Bem-vindo, Ederson !🙌
“Physically he’s well-built. He’s not going to struggle in the PL because of that. He is going to have to up his playing rhythm... but I don't think you're ever going to be carrying him. He can get thru enough work.”
[@Tim_Vickery] https://t.co/rZWmtvBzfY
Fakta Menyedihkan Orang Dewasa
🧒 Budi
- Kerja 9-5 (8 jam)
- 2 jam perjalanan
- Total waktu habis 10 jam
- Gaji UMR = 5,7 juta (Jakarta)
🧔🏻 Bagas
- Dikasih 1 Miliar dari orangtua
- Disimpan di deposito return 6%
- Bagas dapat uang 6 juta/bulan
- Bahkan tanpa perlu kerja 8-10 jam
Kadang yang bikin capek bukan kerjanya, tapi sadar kalau garis start tiap orang memang beda
Bisa baca salah satu tulisan menarik dari vertesport ini!
Bahwa laki-laki akan akrab dengan tanggung jawab, penderitaan, dan kesedihan. Sepakbola dan klub kesayangan sering jadi satu-satunya tempat meluapkan emosi tanpa perlu banyak bicara.
Mungkin karena itu, banyak laki-laki akan menua bersama klubnya. Ikut kecewa saat kalah, ikut bahagia saat menang, dan tetap datang bahkan ketika harapan terasa tipis.
Source: https://t.co/Gdw4guh9VB
kalau USD sampai nyentuh Rp 20 ribu apa yg sebaiknya kita lakukan gaes? 🥲
- cari kerjaan/freelance yg dibayar USD
- tajemin bahasa inggris lagi, ikut les dan kelas2
- kabur aja dulu keluar (ini jg susah, harus punya skill dan pengalaman)
- cari peluang dan upgrade ilmu terus untuk penambah penghasilan
- usaha sewa ompreng MBG
ada usulan sebaiknya kita ngapain? 🙏🏻
Pria ke pria
pastikan kelola resource-mu (terutama WAKTU mu) untuk 3 hal ini:
• Networking
• Money
• Knowledge & Experience
Karena aku udah lihat;
beberapa pria yang cuma buang-buang waktu di usia 20-30an, biasanya pas lewat 40 bakal jadi insecure parah.
Nyesel tapi ga tau salah siapa,
suka nyalahin orang lain,
selalu merasa kurang & gak berguna.; apalagi kalau lihat pria lain yang lebih muda dari dia ternyata lebih 'berisi' secara 3 hal tadi (Networking, Money, Knowledge) Dia bisa langsung panas & tersinggung tiap liat pria lain
Banyak pria tua yang mengaku "sudah damai" atau "hidup apa adanya," padahal sebenarnya mereka hanya menyerah karena tidak punya pilihan lain.
Itu bukan ketenangan (peace), tapi keputusasaan yang dipendam.
jadi, mumpung masih belum menua dan belum terlambat, pastikan kelola resource-mu (terutama WAKTU mu) untuk 3 hal tadi:
• Networking
• Money
• Knowledge & Experience
That's it !
Good news ny?
Semua ini bisa COMPOUND !
Jadi ga perlu muluk-muluk langsung pengen optimal,
pelan tapi pasti. Ibarat Compounding di Long-term investing :)
Sekian dari saya.
Selamat berakhir pekan.
Guys, ada sesuatu yang sangat ironis yang terjadi dalam dua hari berturut-turut di Indonesia.
1 Mei — Hari Buruh.
Prabowo hadir di Monas.
Berdiri di panggung bersama puluhan ribu buruh. Bernyanyi.
Berpidato.
Mengumumkan cicilan KPR 40 tahun dan potongan ojol 8%. Kaos 200 ribu lembar dibagikan. Sangat meriah.
2 Mei — Hari Pendidikan Nasional.
Prabowo rapat tertutup di Hambalang.
Tidak ada seremoni khusus.
Tidak ada pidato untuk guru dan siswa.
Tidak ada satu pun agenda yang secara khusus merayakan atau memperingati Hardiknas.
Bukan kebetulan ini adalah pilihan.
Ketika seorang presiden memilih hadir secara dramatis di Hari Buruh dengan panggung besar dan ribuan orang tapi memilih rapat tertutup di rumah pribadi pada Hari Pendidikan Nasional itu bukan soal jadwal yang padat.
Itu adalah pernyataan tentang apa yang dianggap lebih penting secara politik.
Buruh hadir secara fisik dan bisa dimobilisasi.
