Tanggal 25 Mei 2026.
Mama Yasinta Moiwend dijemput dg Privete Jet Milik PT Jhonlin Group di Wanam dan di kawal oleh Ibu Kepala Distrik Ilwayab Crstin Rumlus dan Komdan Mandala Berangkat ke Merauke dan langsung ke Jakarta.
Keluarga semua tidak Tauh dan Hilang Kontak sampai tanggal 29 Mei 2026 tiba tiba mama muncul di media sosial dan media Meinstrim dan berita berita nasional terkait dg Laporan Ke Polda Metro Jaya.
Informasi dari Arnoldus Anda di Merauke
@Mulalt_@Dandhy_Laksono@BentalaRakyat@GreenpeaceID
Ditanya saat :
Siram orang dengan air keras, mereka bilang dendam pribadi.
Ketika membubarkan orang nonton Pesta Babi, mereka bilang kami dari Kodim, Tentara.
Begitulah kriminal-kriminal bekerja
Suratnya diupload saja mas. Gawat juga jika pernah kirim surat audiensi, untuk minta tanggapan, tapi malah tidak direspon. Sekarang saat filmnya sudah tayang malah mengaku sebaliknya, tidak dimintai pendapat.
Pemuka agama harus berdiri hanya pada kaki kebenaran, ndak boleh di kaki lain.
“We have recorded more than 30 incidents of the state apparatus stopping the screening — mostly by military, and then they are also using the civil servants — in the name of public order,” said #PestaBabi film director Dandhy Laksono https://t.co/VwcrKStLTd
INDONESIA 🇮🇩
Four people were seriously injured after a drone dropped a BOMB at a Catholic Church at St Paul's Church, Intan Jaya shortly after Sunday Mass
Bertujuan mendelegitimasi integrasi Papua, menekan pemerintah Indonesia secara internasional & mendorong kemerdekaan atau referendum bagi Papua.
Propaganda modern melalui film digunakan untuk menarik simpati publik global dengan menyoroti isu HAM & kerusakan lingkungan.
Yg menarik dlm film ini menurutku penggunaan kata "Kolonialisme" yg selama ini tabu dibicarakan dlm percakapan politik nasional. Film ini makin membuka mata warga bahwa mmg Indonesia telah melalukan kolonialisme di tanah Papua yg berlangsung sejak PePeRa 69 sampai sekarang.
@watchdoc_ID Hutan Pak Vincen Kwipalo yang dihargai Rp300 ribu per hektare itu berbanding terbalik dengan dana Corporate Social Responsibility (CSR) sebesar Rp2,4 miliar dari PT Tunas Sawa Erma (TSE), anak perusahaan Korindo Group yang diterima Keuskupan Agung Merauke.
@watchdoc_ID Hutan Pak Vincen Kwipalo yang dihargai Rp300 ribu per hektare itu berbanding terbalik dengan dana Corporate Social Responsibility (CSR) sebesar Rp2,4 miliar dari PT Tunas Sawa Erma (TSE), anak perusahaan Korindo Group yang diterima Keuskupan Agung Merauke.