At this point, gw merasa semua orang literally bs dipenjara. Bisa dicari2 kesalahannya. Bisa dibantah semua pembelaan dan bukti2nya. Bisa dibuat2 skenarionya.
Semengerikan itu dampaknya.
Akhirnya, banyak investor asing juga ga berani masuk. Duit banyak yang keluar. Rupiah kian melemah.
Domino effect.
You don’t need a perfect partner. You need someone who can regulate their emotions, admit when they fuck up, & actually sit with uncomfortable conversations without shutting down, flipping it on you, or throwing low blows every time shit gets real.
“I love being at home. My life is very simple. I reada lot of books. I watch a lot of films. I listen to a lot of music. I tend the garden. I cook with my family. Yeah, I'm boring.”
— Cillian Murphy
Walk more. Walk for no reason. Walk to think. Walk to reset. Walk to learn. Walk to escape. Walk to get better. Walk to solve problems. It changes everything
Farida, warga Dusun Long Jok di Kutai Timur, rajin membagikan konten keseharian tentang tempat tinggalnya di media sosial.
Farida menyebut, melalui konten-kontennya, dia ingin mewakili masyarakat di wilayah pedalaman yang hidup serba terbatas.
80 Tahun Indonesia merdeka, selama itu punya menteri kesehatan selalu dokter tapi baru punya gebrakan besar setelah menkesnya lulusan Teknik.
Harusnya jadi evaluasi dan muhasabah dokter-dokter sih wkwkwk.
Btw ini cerdas banget komunikasinya pake analogi nilai A-D.
YOUR TEARS CONTAIN A NATURAL PAINKILLER 6 TIMES STRONGER THAN MORPHINE. AND YOU WERE TRAINED TO HOLD THEM BACK.
In 2006, researchers at the Pasteur Institute in Paris discovered a molecule in human tears called leucine-enkephalin. It is an endogenous opioid. Your body manufactures it. It binds to the same receptors as morphine. It is six times more potent. Every time you cry, your body is not breaking down. It is self-medicating.
Guys, Bu Rani Anggrini Dewi konselor pernikahan 25 tahun lebih, sudah menikah 44 tahun bilang sesuatu yang menurut gua adalah penjelasan paling nyesek yang pernah gua dengar tentang kenapa banyak perempuan menyesal setelah menikah.
Dan ini bukan opini.
Ini dari orang yang setiap hari duduk berhadapan dengan pasangan-pasangan yang pernikahannya sedang hancur.
Jawabannya satu kalimat
mereka masuk ke pernikahan
tanpa tahu siapa diri mereka sendiri.
Dan begitu mereka masuk
semua yang membentuk identitas mereka sebelumnya karir, mimpi, ambisi,
pengembangan diri pelan-pelan hilang.
Bukan karena dirampas.
Tapi karena struktur pernikahan
yang mereka masuki memang tidak dirancang
untuk menampung itu semua.
Bu Rani bilang polanya sangat konsisten dari ribuan kasus yang dia tangani.
Perempuan menikah.
Anak lahir.
Semua fokus beralih ke peran sebagai ibu dan istri.
Pengembangan diri berhenti.
Dan di suatu titik entah dua tahun kemudian atau sepuluh tahun kemudian mereka bangun dan bertanya siapa saya sekarang?
Saya sudah S1,
saya pernah kerja,
saya punya mimpi.
Sekarang saya cuma masak
ngurus anak, dan menunggu suami pulang.
Dan yang membuat ini sistemik dan bukan hanya nasib buruk individu adalah satu fakta yang Bu Rani sebut dengan sangat tegas orang tua Indonesia sekarang sudah sadar untuk menyiapkan anak perempuannya.
Mereka kirim ke universitas terbaik.
Dorong untuk berkarir.
Ajarkan untuk mandiri secara finansial.
Tapi mereka lupa menyiapkan anak laki-lakinya.
Hasilnya adalah collision yang tidak bisa dihindari. Perempuan yang sudah berkembang menikah dengan laki-laki yang masih membawa mindset bahwa suami harus dilayani, urusan rumah tangga dan anak adalah urusan istri, dan suami harus selalu lebih tinggi dari istri dalam segala hal.
Dua orang dengan level perkembangan yang sangat berbeda masuk ke satu institusi.
Dan perempuannya yang selalu diminta untuk menyesuaikan diri ke bawah bukan laki-lakinya yang didorong untuk naik ke atas.
Dan ini yang paling menyakitkan dari seluruh cerita ini. Banyak perempuan yang menyesal bukan karena suaminya jahat.
Bukan karena pernikahannya penuh kekerasan.
Tapi karena perlahan-lahan tanpa ada satu momen dramatis yang bisa ditunjuk sebagai titik balik mereka kehilangan diri mereka sendiri.