Guru honorer yang gajinya Rp300 ribu per bulan tidak membawa massa ke Monas.
Anak-anak di sekolah rusak tidak bisa berteriak di depan istana.
Siswa disabilitas yang dibuang sistem tidak punya organisasi yang bisa mengancam stabilitas politik.
Makanya satu dirayakan dengan meriah.
Yang satu dilewati dengan rapat tertutup di Hambalang.
Dan ini bukan pertama kali Hambalang dijadikan tempat rapat kabinet:
8 Maret 2026 — lima rapat dalam satu hari di Hambalang. Membahas pendidikan, geopolitik Timur Tengah, mudik Lebaran.
2 Mei 2026 — rapat tertutup lagi di Hambalang. Membahas aspirasi buruh dan perguruan tinggi.
Pola ini konsisten.
Dan setiap kali hasil rapatnya dirilis isinya selalu berakhir dengan kalimat yang sama:
"Pemerintah terus berkomitmen untuk menghadirkan kebijakan yang melindungi, mencerdaskan, dan menyejahterakan seluruh lapisan masyarakat Indonesia."
Tanpa angka.
Tanpa target.
Tanpa timeline.
Tanpa akuntabilitas.
Sementara di luar Hambalang kondisi pendidikan Indonesia hari ini:
Guru honorer masih ada yang menerima gaji Rp150-300 ribu per bulan. Ratusan ribu ruang kelas kondisinya rusak sedang hingga berat. Anak disabilitas masih bisa dikeluarkan sekolah secara diam-diam dan tidak ada yang menindak.
Perguruan tinggi terbaik masih terkonsentrasi di Jawa. Angka putus kuliah karena faktor ekonomi masih sangat tinggi.
Dan pada Hari Pendidikan Nasional 2026 solusi yang ditawarkan adalah: manfaatkan fakultas teknik perguruan tinggi untuk membangun daerah.
Bukan ide buruk.
Tapi itu bukan jawaban atas masalah struktural yang sudah puluhan tahun tidak selesai.
Ki Hajar Dewantara pasti sangat sedih:
Hardiknas ditetapkan untuk mengenang beliau — yang percaya bahwa pendidikan adalah hak setiap anak Indonesia tanpa kecuali.
Yang berjuang agar anak-anak pribumi bisa mengakses pendidikan yang bermartabat.
Yang mendirikan Taman Siswa karena sistem yang ada tidak berpihak kepada rakyat kecil.
Dan di hari yang didedikasikan untuk mengenang perjuangannya presiden rapat tertutup di rumah pribadi.
Tanpa satu pun momen yang secara khusus menyapa guru, siswa, atau orang tua yang berjuang keras menyekolahkan anaknya.
"Ing ngarsa sung tulada."
Di depan memberi teladan.
Teladan seperti apa yang diberikan ketika Hari Buruh dirayakan dengan meriah tapi Hari Pendidikan Nasional dilewati tanpa pesan khusus untuk anak-anak Indonesia?
Indonesia merayakan Hari Buruh dengan kaos, panggung, dan janji-janji besar.
Dan keesokan harinya Hari Pendidikan Nasional dilewati dengan rapat tertutup di kediaman pribadi presiden yang hasilnya hanya satu paragraf rilis.
Bukan salah buruhnya.
Mereka memang harus diperjuangkan.
Tapi kalau energi, perhatian, dan kehadiran fisik presiden hanya muncul ketika ada massa yang bisa dimobilisasi dan tidak hadir ketika yang membutuhkan perhatian adalah guru honorer yang tidak punya serikat besar dan siswa yang tidak bisa berteriak di depan istana maka yang terjadi bukan keberpihakan.
Itu politik.
Dan politik yang mengorbankan pendidikan demi popularitas jangka pendek adalah utang yang akan dibayar oleh generasi berikutnya bukan oleh kita yang sekarang.
Guys, choki pardede baru aja ngasih sesuatu
yang menurut gw patut di tanyakan
jadi begini kata dia....
Kenapa ada orang yang IQ-nya biasa-biasa saja tapi hidupnya mulus, ditolong orang di mana-mana, karirnya naik terus
sementara ada yang jenius tapi stuck di tempat yang sama bertahun-tahun?
Jawabannya bukan soal nasib.
Jawabannya adalah kecerdasan sosial.
Apa itu kecerdasan sosial
dan kenapa ini beda dari IQ:
Konsep ini pertama kali dicetuskan oleh Edward Thorndike di tahun 1920-an.
