Stasiun Makasar, dan Stasiun Kebon Pala
Video di bawah ini menggambarkan secara akurat bagaimana agama diterapkan di Indonesia.
Percaya tuhan ✅️
Menjalankan ibadah ✅️
Menjadi manusia yang baik ❌️
@id_lgk se gedeg gedegnya sama Nyunyes belum pernah segedeg sama Gakpekok. atleats marmut masih mau lari. duel dan semangat. lah ini. winger dribble gabisa dan lari berat. stiker posisinya nguawor dan shot ke blok. tinggi tapi duel kalah mulu. diumpan jauh dikit jalan kaki.
Pas ngobrol iseng sama sepupu, pernah tercetus ide:
Bagaimana kalo di rumah Mbah gak usah sedia menu rendang, opor, dan santan-santanan lain?
Jadi khusus di rumah Mbah, kita sediakan bakar-bakaran alias nge-grill. Tinggal modal ayam sama daging yang sudah dimarinasi.
Begitu ada tamu, tinggal kita bakarin.
Menu lain yang bisa disediakan juga mie rebus pake telor dan mie goreng. Nugget juga jadi menu yang diusulkan buat ada.
Prinsip dasar ide ini sederhana:
Kalo lebaran ke rumah kerabat dan disuruh mampir, lauk yang tersedia yaa itu-itu aja sebenarnya. Opor, sayur labu, krecek, dan rekan-rekannya.
Apalagi kalo di Jateng, ga boleh pulang kalo belum makan. Jadi pernah ada masa gua makan lima kali dalam waktu yang sangat berdekatan karena emang dipaksa makan, dan diminta Bapak Ibu biar ikut makan karena ga enak kalo nolak makan.
🤣🤣🤣
Nah dengan kehadiran menu tak biasa di rumah Mbah tadi, otomatis bakal jadi "oase" di tengah kepungan opor dan kawan-kawan.
Dan yak, ide ini ditolak mentah-mentah meski baru dalam tahap obrolan dan perencanaan tanpa tindak lanjut serius.
🤣🤣🤣🤣