Nilai 1 uqiyah dalam konteks Hijaz waktu itu sebesar 40 dirham. Jadi, secara aritmetis, 12,5 uqiyah = 500 dirham.
Sengan standar 1 dirham = 2,975 gram perak, maka 12,5 uqiyah = 500 dirham = 1.487,5 gram perak.
Jika dikalikan harga perak April 2026 sekitar Rp39.843–Rp44.530 per gram, nilainya sekitar Rp59,26 juta sampai Rp66,24 juta.
Maka, dari perkiraan itu, mahar Kanjeng Nabi sekitar 60 jutaan saja, tidak sampai 700 juta.
60 juta itu bisa dipakai untuk resepsian di rumah atau sewa gedung. Tapi mending nikah di KUA, syukuran di rumah, dan gak perlu resepsi besar.
Resepsi (atau walimah) itu sunnah.
Jadi, 60 juta bisa dialihkan menjadi mahar.
🇮🇷Ebrahim Zolfaghari: Studied Mathematics, earned a PhD in Western Philosophy. A memorizer of the Qur’an. Speaks Persian,Arabic, English,and Hebrew
🇺🇸Hegseth: A TV charlatan, admirer of the Crusades, an alcoholic, a sex offender,and expelled from the military for being a Nazi.
Dari Korban Nazi, Justru Menjadi “Nazi” Itu Sendiri — Paradoks Israel
Di bawah ini adalah resensi Roald Dahl, seorang perwira udara Inggris, atas buku berjudul “God Cried” (terbit 1983) yg berisi laporan ttg serangan brutal Israel ke Lebanon pada 1982 yg menewaskan 25 ribu nyawa sipil dan 30 ribu korban yg terluka, dg alasan (dari pihak Israel) untuk memburu PLO yg berkantor saat itu di Lebanon.
Di paragraf2 awal tulisan ini, Dahl menulis dg nada yg hampir tidak percaya: bagaimana mungkin bangsa yg tiga puluh tujuh tahun sebelumnya menjadi korban kekejian Nazi, sekarang justru meniru kelakuan kejam Nazi itu sendiri. Dahl menyamakan Menachem Begin (saat itu PM) dan Ariel Sharon (menteri pertahanan) dengan Hitler dan Hermann Goering.
Artikel ini dimuat di Literary Review, majalah yg cukup bergengsi dan terbit di London, pada 1983.
Artikel resensi ini ditulis dg sangat bagus sekali, menggabungkan antara pengalaman pribadi Dahl sendiri (dia adalah pilot pada 1940an saat harus menerbangkan pesawat, melawan Nazi di kawasan Laut Tengah) dan ulasan atas buku itu sendiri.
Saya mengerti bahasa Persia, spoken & written. Ini terjemahannya SALAH, captionnya juga FITNAH.
Mengingat @saudinesia ini akun Wahaboy, kesalahannya pasti disengaja.
Ada akun yang sudah menulis penjelasannya, silakan simak. Link di komen.
Perjanjian Dagang Timbal Balik (Agreement on Reciprocal Trade/ART) Prabowo–Trump bukan sekadar kesepakatan ekonomi. Ini adalah babak baru kolonialisme energi dan sumber daya alam, saat kedaulatan Indonesia digadaikan atas nama investasi dan “kemakmuran bersama”.
Lewat ART, AS mendapat akses sangat luas ke sektor strategis: tambang mineral kritis (nikel, kobalt, tembaga, litium, rare earth), smelter dan kilang, distribusi hingga ekspor, bahkan layanan pembangkit listrik. Indonesia bukan hanya menjual bahan mentah, tetapi menyerahkan seluruh rantai nilai SDA.
Ini berarti kendali atas hulu–hilir kekayaan alam digeser ke tangan korporasi dan investor AS, sementara rakyat yang hidup di sekitar tambang, hutan, pesisir, dan wilayah adat akan menanggung beban kerusakan ekologis dan konflik sosial yang kian brutal.