Dia bilang ada kecerdasan yang sama sekali tidak diukur oleh tes IQ yaitu kemampuan untuk memahami orang lain dan mengelola hubungan sosial secara efektif.
IQ mengukur seberapa cepat otak lo memproses logika, angka, dan pola abstrak. Kecerdasan sosial mengukur seberapa baik lo bisa membaca situasi, memahami emosi orang lain, dan merespons dengan cara yang membuat orang merasa didengar dan dihargai.
Dan yang mengejutkan banyak orang: dua hal ini tidak selalu berjalan beriringan.
Orang yang jago matematika belum tentu jago baca emosi. Orang yang hafal ribuan fakta belum tentu tahu kapan harus diam.
Data yang perlu lo tahu dan ini yang bikin konsep ini tidak sekadar teori motivasi:
Ada penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Social Intelligence and Student Academic Performance at Post Graduate Level yang menemukan korelasi menarik:
mahasiswa dengan IPK 3,6 ke atas rata-rata memiliki skor kecerdasan sosial yang jauh lebih tinggi dibanding yang IPK-nya lebih rendah.
Bukan berarti orang pintar otomatis asik.
Tapi ada pola yang konsisten:
orang yang bisa mengelola hubungan sosialnya dengan baik cenderung perform lebih baik bahkan di lingkungan akademik yang sangat kompetitif sekalipun.
Dan lebih jauh dari itu riset tentang kecerdasan sosial menunjukkan bahwa orang dengan social intelligence yang tinggi cenderung lebih sehat, lebih bahagia, dan hidup lebih lama.
Bukan karena kebetulan. Tapi karena mereka tidak punya musuh yang menguras energi, tidak terjebak dalam konflik yang tidak perlu, dan punya jaringan dukungan yang kuat di saat mereka membutuhkan.
Kenapa orang pintar sering gagal secara sosial dan ini yang paling relate:
Daniel Goleman yang terkenal dengan konsep kecerdasan emosional mengatakan bahwa fondasi utama kecerdasan sosial adalah kemampuan membaca emosi orang secara real time.
Dan masalahnya: orang pintar sering terjebak dalam satu mode mendengar untuk menjawab, bukan mendengar untuk mengerti.
Lo kenal tipe orang ini. Waktu lo ngomong dia sudah menyusun argumen balasannya sebelum kalimat lo selesai.
Waktu ada perdebatan tujuannya menang, bukan memahami. Waktu ada orang baru di ruangan dia fokus keliatan keren, bukan genuinely curious tentang orang itu.
Dan hasilnya? Tanpa sadar dia nyebelin. Bukan karena dia jahat.
Tapi karena social skill-nya tidak berkembang seiring kemampuan kognitifnya.
Lima cara konkret untuk meningkatkan kecerdasan sosial:
Pertama — latih kepekaan sosial yang sesungguhnya. Waktu lo ngobrol sama orang, stop fokus ke apa yang mau lo jawab. Fokus ke nada suaranya, ekspresi wajahnya, timing dia ngomong.
Ada perbedaan besar antara mendengar kata-kata dan benar-benar menangkap apa yang seseorang rasakan.
Kedua — stop pengen kelihatan pintar. Ini yang paling sulit untuk orang-orang dengan kecerdasan tinggi. Ubah tujuan percakapan: bukan bagaimana gue kelihatan keren, tapi apa yang sebenarnya orang ini rasakan dan pikirkan.
Riset MIT tentang collective intelligence menunjukkan bahwa kelompok yang paling efektif bukan yang punya anggota paling pintar tapi yang anggotanya paling bisa saling memahami satu sama lain.
Ketiga — bangun emotional mirroring. Otak manusia punya mirror neurons sistem saraf yang secara harfiah memungkinkan kita menularkan emosi satu sama lain. Kalau lo masuk ke situasi sosial dengan energi yang tepat orang di sekitar lo akan merasakannya.
Sebaliknya juga berlaku. Belajar untuk genuinely merasakan apa yang orang lain rasakan bukan berpura-pura, tapi benar-benar masuk ke kondisi emosional mereka.
Keempat — perbanyak exposure sosial yang beragam. Jangan hanya nongkrong dengan circle yang sama terus. Social Intelligence Hypothesis menyatakan bahwa semakin kompleks interaksi sosial yang lo hadapi semakin terasah social brain lo. Ngobrol sama orang dengan background yang berbeda, masuk ke situasi yang sedikit awkward, keluar dari comfort zone sosial lo.
