Empat syarat Kartini sebelum (terpaksa) mau dipoligami:
1. Boleh mendirikan sekolah & mengajar untuk putri di Rembang, melanjutkan cita-citanya memajukan pendidikan perempuan.
2. Penolakan adat feodal dalam upacara pernikahan: tidak mau berjalan jongkok di belakang suami, tidak berlutut, tidak menyembah/mencium kaki suami.
3. Kesetaraan bahasa: berbicara dengan suami menggunakan bahasa Jawa Ngoko (bahasa sehari-hari setara), bukan Krama Inggil (bahasa hormat yang menunjukkan hierarki istri lebih rendah).
4. Boleh membawa ahli ukir dari Jepara ke Rembang untuk mengembangkan kerajinan secara komersial sebagai kegiatan ekonomi perempuan.
Semua syarat ini (sangat progresif & radikal pada masa itu) dipenuhi oleh calon suaminya, Bupati Rembang Raden Adipati Djojoadiningrat.
Kartini melihat poligami sebagai bentuk penindasan terbesar terhadap perempuan. Ia menyaksikan langsung penderitaan ibunya, Ngasirah, yang dimadu oleh ayahnya. Dalam surat-suratnya, ia menulis dengan getir bahwa tak ada perempuan yang bahagia dimadu, & laki-laki yang memadu kehilangan kehormatan. Poligami dianggapnya sebagai "dosa" yang membuat perempuan menjadi saingan dan korban, sementara laki-laki bebas. Ia juga menolak pernikahan paksa dengan orang asing yang belum dikenal, karena cinta sejati harus dimulai dari rasa hormat, bukan paksaan adat.
Namun, pada 1903, Kartini di usia 24 tahun (dianggap perawan tua yang memalukan keluarga ningrat pada masa itu) terpaksa menikah dengan Raden Adipati Ario Djojoadiningrat, Bupati Rembang yang jauh lebih tua (~25 tahun) & sudah punya 3 istri (salah satunya baru meninggal) karena tekanan budaya feodal priyayi pada masa itu & karena ayahnya, R.M. Adipati Ario Sosroningrat, sakit serta terus "dibully" teman-temannya karena anak perempuannya belum menikah.
“Saya telah berjuang, bergulat, menderita, dan saya tidak dapat menjadikan nasib celaka Ayah, dan dengan demikian membawa bencana bagi semua yang saya cintai." (Surat Kartini kepada Abendanon, 14 Juli 1903)
Meski seumur hidup menentang poligami & pernikahan paksa, Kartini terpaksa mengalahkan idealismenya, terpaksa menanggalkan egoismenya, serta harus berkompromi dengan realitas sosial feodal Jawa demi menjaga kehormatan ayah & keluarga yang dicintainya.
Tekanan budaya feodal & partriarkis kelas priyayi pada masa itu terlalu kuat & ketat, di mana poligami & pernikahan paksa merupakan norma adat (diperkuat ajaran agama), sehingga meskipun Kartini sempat menolak keras, beliau kalah, beliau akhirnya terpaksa menerima pernikahan poligami itu.
Kartini tetap melanjutkan perjuangan emansipasi & pendidikan perempuan dari dalam pernikahan, meski hanya berlangsung singkat karena beliau wafat 4 hari setelah melahirkan anak pertamanya pada pada 17 September 1904 di usia 25 tahun.
Penyebab utama kematiannya adalah komplikasi persalinan, diduga akibat preeklampsia (tekanan darah tinggi pada kehamilan yang dapat memicu kejang dan kegagalan organ). Tragedi ini sangat ironis karena Kartini baru saja mulai mewujudkan cita-citanya setelah menikah, yang salah satu visinya tentu saja untuk meningkatkan akses kesehatan yang lebih baik bagi perempuan, khususnya kesehatan reproduksi & maternal (masa kehamilan, persalinan, & pasca melahirkan).
Alfatihah untuk Ibu Kartini, damai di surga 🌹🌷🌼💐🌺🌸🪻
@Lusbowln@neohistoria_id jujurrr ini bukti kalo emang lu ga sepeduli itu sama perempuan, instead of membantu atau atleast berdiskusi tapi yaudah selama gw ga dirugikan kenapa jadi urusan gw ya kan 🤙🤙🤙
men call us dramatic and overreact for hating them when this is exactly how they think and talk about women on a daily basis. they just casually objectify and degrade us like its not a big deal.
@HidupTrans@Xuanzi999@anuyaruby@wheiviwas@myname_ap@neohistoria_id kita pake perumpaan di kasir alfamart ya, dengan durasi pelayanan yang sama, flow 1 kasir dengan 2 kasir jelas beda. gitu aja. artinya dengan durasi pemakaian yang sama antara 1 bilik toilet dan 2 bilik toilet jelas bisa mempercepat antrian.
tongkrongan cowok lebih less drama because none of y'all had the balls to call out your ‘bros’ nor the brain to actually think what's wrong with y'alls obrolan tongkrongan
Banyak bgt yang gak paham postingan ini, bahkan nyuruh cewek kencing brdiri. Lu pada ga ngerasain mens kyk cewek, permasalahan cewek lama di toilet mlh di reduksi krna “lama dandannya. Padahal emng semestinya cewek dpt bilik lebih bayak daripada cowok karena pemakaiannya beda.
the bar is so low sampe lu ngerasa ngelecehin perempuan di private group chat adalah hal yang “masih mending”.
kalo manusia waras betulan, lu ga akan ngelakuin atau kepikiran hal itu on the first place 😹
@Xuanzi999@mwlna1002@neohistoria_id kalo hak ‘sekecil’ toilet aja cowo2 masih ngerasa ga fair entah karna dapet bilik yang lebih kecil/sedikit, mungkin bisa dipertanyakan kemanusiaannya sih. dengan jumlah bilik yang sama + urinoir padahal itu juga sebuah privilege bagi cowo2 karna bisa milih antara bilik & urinoir
Ribuan orang meninggal karena bencana, kelaparan & tempat tinggalnya hancur
Saat ada bantuan, konvoi bantuan dibubarkan, warga digebuk tentara, akses jurnalis pun dibatasi
Aceh people have nothing left, literally NOTHING LEFT!
Tell me how this is not a state terrorism?