Dan begitu mereka sadar bahwa yang hilang itu tidak bisa dikembalikan oleh siapapun termasuk oleh suami yang mencintai mereka itulah penyesalan terdalam yang Bu Rani temui dalam kasusnya setiap hari.
perempuan yang menyesal setelah menikah bukan perempuan yang salah pilih pasangan.
Mereka adalah perempuan yang masuk ke struktur yang tidak pernah dirancang untuk menampung mimpi mereka.
Dan selama struktur itu tidak berubah selama anak laki-laki tidak disiapkan dengan cara yang sama dengan anak perempuan angka penyesalan itu tidak akan turun.
Di bidang astronomi, jarak yg sangat jauh diukur dgn satuan “tahun cahaya”
Di Indonesia ada satuan baru dlm perhitungan harga/biaya yg sangat mahal, yaitu “hari MBG”
* Anggaran beasiswa LPDP: 5 hari MBG
* Subsidi BPJS Kes: 40 hari MBG
* Biaya pembangunan Whoosh: 94 hari MBG
😁
Guys, Ferry Irwandi baru ngomong sesuatu yang gua rasa perlu banget didengar terutama buat kalian yang lagi bingung ngejar apa di hidup ini.
Ferry bilang hal yang bikin gua mikir keras. Worst advice yang pernah dia terima katanya adalah "keluarlah dari zona nyaman." Dan ini bukan sekadar kontra-narasi biar kelihatan beda ini ada logikanya yang sangat solid.
Pikirin deh.
Berapa banyak dari kita yang sebenernya hidupnya belum nyaman sama sekali masih struggle bayar kosan, masih bingung soal kerjaan, masih ngerasa stuck tapi tiap hari dibombardir sama quote "keluar dari zona nyaman"? Zona nyaman mana yang mau dikeluar-keluarin kalau nyamannya aja belum ketemu?
Ferry bilang yang bener itu bukan "keluar dari zona nyaman" tapi "temuin dulu kenyamanan lo." Karena kalau lo sekarang stuck, bosen, ngerasa terbelenggu itu bukan zona nyaman. Itu zona ketidaknyamanan yang lo toleransi terlalu lama. Dan yang perlu lo lakukan bukan keluar dari situ dengan cara dramatis tapi sadar bahwa lo emang belum nyaman dan mulai cari kenyamanan yang sebenarnya.
Ini juga nyambung sama keputusan Ferry keluar dari PNS Kementerian Keuangan. Orang dari luar bilang "wah berani banget keluar dari zona nyaman." Padahal menurut Ferry sendiri dia keluar justru karena tidak nyaman. Conflict of interest antara pekerjaannya dan kontennya makin besar, dan bertahan berarti memaksakan diri di situasi yang makin lama makin tidak sehat buat dirinya.
Dan yang paling gua respect dari Ferry adalah cara dia ngambil keputusan besar itu. Bukan impulsif, bukan ikut-ikutan tren quit your job yang viral di TikTok. Dia hitung dua tahun sambil jalan bareng income dari konten sudah stabil belum, pivot-nya ke mana, cost benefit analysis-nya gimana, konsultasi sama orang tua, konsultasi sama istri. Baru keluar dengan kepala dingin dan hati yang tenang.
Intinya guys hidup bukan tentang seberapa dramatis lo berani ambil risiko. Hidup tentang seberapa jelas lo tahu apa yang beneran bikin lo nyaman dan seberapa terukur langkah lo untuk sampai ke sana. Keberanian bukan berarti loncat tanpa perhitungan keberanian adalah tetap melangkah meski sudah hitung semua risikonya dan tetap milih jalan yang paling masuk akal buat hidup lo.
indonesia enggk merdeka dengan perlawanan, kita merdeka dengan bayar. 4.3 milyar gulden sekitar 17T saat itu atau sekitar 255T sekrang. baru lunas di 2002.
banyak yg bilang, inilah alasan indonesia miskin sampai sekarang. krn kita gk memulai negara dari 0. tapi, mulai dari minus 255T.
bayangkan, dari 1949 sampai 2002, butuh 53 tahun buat lunas.
kalian tau gak sebesar apa 255T itu?
sejumlah 9 bulan MBG :))
Negara agraris, tapi hasil pertanian byk impornya, petani miskin.
Negara maritim, tapi lautnya dicemari dan dieksploitasi.
Negara mayoritas Islam, tapi kelakuan pejabat tdk sesuai ajaran Islam.
Negara kaya SDA, tapi rakyatnya tambah miskin, elit tambah kaya.
Guys ada beberapa momen di wawancara Najwa dengan Prabowo yang gw rasa perlu lebih banyak orang cermatin.
Bukan yang bagus-bagusnya. Tapi yang mengejutkan dan jujur tidak nyaman untuk didengar dari seorang presiden.