Kelima — bangun feedback loop yang jujur. Untuk tahu apakah lo asik atau tidak lo tidak bisa mengandalkan penilaian lo sendiri. Itu adalah bias terbesar.
Cari satu atau dua orang yang lo percaya untuk memberi feedback jujur tentang bagaimana lo di lingkungan sosial. Dan yang paling penting: jangan baper kalau feedbacknya tidak enak didengar. Itu bukan serangan personal. Itu kompas yang lo butuhkan.
Tanda-tanda kecerdasan sosial yang rendah checklist yang perlu lo tahu:
Lo selalu jadi yang paling banyak ngomong di setiap pertemuan tanpa sadar. Ada satu grup — entah grup kelas, grup kantor, grup apapun yang tidak ada lo di dalamnya.
Orang sering tidak merespons dengan antusias waktu lo ngomong tapi lo tidak tahu kenapa. Lo sering merasa salah dipahami padahal lo sudah menjelaskan dengan sangat logis. Lo lebih fokus memenangkan argumen daripada memahami posisi lawan bicara.
Satu saja dari tanda-tanda itu sudah cukup untuk dijadikan bahan refleksi.
Dan ini yang paling penting dari seluruh pembahasan ini:
Kecerdasan sosial bukan bakat lahir yang lo punya atau tidak punya. Ini adalah skill yang bisa dilatih. Sama seperti otot semakin sering lo melatihnya dengan cara yang benar, semakin kuat.
Dan dalam dunia nyata di tempat kerja, di bisnis, dalam hubungan yang menentukan seberapa jauh lo bisa pergi bukan seberapa tinggi IQ lo.
Tapi seberapa banyak orang yang genuinely mau membantu lo karena mereka merasa dihargai dan dimengerti ketika bersama lo.
Orang yang ditolong bukan orang yang paling pintar di ruangan. Orang yang ditolong adalah orang yang paling asik untuk diajak kerja sama.
Di Jepang ada konsep "kaizen", perubahan kecil yang dilakukan terus-menerus. Kedengerannya simpel, tapi justru itu yang sering susah dijalanin.
Soal keuangan juga sama. Ga perlu langsung berubah drastis. Ga harus tiba-tiba jadi super hemat atau langsung jago investasi. Cukup perbaiki satu kebiasaan jelek tiap bulan. Pelan, tapi konsisten.
Kita juga sering kejebak yang namanya lifestyle creep. Begitu penghasilan naik, gaya hidup ikut naik tanpa sadar. Dulu cukup, sekarang jadi “kurang”.
Di sini gue mulai belajar sedikit soal “wabi-sabi”. Nerima kalau ga semua harus baru, ga semua harus upgrade. Kadang yang udah ada itu sebenarnya masih cukup.
Biar ga kebablasan, gue coba pakai sistem sederhana buat ngatur uang:
dibagi dari awal pas gajian.
• kebutuhan pokok
• tabungan/investasi
• buat seneng-seneng dikit
• dana darurat
Ga harus persis, tapi yang penting jelas batasnya. Dan jujur, yang paling susah itu bukan bikin sistemnya… tapi konsisten jalaninnya.
Satu hal yang mulai gue pegang: invest pakai “uang dingin”.
Uang yang kalau kenapa-kenapa, hidup gue masih aman.
Karena kalau pakai uang yang kepake buat hidup, tiap harga turun dikit langsung panik. Ujungnya bukan cuan, malah stres.
Dan soal FOMO… ini musuh paling halus.
Lihat orang lain cuan, langsung pengen ikut. Padahal kita ga tau cerita lengkapnya.
Padahal kenyataannya, yang tenang biasanya yang tahan lama. Yang sabar seringnya justru yang dapet hasil.
Sekarang gue juga mulai sadar, investasi terbaik itu bukan cuma di aset… tapi di diri sendiri.
Skill, pengetahuan, cara mikir, itu semua ngaruh banget ke cara kita ngelola uang.
Dan lucunya, itu ga bisa diambil siapa-siapa.
Akhirnya, definisi “kaya” juga berubah.
Bukan soal kelihatan berhasil, tapi soal ga lagi ngerasa harus buktiin apa-apa ke orang lain.
Cukup hidup sesuai kemampuan, pelan-pelan nambah, dan biarin hasilnya yang ngomong sendiri.
Menikah itu kayak kita dipaksa mengelola sebuah proyek seumur hidup dengan rekan tim yang dipilih saat kalian berdua masih sama-sama hijau.