Perjanjian ini juga memaksa Indonesia menjamin kepemilikan saham investasi AS tanpa batas di sektor tambang, bisnis karbon, perikanan, dan jasa ekosistem. Sektor-sektor yang seharusnya dijaga untuk generasi mendatang malah dijadikan ladang akumulasi modal dan spekulasi geopolitik.
Dari sisi konstitusi, ART bertabrakan dengan Pasal 33 UUD 1945: bumi, air, dan kekayaan alam dikuasai negara untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Kedaulatan dipersempit jadi urusan transaksi dagang dan rating investasi, bukan perlindungan hak rakyat dan kelestarian lingkungan.
ART juga menyalahi arah politik luar negeri bebas-aktif. Indonesia digiring masuk blok politik dagang Amerika Serikat, menjauh dari cita-cita Gerakan Non-Blok dan solidaritas Selatan–Selatan. Ini bukan kerja sama setara, tetapi penempatan diri dalam orbit kepentingan AS di era Trump.
Dalam praktiknya, ART akan mendorong ekspansi masif tambang, smelter, dan proyek energi berbasis ekstraksi di berbagai daerah—dari nikel di Kep. Sulawesi & Kep. Maluku, emas dan tembaga di Papua, sampai minyak, gas, dan panas bumi. Ruang hidup rakyat kembali jadi “wilayah pengorbanan”.
Yang disebut “peluang ekonomi” bagi investor akan berubah menjadi: perampasan tanah, kriminalisasi masyarakat adat dan petani, polusi udara dan air, krisis pangan, serta bencana ekologis berlapis di wilayah tambang dan pesisir. Imperialisme hari ini berwajah perjanjian dagang dan proyek hijau.
Kami menegaskan: perjanjian seperti ART tidak boleh diratifikasi. Ia inkonstitusional, mengingkari mandat UUD 1945, dan mengancam kedaulatan ekologi Indonesia. Kedaulatan bukan jargon diplomatik, tetapi hak rakyat untuk menentukan masa depan tanah, air, dan langitnya sendiri.
Seruan kami:
– Tolak ratifikasi ART Prabowo–Trump
– Hentikan penyerahan sektor strategis kepada korporasi asing
– Bangun politik luar negeri yang benar-benar bebas-aktif dan berpihak pada rakyat, bukan pada kartel tambang dan rezim fosil global.
Baca selengkapnya: https://t.co/0ALNo9kwzH
Benarkah Nabi Mengabarkan Yahudi Israel dan Syiah Iran Akan Bersatu Mengikuti Dajjal?
Belakangan ini beredar kembali postingan yang mengaitkan konflik Israel–Amerika melawan Iran dengan sebuah hadis dari Sahih Muslim. Hadis yang sering dikutip adalah:
يَتْبَعُ الدَّجَّالَ مِنْ يَهُودِ أَصْفَهَانَ سَبْعُونَ أَلْفًا عَلَيْهِمُ الطَّيَالِسَةُ
Artinya:
“Dajjal akan diikuti oleh tujuh puluh ribu orang Yahudi dari Isfahan yang mengenakan ṭayālisah (sejenis jubah atau selendang).”
(HR. Muslim)
Hadis ini memang sahih dan termasuk hadis eskatologis, yaitu hadis yang berbicara tentang fitnah akhir zaman.
Masalahnya bukan pada hadisnya.
Masalahnya pada narasi yang dibangun di sekeliling hadis ini.
Sebagian orang kemudian menyimpulkan:
“Tidak usah heran dengan perang hari ini. Sekarang saja mereka konflik tapi nanti mereka akan kompak menjadi musuh Islam. Rasulullah sudah mengabarkan bahwa Yahudi dan Syiah pada akhirnya akan bersatu mengikuti Dajjal.”
Sekilas terdengar meyakinkan.
Padahal kalau kita baca hadisnya dengan teliti, narasi ini tidak berasal dari hadis tersebut.
