Raditya Dika : "Kenapa laki-laki jarang cerita kalau ada masalah?"
dr. Aisyah Dahlan : "Karena dia mikirkan dulu.
Menganalisa dulu.
Cari solusi dulu.
Baru cerita."
Raditya Dika : "Makanya kalau ditanya kenapa, jawabnya sering cuma 'gak apa-apa'?"
dr. Aisyah Dahlan : "Iya."
Laki-laki, emang gitu ya? 🤔
Menurut dr. Aisyah, banyak laki-laki tidak langsung bercerita saat ada masalah.
Bukan karena tidak percaya pada pasangannya
Bukan juga karena tidak peduli.
Tapi karena mereka cenderung ingin memikirkan semuanya sendiri terlebih dahulu.
Mereka mengumpulkan informasi.
Mencari solusi.
Menyusun rencana.
Baru setelah itu siap untuk bercerita.
Sementara banyak perempuan justru merasa lebih lega setelah mengeluarkan isi pikirannya.
Makanya sering terjadi salah paham.
Perempuan merasa diabaikan.
Laki-laki merasa sedang menyelesaikan masalah.
Padahal keduanya sama-sama sedang berusaha
menghadapi masalah dengan cara yang berbeda.
Kalian kalau lagi ada masalah, tim langsung cerita atau tim diam dulu?
from; hallolalalah threads
When a Russian woman met a Nigerian mother she said:
“She’s from Nigeria, i am from Russia. We don’t speak the same language but we pray with the same language. We are sisters in faith.”
Gw yg pernah setahun di SCBD
- makan di resto2 gitu ya sebulan maksimal sekali
- jajan di famima
- makan siang banyakan di sekitaran Tulodong atas, belok kiri samping Warung makan ikan goreng senopati, atau di sekitaran senopati dalam.
Linkin Park has hit the ground RUNNING! After some huge surprises in Sweden, the band brings the #FromZeroWorldTour back to Germany for two massive shows in Hamburg 🇩🇪
Catch up on the huge setlist surprises from Sweden and what might be in store for us ahead: https://t.co/3Lolqnxpla
saya sangat benci orang yang meromantisasi kemiskinan dengan menyebutnya sederhana dibalut agama, wdym bro agama tidak menyuruh putus asa untuk tetap miskin, agama nyuruh belajar, agama nyuruh kerja, nabi saudagar kaya, khadijah maharnya setara 1.3 Milyar.
Tadi pas break makan siang, gue baca artikel Laurie Whitwell di The Athletic yang judulnya:
"The inside story of how Michael Carrick saved Manchester United’s season – and made the job his own".
Article-nya lumayan panjang, tapi worth it untuk dibaca diwaktu santai. Ada satu part cerita yang menarik dan gue ngerasa harus share ini ke kalian.
Jadi waktu Carrick pertama datang di Januari, hal pertama yang dia lakuin ternyata bukan langsung pasang formasi atau teriak-teriak di sesi latihan buat langsung ngubah culture tim. Dia duduk satu-satu sama tiap pemain, dan nanya satu hal yang sangat sederhana: “menurut lo, posisi terbaik lo apa dan kenapa lo suka main di posisi tsb?”
Guys, bayangin. Skuad kita baru keluar dari era Amorim yang kata banyak pemain terasa dingin dan jauh. Trus tiba-tiba ada orang yang beneran mau duduk, dengerin, dan nganggep pendapat mereka penting. Itu bukan hal kecil buat pemain, terlebih buat mereka yang udah lama ngerasa nggak dihargai.
Dan kita semua udah liat hasilnya. Bruno dikembalikan ke nomor 10 dan sekarang mengakhiri musim sebagai Premier League Player of the Season. Mainoo yang saking terpinggirkannya, udah sempet 2x request buat dipinjemin saking suramnya masa depannya dibawah Amorim, dan sekarang baru teken kontrak sampai 2031 di Old Trafford. Skuad yang musim ini sempat keliatan hancur, pelan-pelan nyatu lagi.
Tapi yang paling bikin gue happy sebagai fans baca artikel ini adalah, bahwa setelah laga kandang terakhir musim ini, seluruh skuad ternyata pergi makan malam bersama di restoran Fenix di Manchester. Dan di makan malam tersebut suasanya digambarkan hangat bgt, nggak ada yang cabut duluan. Beberapa bahkan masih di sana sampai tengah malam.
Kapan terakhir kali kita denger cerita sesantai dan sesolid itu dari internal klub kita?
Carrick emang bukan nama paling glamor yang sempat dikaitkan ke United musim ini. Tapi rasanya dia justru yang paling ngerti apa yang skuad ini butuhkan.
#utdfocusid | @TheAthleticFC