Kita sering terjebak dengan label cocok, padahal itu sekadar perasaan sementara yang akan menguap begitu tagihan air dan drama cicilan datang menyerang.
Dalam praktiknya,
kemampuan kita untuk tetap sinkron saat salah satu pihak berubah jadi menyebalkan adalah kunci utama, karena mengandalkan kesamaan hobi saja tidak akan membantu saat kalian harus berdebat soal prioritas masa depan yang makin rumit.
dan ini sangat rumit,
u harus siap menerima kenyataan bahwa orang yang tidur di sampingmu bisa bertransformasi menjadi versi yang tidak pernah kamu bayangkan sebelumnya, dan di situlah ujian adaptasi yang sesungguhnya dimulai.
Namun, letak inspirasinya justru ada pada proses tersebut, yaitu bagaimana dua manusia yang penuh cacat logika mau belajar meredam ego demi menjaga agar sistem tetap berjalan.
Pernikahan bukan tempat untuk menemukan kebahagiaan yang sudah jadi, melainkan bengkel tempat kalian berdua babak belur bekerja sama memperbaiki hubungan yang akan terus-menerus rusak dimakan waktu.
— Maryam tak memiliki pasangan
— Aisyah tak memiliki keturunan
— Khadijah mendapatkan jodoh terbaiknya diumur 40 tahun
— Fatimah diuji kesempitan
— Asiyah bersuamikan Firaun
dan ternyata wanita terbaik sepanjang masa itu adalah seorang wanita dengan takdir yang nampaknya tidak sempurna dimata semua manusia
Ternyata obat sedihnya perempuan itu bukan hanya 'sabar' dan 'tawakal', tapi...
Ketika Maryam as. sangat sedih karena merasa takut dengan cemoohan orang-orang karena hamil tanpa suami, maka Allah menenangkannya.
Allah berkalam,"Makan, minum dan berbahagialah engkau." Ternyata, untuk berbahagia, Allah menganjurkannya untuk makan dan minum.
Sepertinya, ibu-ibu pasti setuju dengan hal ini. Bahwa kebahagiaan bisa diraih salah satunya dengan diajak makan dan minum bersama di luar. 😃
Bagi bapak-bapak, apa yang kita berikan untuk istri selalu dihitung sedekah oleh Allah.
Maka.. win-win solution insyaallah.
Jadi begini warga yang Budiman dan budiwati menurut data BMKG ( bar mangan kudu guyon )
Tak jelaskan sedikit kenapa petani lebih memilih membuang hasil panen nya daripada memberikan ke orang lain yang kalian anggap lebih bermanfaat ,karena ini efeknya jangka panjang ,jadi jangan hakimi petani yang melakukan hal tersebut
Saya kasih tahu sebab dan alasannya
Saat panen melimpah, pasokan banjir tapi permintaan tidak ikut naik , harga bisa jatuh sangat rendah,saya kasih contoh ,misalnya harga Rp5.000–Rp15.000 per keranjang besar, sementara biaya keranjang + tali saja sudah Rp9.000–Rp11.000,
Membuang lebih murah daripada memanen, mengangkut, dan menjual karena
Biaya panen tenaga kerja+ transportasi ke pasar sering lebih besar daripada uang yang diterima.alias petani tambah merugi
Memberikan Gratis Justru Bisa Merusak Harga Lebih Parah (Efek Pasar Jangka Panjang)
Kalau petani bagi-bagi gratis dalam jumlah besar, masyarakat atau pedagang akan mengharapkan harga murah/gratis di masa depan.
Ini membuat harga di pasar sulit naik kembali, bahkan saat pasokan normal. Petani rugi berkepanjangan karena pasar "terbiasa" dapat barang murah.
Membuang sebagian hasil bisa mengurangi pasokan di pasar membantu harga stabil atau naik sedikit di kemudian hari,meski ini bukan solusi ideal.
Biaya Logistik dan Penanganan yang Tinggi untuk Donasi
Hasil tani seperti sayur dan buah sangat mudah busuk ,umur simpan pendek, butuh pendingin
Memberikan gratis memerlukan akan biaya lagi
Panen manual (biaya tenaga kerja).
Pengemasan yang layak.
Transportasi ke tempat distribusi (masjid, panti asuhan, atau kota).
Petani kecil biasanya tidak punya infrastruktur itu. Kalau dipaksakan, biayanya bisa lebih besar daripada nilai barangnya.
