Cekikikan bangett 😭😭 tadi tuh ada pawai obor lewat depan rumah, ramai banget. Bocah inipun akhirnya kepo dan langsung lari keluar. Aku cari cari kemana kok ga ada.. gataunya dia punya view spot sendiri 😭😭😭
untuk kakak-kakak mahasiswa yang sedang turun ke jalan, maaf karna tidak bisa ikut berdiri bersama kalian.
tapi percayalah, jarak tidak membuat kita berhenti terhubung dan peduli.
tugas kalian adalah menyuarakan aspirasi. tugas kami adalah terus mengawal, menyebarkan, dan memastikan suara itu tidak hilang di tengah jalan.
jika tidak mendapat ruang yang cukup di media nasional, kami akan mencari cara agar dunia tetap mendengar dan melihat kalian👊
sc threads|owooppa
‼️Perhatian‼️
Sebagai pengganti CCTV di bundaran Hi yang mati. banyak abang Ojol yang live Tiktok. Kalo mau support boleh kirim hadiah ke para abang ojol yang live Tiktok ya.
Salut buat abang ojol👍
apapun yang terjadi di waktu-waktu gawat, harus selalu ingat warga jaga warga, rakyat bantu rakyat, senasib sepenanggungan, jangan jadi tumbal akal-akalan alat represi perpanjangan tangan penguasa susupan ke dalam lapis-lapis barisan.
You know how brilliant their idea to choose Bundaran HI sebagai tempat "aksi" mereka adalah? It’s because they know Bundaran HI adalah pusat titik keramaian Jakarta.
Choosing Bundaran HI means maximum exposure. Akses ke semua lapisan masyarakat itu potensial banget buat attract publik. From the corporate slaves stepping out of their Sudirman offices, people commuting, to the general public—everyone is literally there. It is the ultimate hub to get eyes on your movement.
Plus di Bundaran HI, segala jenis transportasi umum ada. It’s the literal heart of Jakarta's transit. So obviously, the traffic will be disrupted. But honestly? In modern activism, that disruption is a feature, not a bug. When the traffic gets a bit chaotic, people are forced to look. It creates that instant "Wait, what’s happening over there?" effect.
As someone who used to organize actions and protests too, let’s be real for a second: pemilihan Bundaran HI ini bukan lagi buat "protes" langsung ke pihak yang diprotes.
Why? Karena ya udah pasti gak bakal didengar. Pointing fingers directly at the institutions just ends up making you tired, drained, and honestly, males banget. It’s a dead end.
Makanya mereka pilih Bundaran HI. It’s no longer about yelling at a brick wall; it’s about controling the narrative and winning the public's attention. If the authorities won't listen, you make the entire city talk about it instead. And there’s no better stage for that than Bundaran HI.
This is brilliant idea
Siapapun kordinator demo yg punya ide ini itu manusia cerdas
Karena dia mengkomunikasikan pesan silent majority ke permukaan publik
tuhan melindungi setiap langkah mereka yang turun ke jalan hari ini. terima kasih sudah memperjuangkan kepentingan semua orang. doa baik selalu. ✊🇮🇩 tinju ke atas.
real merinding liat situasi hari ini
teringat kata kata ki haja dewantara
- Ing Ngarso Sung Tulada (Di depan memberi teladan)
- Ing Madya Mangun Karsa (Di tengah membangun/membangkitkan semangat)
- Tut Wuri Handayani (Di belakang memberikan dorongan/arahan)
hari ini terjadi :
- para ojol (orangtua) buka jalan
- mahasiswa mengikuti dari belakang
- ibu ibu,relawan membantu menyiapkan logistik
merinding gini dengernya
"Tolong! Negara lagi ga baik2 aja!" 💔💔💔
walaupun itu semboyan pendidikan
tapi kerasa banget hari ini dah
warga bantu bantu
tanpa ada pemerintah dan media