@2easy4loving @fallingmonstar@tanyakanrl Aku rasa bukan menjudge sih, lebih ke konsekuensi yg memang harus diterima si anak dan si orang tua. Sederhananya jawabannya ada di Q.S An-Nur 26. Untuk menuju kesana, upgrade dan perbaiki dulu. Bisa jadi, kenalan kakak nya itu sudah tobat lebih dulu, makanya dapat hal baiknya.
@cakimiNOW Caranya, Gus? Secara R1 & R2 bakal penuh pengawalan ketat. Kalau hanya sebagai warga negara biasa, bagi "pengawal" RI 1 & RI 2, terlalu remeh temeh kalau hanya menyampaikan teguran secara langsung. Narasi nya dibuat yang logis saja, Gus.
Ave Neohistorian!
Hari ini adalah ulang tahun Wiji Thukul. Pria yang bernama asli Widji Widodo ini adalah penyair dan aktivis hak asasi manusia (HAM) yang lahir pada tanggal 26 Agustus 1963 di Surakarta, Jawa Tengah.
Wiji Thukul merupakan seorang pria cadel yang tidak bisa mengucapkan huruf โrโ dengan sempurna, tapi ia dianggap sangat berbahaya. Ia dikenal karena karyanya yang kuat dan berani dalam menyuarakan ketidakadilan sosial, hak-hak manusia, dan perlawanan terhadap rezim Orde Baru di bawah nakhoda Presiden Soeharto.
Tampilan Wiji Thukul kumal, tapi jika pria ini membaca puisi di tengah-tengah mahasiswa dan buruh, aparat keamanan mengecapnya sebagai seorang penghasut. Kalimat-kalimat yang terlontar dari mulut Wiji Thukul pun selayaknya peluru: tajam dan runcing.
Bukan cuma lewat puisi, kritiknya terhadap rezim Orde Baru tercermin dalam karyanya dan terhubung dengan pelbagai aksi protes. Dalam puisi-puisinya, seperti "Nyanyian Akar Rumput" dan "Di Tanah Negeri Ini Milikmu Cuma Tanah Air", ia mengekspresikan perlawanan terhadap masalah sosial.
Semasa hidupnya, puisi-puisinya diterbitkan di dalam dan luar negeri. Pada tahun 1989, ia diundang oleh Goethe Institut untuk membacakan puisi di Kedutaan Besar Jerman di Jakarta. Ia juga tampil di acara Pasar Malam Puisi yang diadakan oleh Erasmus Huis di Pusat Kebudayaan Belanda, Jakarta, pada tahun 1991. Wiji Thukul juga pernah menerima penghargaan Wertheim Encourage Award dari Wertheim Stichting di Belanda.
Akibat suara sang penyair yang lantang, ia kemudian lenyap pada 10 Januari 1998. Ia diduga menjadi korban dari Operasi Mantap Jaya yang dilakoni oleh Tim Mawar Kopassus. Berbeda dengan kebanyakan aktivis yang juga lenyap tak berbekas setelah Muchdi PR menjadi Danjen Kopasus per tanggal 22 Maret 1998, Wiji Tukul lenyap di masa tugas Prabowo Subianto sebagai Danjen Kopassus.
Meski begitu, dokumen DKP yang mengatur pemberhentian Prabowo tak membebankan kasus lenyapnya Wiji Tukul pada dirinya, melainkan hanya kasus pengamanan aktivis yakni Desmond Mahesa, Nezar Patria, Pius Lustrilanang dll sehingga dalang lenyapnya Wiji Tukul masih menjadi misteri hingga kini.
Penulis: Raihan Muhammad
Editor: Ivan Fauzan
Referensi:
Dokumen DKP (KEP/03/VIII/1998/DKP)
Suyono, S. J. dkk. (2013). Seri Buku TEMPO: Wiji Thukul Teka-teki Orang Hilang. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.