Di daerah terpencil, akses pasar saja sudah susah, apalagi distribusi donasi.
Tidak Ada Pembeli Tetap atau Infrastruktur Penyimpanan
Banyak petani bergantung pada tengkulak atau pasar lokal. Saat harga anjlok, tengkulak pun enggan beli.
Tidak ada gudang pendingin skala kecil yang murah , barang cepat rusak kalau ditahan.
Memberi gratis dalam volume besar juga tidak realistis karena orang yang mengambil biasanya terbatas, sementara hasil panen bisa puluhan ton.
Petani Harus Tetap Hidup dan Bayar Hutang
Petani punya biaya tetap pupuk, bibit, sewa lahan, hutang ke tengkulak/bank, kebutuhan keluarga.
Kalau terus rugi karena bagi gratis, mereka tidak bisa tanam musim berikutnya bisa bangkrut total.
Membuang adalah cara "mengurangi kerugian lebih besar" agar bisa bertahan untuk musim depan. Dalam case ini contoh timun itu dibuang disungai ituungkin hanya sebagian saja ,karena mereka juga harus berpacu dengan waktu untuk pengolahan lahan untuk ditanami kembali dan mengurangi kerugian dari mengeluarkan biaya transportasi
Petani bukan mau membuang hasil kerja kerasnya. Mereka terpaksa karena ekonomi yang keras,biaya > pendapatan, plus risiko merusak pasar jangka panjang kalau dibagikan gratis secara masif. Ini masalah struktural pertanian Indonesia , fluktuasi harga, ketergantungan tengkulak, infrastruktur lemah, dan rantai pasok yang tidak fleksibel.
Solusi jangka panjang hilirisasi (olahan makanan), koperasi petani yang kuat, gudang penyimpanan, kontrak langsung dengan buyer besar, atau program pemerintah yang serap surplus saat panen raya. Tanpa itu, fenomena ini akan terus berulang setiap musim panen melimpah.
Paham ya sampai disini ,atau ada tambahan lagi ?
Satu kunci kesuksesan industri China adalah pemusnahan preman.
Pada 1983, Deng Xiaoping menurunkan tentara untuk membantai habis overpopulasi preman di kota-kota China.
1.7 juta preman ditangkap.
Tujuannya bukan konsolidasi preman seperti Petrus. Tapi pemusnahan.
Populasi preman terlalu banyak sehingga wajar dimusnahkan. Yang diburu dan ditumpas bukan segelintir preman saja seperti Petrus, melainkan semuanya. Semua preman adalah musuh negara, sehingga ditumpas secara militer.
Dalam skala raksasa, populasi preman se-China ditandai, diburu, ditangkap, dijejalkan ke dalam truk-truk tentara, dibawa pergi, dan mereka tidak pernah terlihat lagi. Preman yang melawan mati dibantai.
Posko dan markas-markas preman dan mafia triad dikepung dan dikosongkan pasukan tentara.
Ketua-ketua organisasi preman kabur diseret ke luar dan ditembak mati oleh tentara. Tubuh mayat mereka bergelimpangan berlubang-lubang di jalan seperti anjing.
Memang, sudah sepatutnya sampah masyarakat menjijikkan diperlakukan sebagai literal sampah dan benda mati, bukannya malah disanjung oleh pejabat tinggi negara.
Nama programnya adalah Strike Hard Campaign. Kebijakan perburuan manusia ini diterapkan Deng Xiaoping di negara China selama 3 tahun.
Kota-kota dan pemukiman China pun berangsur damai, bersih, dan kondusif untuk pertumbuhan perdagangan dan pabrik.
Misal Shanghai sekarang sudah sangat bersih dan beradab. Jauh sekali dari reputasinya dulu sebagai tempat kumuh sarang gerombolan triad dan mafia di film-film kung fu zaman dahulu.
Hari ini China adalah negara industri manufaktur no. 1 di dunia.
---
Kalau disesuaikan dengan rasio jumlah populasi, hari ini Indonesia seharusnya mulai menangkap dan memusnahkan sedikitnya 350.000 orang preman. Mulai dari bos-bos tingginya dulu, atau dari sektor low hanging fruit seperti Pelabuhan Tanjung Priok.
Pembasmian preman oleh Deng Xiaoping ini dilanjutkan oleh pembasmian preman berseragam oleh Xi Jinping. 4 juta pejabat pemerintah korup ditangkap. Puluhan perwira tinggi militer boomer korup ditangkap dan tentara PLA dirombak habis agar profesional.