iya ya, sama sama mau ngelakuin, sama sama tau resikonya, tapi selalu perempuan yang disalahkan ketika protes. kalo laki-laki gak disalahkan karena setelah itu nggak mau tanggung jawab, mestinya perempuan ga boleh disalahkan atas keputusan yg dipilih buat janinnya itu
gw pernah liat konten seorang perempuan yg hamil di luar nikah tp cowonya ga tanggung jawab. isi komennya: "kenapa skrg marah-marah? kan sm sm mau"
lah? ya justru emg HARUS marah. klo emg di awal sm sm mau, knp tanggung jawabnya ga sama sama. parahnya, yg komen sesama perempuan
@dumbtwttt Men have always been weaker than women. Their strength lies solely in their ability to hit women. Otherwise, women have always been stronger mentally, psychologically, and physically. 🚶🏾♀️
@rafayeul Ya jelas ga boleh lah sama dokter di aborsi. Orang hasil dari hubungan yg sah. Terlepas dr permasalahan ekonomi yg ada, bukan pembenaran untuk aborsi jd solusi.
The trick to enjoying fandom is to focus on the fan content (especially fanarts, for me) and ignore everyone else except your few chosen people bcs it's surprising how many dumb and annoying people there are out there
mereka tuh kayak maunya ngambil kontrol penuh atas tubuh perempuan dan mau enaknya aja tanpa pernah kepikiran kalo perempuan itu ya manusia kayak mereka. orang-orang kek gitu emang paling bener sama robot aja udah, itu juga kalo mereka bisa beli robot yg katanya bisa hamil itu
kalian yang pro-birth itu ngerti ga sih kenapa sampe ada diskursus soal aborsi? karena kalian BUTA dengan fakta bahwa dunia tidak seideal mindset “sesimpel gausah ngewe” kalian itu.
diajarin sex edu dibilang ngajarin free sex, ngomong consent dibilang ngajarin free sex, marital rape ga dianggep ada, istri digaslight suami “ga boleh menolak seks,” suami disuruh pake kondom dibilang ga enak, vasektomi dibilang haram, pilihan KB yang tersisa tinggal hormonal YANG ITUPUN MERUSAK TUBUH PEREMPUAN LAGI, pedofilia dan grooming masih dibilang “salah anaknya mau sama pelakunya,” korban perkosaan masih dicari kesalahannya bahkan sampe ada yang bilang itu tetep dianggep melakukan zina,
KEK. NGACA. aborsi itu akhirnya jadi pilihan KARENA ADANYA ORANG-ORANG BEBAL SISTEMATIS KAYAK KALIAN.
kalo dari dasarnya udah bener, GA PERLU ADA ABORSI. tapi emang kalian berani TAKE MEN ACCOUNTABLE?
stop calling us pro-abortion. we are PRO-CHOICE.
@oblivioncarrot > ngatain gundik = misoginis
> disebut urusan rumah klo pov nya nyalahin suami, tp urusan bersama klo povnya nyalahin cewe = misoginis
> cowo selingkuh ga separah cewe treatmentnya = misoginis
yep emg ini negara cemen 🙂↕️ tp you did well choosing the right stance 👍🏻
@Ikanpayara@mpusngetweet kayaknya karena kalimatnya merujuk ke sex di luar nikah tapi yg terakhir pake "by consent atau kaga", seakan-akan korban r*pe (karena r*pe itu sex tanpa consent), jadi ikut salah dan pelaku zina, padahal korban
Nah, justru itu poinnya. Pro-choice bukan berati “pro bunuh bayi”. Itu soal pilihan ketika kehamilan masih berlangsung dan situasinya bisa kompleks banget.
Yang gue sindir dari awal tuh ironinya: lantang bilang “setiap kehidupan berharga” pas masih di rahim, tapi begitu lahir terus miskin, kelaparan, putus sekolah, ato jadi korban kekerasan, mendadak mode “ya tanggung jawab ortunya dong”.
Kalau emang pro-life, harusnya concernnya gak berenti pas bayi berhasil lahir. Life-nya masih panjang, gaizz.
Covid kerasa nggak ada apa apanya dibanding kondisi Indonesia sekarang. At least waktu itu Pemerintah "ada". Sekarang, mereka salah satu bencana itu sendiri.