Pertama soal demonstrasi dan bom molotov.
Najwa kasih data ratusan mahasiswa dan aktivis ditangkap pasca demo. Penangkapan terbesar sejak reformasi. Dan aktor yang menyuruh tidak pernah terungkap.
Prabowo tidak jawab soal kenapa aktornya tidak pernah diusut.
Dia malah balik tanya ada yang ribut tidak soal bom molotov? Ada yang ribut tidak soal gedung DPR mau dibakar?
Najwa bilang banyak Pak yang protes.
Prabowo bilang enggak ada itu.
Dan mereka debat soal apakah ada yang protes atau tidak. Di depan kamera. Dengan nada yang semakin meninggi dari sisi Prabowo.
Presiden dan jurnalis berdebat soal fakta apakah ada pemberitaan atau tidak bukan soal substansi pertanyaannya.
Pertanyaan aslinya tidak pernah dijawab. Kenapa aktor intelektualnya tidak pernah ditangkap.
Kedua soal kritikan yang dianggap regime change.
Najwa tanya apakah semua kritikan terhadap pemerintah bermuara pada keinginan untuk regime change.
Prabowo bilang tidak semua tapi ada.
Lalu dia sebut Asia Tengah. Color revolution. Disinformasi dari negara-negara tertentu.
Dan kalimat ini yang menurut gw paling mengkhawatirkan.
'Kita ini bukan anak kecil. Kadang ada peristiwa yang dibuat seolah-olah. Itu namanya false flag operation.'
Ini diucapkan dalam konteks kasus Andri Yunus yang pelakunya sudah terbukti dan dikonfirmasi sendiri oleh Mabes TNI sebagai anggota Bais TNI.
Bukan spekulasi. Bukan rumor. Sudah dikonfirmasi institusi militer negara sendiri.
Tapi presiden membuka kemungkinan bahwa itu bisa jadi false flag.
Dan itu bukan pernyataan yang kecil. Karena kalau presiden sendiri meragukan fakta yang sudah dikonfirmasi institusinya sendiri bagaimana publik bisa percaya bahwa penyelidikannya akan tuntas.
Ketiga soal 'kalau tidak suka bisa turun ke jalan.'
Ini yang paling bikin gw diam sebentar.
Di tengah diskusi soal kekhawatiran ruang demokrasi yang menyempit Prabowo bilang kalimat ini.
'Kalau memang rakyat tidak suka sama saya bisa turun ke jalan ramai-ramai.'
Konteksnya dia sedang bilang bahwa rakyat yang mendukung dia tahu kalau rusuh semua yang rugi.
Tapi framing-nya bisa dibaca dua arah.
Satu dia percaya diri karena merasa dukungan rakyat masih kuat.
Dua ada nada yang terasa seperti tantangan. Di saat yang bersamaan dengan konteks mahasiswa yang baru saja mengalami penangkapan massal terbesar sejak reformasi.
Ajakan untuk turun ke jalan dari seorang presiden — di tengah diskusi soal intimidasi terhadap pengkritik itu pilihan kata yang sangat tidak biasa.
Keempat soal 'saya korban juga.'
Ketika Najwa tanya soal ruang bersuara yang menyempit dan kasus-kasus intimidasi terhadap jurnalis dan aktivis Prabowo bilang satu kalimat yang gw tidak bisa lewatkan begitu saja.
'Saya ini korban juga.'
Lalu langsung pivot ke harga pangan yang terkendali di Ramadan.
Gw tidak tahu maksudnya persis. Korban dalam konteks apa. Diserang secara politik? Difitnah?
Tapi menyebut diri sendiri sebagai korban di saat yang sama ketika aktivis HAM yang luka bakar 24 persen dan korneanya rusak sedang dirawat di rumah sakit itu pilihan framing yang sangat tidak tepat waktunya.
Gw tidak bilang semua yang Prabowo katakan malam itu salah. Ada yang bagus. Ada yang jujur. Ada yang berani.
Tapi ada beberapa momen yang seharusnya tidak keluar dari seorang presiden di forum publik.
Karena kata-kata presiden itu bukan sekadar pendapat pribadi. Itu sinyal. Dan sinyal yang salah efeknya jauh lebih luas dari kata-katanya sendiri.
Japanese actor Hiroyuki Sanada spoke about the contradictions of human nature:
“Some people dream of having a swimming pool at home, while those who have one hardly ever use it. Those who have lost a loved one feel a profound sense of loss, while others often complain about their living relatives. Those without a partner long for one, while those who have one often don't appreciate it. The hungry would give anything for a meal, while the satiated complain about the taste of their food. Those without a car dream of owning one, while those who have a car are always looking for a better one.”
The key to happiness is gratitude: truly seeing and appreciating what we already have, and understanding that somewhere, someone would give anything for what we take for granted.