Nabi tidak pernah menyebut Syiah
Hadis itu hanya mengatakan:
“Yahudi dari Isfahan.”
Memang benar Isfahan hari ini berada di wilayah Iran.
Dan benar pula Iran modern mayoritas bermazhab Syiah.
Namun menyimpulkan bahwa hadis itu berbicara tentang Syiah adalah lompatan logika yang terlalu jauh.
Pertama, penyebutan Isfahan dalam hadis itu bersifat geografis, bukan ideologis atau mazhab.
Kedua, siapa yang bisa menjamin bahwa wilayah tertentu akan tetap berada di bawah identitas mazhab yang sama hingga akhir zaman?
Sejarah menunjukkan wilayah, bangsa, dan mazhab bisa berubah berkali-kali.
Karena itu menjadikan hadis ini sebagai bukti “koalisi Yahudi–Syiah” jelas bukan berasal dari teks hadis, melainkan dari cara kita menafsirkannya.
Hadis tidak selalu menyebut nama bangsa secara eksplisit
Dalam hadis lain tentang akhir zaman disebutkan bahwa pengikut Dajjal memiliki wajah:
“seperti perisai yang dipukul.”
Sebagian ulama klasik mencoba memahami deskripsi ini.
Misalnya Ibn Kathir berpendapat bahwa kemungkinan yang dimaksud adalah bangsa Turk.
Tetapi penting dicatat:
Nabi tidak pernah menyebut kata “Turk” dalam hadis itu.
Itu adalah interpretasi ulama, bukan teks hadis.
Dan istilah Turk dalam literatur klasik juga bukan berarti negara Turki modern.
Yang dimaksud adalah bangsa-bangsa Turkic di Asia Tengah, suku-suku nomadik yang hidup di wilayah luas seperti Turkestan dan Transoxiana.
Ini menunjukkan satu hal penting:
tafsir ulama selalu terkait dengan konteks zaman mereka.
Nama wilayah dalam hadis tidak sama dengan peta politik modern
Hadis-hadis akhir zaman juga sering menyebut nama wilayah seperti:
Khurasan – Wilayah luas di Asia Tengah dan Timur Persia pada masa klasik, mencakup sebagian besar Iran timur laut, Afghanistan, Turkmenistan, Uzbekistan, dan Tajikistan.
Syam – yang dulu meliputi Suriah, Palestina, Yordania, dan Lebanon.
Rum – Merujuk pada Kekaisaran Romawi Timur (Bizantium), yang berpusat di Konstantinopel (sekarang Istanbul).
Semua istilah ini adalah geografi dunia klasik, bukan batas negara modern seperti yang kita kenal hari ini.
Batas wilayah dalam sejarah bisa berubah berkali-kali.
Dan bisa saja berubah lagi di masa depan.
Karena itu membaca hadis-hadis ini dengan peta politik hari ini sering kali justru menyesatkan.
Bahaya membaca hadis untuk membenarkan asumsi kita
Masalah terbesar muncul ketika hadis tidak lagi dibaca untuk memahami pesan Nabi, tetapi dipakai untuk menguatkan asumsi dan opini yang sudah kita miliki sebelumnya.
Lalu kita berkata:
“Lihat, Nabi sudah mengabarkan ini sejak dulu.”
Padahal yang terjadi sebenarnya adalah:
kita memasukkan asumsi dan opini kita ke dalam hadis,
lalu mengklaim bahwa itu berasal dari Nabi.
Parahnya lagi asumsi kita itu bisa saja dipenuhi dengan kebencian pada mazhab atau kelompok tertentu.
Ini bukan cara membaca hadis yang sehat.
1/2
Ini pengisi suara (voice over) dalam acara Xpose Unscensored yang terlihat sekali nada mengejek dan melecehkannya, dia juga orang pertama yang komen di lapak online Mimin. Dasarnya memang begitu, orangnya julid.
