baca berita Jampidsus yang kudunya orang paling depan ngelawan korupsi malah ketangkep korupsi is truly the peak of absurdity in our country 😭
kekayaan yang disita LIMA RATUS EMPAT PULUH SATU MILIAR RUPIAH!
di sudut kota yang sama ada kepala keluarga yang tiap harinya cuman bisa bawa uang 70rb untuk keluarganya 😔
Bro, we're really doomed 😭
bulan lalu kan abis kebongkar sama KEJAGUNG korupsi MBG trus ketangkep lah si Dadan
trus ini korupsi petinggi KEJAGUNG (Jampidsus) dibongkar sama POLRI
BAYANGIN POLRI VS KEJAGUNG😭
KAPOLRI tuh di bawah kendali jokowi
KEJAGUNG dan TNI di bawah kendali prabowo
jokowi vs prabowo 😭😭😭
udah kayak nonton drakor njir jujur😭
@svtlogis@B_E__E___@redvelvetaras oke berarti yg di upload di surat pernyataan penghasilan cuma surat yg uda ada template dari shopee itu ya kak?
dan uda gak perlu narik data penghasilan selama setaun gitu ya?
@svtlogis@B_E__E___@redvelvetaras tapi punya ku cuma yg kayak di foto nya kakak yg ini, gak ada pilihan buat upload dokumen penghasilan itu. emg gak semua kah kak yg upload dokumen penghasilan?
https://t.co/S6rUvMGibb
guys, aku jelasin alurnya secara singkat yaaa!
kalian buka link yang aku post di atas, terus klik "cek dan lengkapi data verifikasi identitas". untuk NPWP opsional ya, bisa gaperlu diisi, setelah itu kalian isi ini
kalau gapunya SKB (karena ribet juga buatnya harus ke DJP), kalian pakai "dokumen pengecualian" aja dan di upload di "surat pernyataan penghasilan", selesai deh.
untuk dokumen pengecualian, gaperlu print + scan, kalian tinggal beli E-Materai aja langsung di web materai id
small tips from me: kalo beli tiket pesawat jangan pas weekend, better selasa or rabu! also bisa dicoba searching pake mode incognito daaan coba-coba di jam 00.00 - 06.00 karena biasanya ada release kuota promo :p
Banyak yg mencampur pertalite + pertamax turbo dengan perbandingan 3:1 utk mendapatkan RON92 dengan harga 12,700 per liter. Selain harga jadi lebih murah, kadar sulfur juga jadi lebih rendah dibanding pertamax, plus bonus aditif cleaner. Netijen ini pinter2 juga ya
cc : aditya.psi
rendang sebenernya awet bgt makanya dulu ibunya malin kundang masak rendang untuk bekal malin kundang merantau, di box makanan itu si ibu nulis:
for malin
Pernah kebayang ga fasilitas publik se-vital stasiun Kereta Api kena pemadam listrik juga??
Itu yang terjadi malam ini di Stasiun Surabaya Gubeng.
Untung aja ada backup genset. Kalau ga, gimana ngatur sinyal perjalanan ratusan KA dan proses boarding ribuan penumpang?? 😪
Gw baru sadar kalau dugaan rantai masalah di balik blackout Sumatra dan pemadaman bergilir di Jawa ternyata jauh lebih kompleks dari sekadar “gangguan teknis”.
Kalau ditarik benang merahnya, kira-kira alurnya begini:
1. Harga batu bara global turun karena oversupply.
Buat negara eksportir seperti Indonesia, harga yang turun berarti penerimaan negara dari sektor komoditas juga ikut tertekan.
2. Muncul kebijakan untuk menekan produksi.
Logikanya sederhana: kalau pasokan dikurangi, harga bisa lebih terjaga.
Di atas kertas masuk akal.
3. Masalah mulai muncul ketika kebutuhan dalam negeri tetap jalan.
PLN tetap butuh batu bara buat menghidupkan PLTU.
Listrik tetap harus nyala.
Pabrik tetap harus beroperasi.
Kebutuhan energi tidak ikut turun hanya karena produksi tambang dikurangi.
Di saat yang sama ada aturan DMO.
4. PLN mendapatkan batu bara dengan harga yang ditetapkan pemerintah dan jauh lebih murah dibanding harga pasar.
Nah di sinilah insentif mulai bertabrakan.
Dari sudut pandang pengusaha tambang, pilihan bisnisnya jadi cukup jelas.
Jual ke PLN dengan harga yang dibatasi.
Atau jual ke pasar dengan harga yang lebih tinggi.
Kalau selisihnya besar, dorongan untuk mengejar pasar jelas lebih kuat.
Akibatnya pasokan yang dibutuhkan PLN berpotensi makin ketat.
Kontrak makin sulit.
Cadangan makin tipis.
Risiko operasional mulai meningkat.
Dan ketika rantai ini terus berjalan, yang muncul di hilir bukan lagi isu batu bara.
Yang muncul adalah listrik padam.
Masyarakat cuma melihat lampu mati.
Padahal akar masalahnya bisa jadi berasal dari keputusan yang dibuat jauh di hulu.
Yang bikin gw agak kepikiran, keputusan soal kuota produksi, DMO, harga acuan, kontrak pasokan, semuanya terdengar sangat teknokratis.
Tapi efek akhirnya bisa sampai ke rumah rakyat.
Bisa sampai ke pabrik.
Bisa sampai ke UMKM.
Bisa sampai ke orang yang bahkan gak pernah baca berita energi sekalipun.
Kalau dugaan rantai masalah ini memang mendekati kenyataan, berarti yang sedang kita lihat bukan sekadar masalah PLN atau cuaca.
Ini contoh bagaimana satu kebijakan komoditas bisa menciptakan efek domino ke sektor energi.
Negara ingin harga komoditas terjaga.
PLN ingin pasokan aman.
Swasta ingin margin terbaik.
Masyarakat ingin listrik tetap nyala.
Masalahnya, empat tujuan itu tidak selalu berjalan searah.
Dan ketika salah satu bagian mulai bergeser, efeknya bisa merambat ke mana-mana.
Seperti biasa, yang paling jauh dari ruang rapat sering kali jadi yang paling dekat dengan dampaknya.