Apakah hanya kata "bodoh" yang bisa menggambarkan kondisi
rasa yang tidak berubah,
meskipun ditujukan untuk orang yang memang tidak bersedia menerimanya,
bahkan memilih untuk meninggalkan?
Yang melepasmu saat melihat nyalamu akan padam, tak layak merayakan kembang api yang kembali menyala setelah kau selesai menyembuhkan luka lebam dalam dirimu.
“Kita bakal sampai target nggak, ya?”
“Kita baru mulai.”
“Tapi ini kita hampir enggak ada hasilnya.”
“Ya, tapi yang lain bisa kok. Pasti ada jalan.”
“Lu yakin?”
“Yakin.”
“Ya udah, ayok kita belajar lagi.”
“Peluangnya ada. Kita belum nemu kuncinya aja.”
“Harus lebih semangat, ya.”
“Semangat!”
Dua orang anak muda itu kembali pada impian yang mereka rawat. Impian yang sudah mengecewakan mereka berkali-kali. Hal yang tersisa dari mereka: keyakinan, harapan.