#BoikotTrans7
TRANS7 MENAMPAR WAJAH SANTRI MENJELANG HARI SANTRI NASIONAL
Menjelang Hari Santri Nasional, @TRANS7 justru memberi kado pahit bagi dunia pesantren. Tayangan mereka melecehkan para kiai—khususnya Romo Kiai kami, KH Anwar Manshur, pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo sekaligus Rais Syuriah PWNU Jawa Timur. Beliau adalah sosok sepuh yang setiap hari masih mengajar dengan penuh kasih dan ketulusan. Dan saya yakin, beliau tidak pernah menyinggung Trans7, apalagi pemiliknya, Bapak Chairul Tanjung.
Namun apa yang dilakukan Trans7 bukan sekadar “salah tayang.” Ini penghinaan. Narasinya ngawur, dibacakan dengan gaya yang merendahkan, disertai visual dan caption yang secara sistematis membangun framing jahat terhadap para kiai. Saya tidak bisa tinggal diam. Saya tumbuh dalam tradisi kritik dan kebebasan berpendapat ala akademik Barat, tetapi yang dilakukan Trans7 bukan kebebasan pers — ini serangan terencana terhadap kehormatan pesantren.
Saya menuntut langkah tegas: Produser acara harus dipecat. Pembaca naskah dipecat. Trans7 wajib menayangkan program tandingan yang menampilkan konsep barokah, adab, disiplin, dan pendidikan karakter ala pesantren agar publik memperoleh gambaran yang berimbang.
Lihatlah, rumah KH Anwar Manshur begitu sederhana—jauh dari kemewahan. Tapi Trans7 justru membingkai seolah beliau hidup dari amplop dan kemewahan. Itu fitnah! Itu penghinaan terhadap orang yang seluruh hidupnya diabdikan untuk ilmu dan umat.
Saya menangis menonton tayangan itu.
Bukan karena Kiai kami diserang, tapi karena media sebesar Trans7 tega memproduksi penghinaan semacam ini di bulan ketika bangsa ini semestinya menghormati para santri.
Dewan Pers dan Komisi Penyiaran Indonesia jangan diam. Ini ujian bagi kredibilitas lembaga Anda. Pak Chairul Tanjung, benahi manajemen Trans7 Anda. Dan kepada para pengiklan, saya menyerukan: jangan pasang iklan di Trans7 sampai lembaga ini bertanggung jawab penuh.
Permintaan maaf atau sowan belaka tidak cukup. Luka yang mereka goreskan terlalu dalam. Ini bukan hanya soal satu Kiai — ini soal kehormatan seluruh dunia pesantren.
Salam penuh duka dan amarah,
Nadirsyah Hosen
Mas @andi_chairil, anda dan @TRANS7 gak bisa hanya minta maaf. Ini bukan cuma khilaf. Ini sudah by design untuk menghina pesantren dan meruntuhkan marwah Kiai sepuh. Kalian sengaja membuat tayangan kontroversi demi rating kan. Jahat sekali anda, Mas?!
Coba anda dengar kembali cara tim anda membacakan narasinya? Mau muntah 🤮 gak tuh dengerinnya? Sangat merendahkan.
Tuntutannya jelas:
1. Anda mesti dipecat
2. Pembaca berita mesti dipecat
3. Pak Chairul Tanjung benahi manajemen Trans7
4. Buat tayangan yang berimbang dg membahas konsep barakah, adab, disiplin, pendidikan karakter ala Pesantren
5. Buat pemasang iklan untuk sementara waktu kalian jangan pasang iklan dulu di Trans7 sampai masalahnya selesai.
Sungguh anda mengecewakan sekali Mas Andi Chairil 😡
Netanyahu memprovokasi rakyat Iran agar menggulingkan pemerintah & menjanjikan "kalo Iran sudah bebas, kami kirim ahli air, supaya rakyat Iran bisa mendapat air bersih."
Jawaban anak muda Iran👇 https://t.co/m6etJyq7uQ