Baron kembali duduk di atas sofa, kedua bola matanya mengamati sekitar, pun bertanya soal tempat yang ada dalam benaknya. Jika dilihat oleh mata telanjang, tempat ini tak jauh seperti bilik karoke untuk orang-orang sebelumnya.
"Apa MAKSUD—" Baron menahan kalimatnya, ia tidak tau jika itu adalah perempuan, tak mungkin ia bersifaf kasar kepada orang baru, terkecuali kepada p/e/m/i/m/p/i/n atau bawahn mereka. "Kau kejutkan aku, kenapa ko? Macam baru liat manusia!"
@ofCelestialy Baru saja mata hendak terlelap namun suara dan lampu kerlap-kerlip menghantam alam tidurnya. Sontak si pemilik tangan kaki metal itu terkejut. "KEPALA BAPAK KAU LAH, ANJENG!" Emosinya memuncak, bayangkan saja baru selesai tapi diganggu begitu.
@princehordee Dibandingkan menanyakan nama pada @princehordee, Keira masih mempertahankan niatnya untuk datang bersenang-senang kemari. Tidak akan ia biarkan siapapun mengganggunya terlebih orang asing yang tidak jelas asal-asulnya.
@princehordee Ia hampir ingin mengajak berkelahi jika saja suara tinggi tadi tidak berubah pada sekon yang sama. “Kamu ngapain tidur di ruang karaoke? Mau aku pakai ruangannya!”
@princehordee Cahaya dari lampu berhasil menerangi ruangan, “BANGKE!”, ucap Keira dengan sedikit bahu yang tersentak menyadari ada sosok asing di hadapan yang tengah terbaring di sofa.
“Xav, ini mau di penuhin apa segini aja? Gue udah ini lu mau foto kah?” Ia mengambil langkah mundur membiarkan puan dengan ponselnya itu bekerja.
“Oh iya Rein sudah? Bisa kah itu dia Xav?” sambungnya pada Xaviera.
@vintazhour
Aku tak sengaja memotret dengan kamera depan barang super antik milik Reiss.
Unik. Aku cukup asing dengan benda pipih ini karena segalanya bisa kulakukan sendiri dengan kepalaku.