Mengirim doa untuk kawan yang hari ini turun ke jalan,
Semoga diberi kelancaran, keberanian, dan kekuatan.
Waspada, kawan!
perhatikan, awasi penyusupan,
Sebab demonstrasi yang kacau seringnya sih bermula dari provokasi dan hasutan.
#Gempa Mag:7.7, 15-Aug-2026 04:58:24WIB, Lok:8.35LS, 121.37BT (36 km TimurLaut MBAY-NAGEKEO-NTT), Kedlmn:10 Km #BMKG
Disclaimer:Informasi ini mengutamakan kecepatan, sehingga hasil pengolahan data belum stabil dan bisa berubah seiring kelengkapan data
Pembodohan Publik tentang Desil dan Orang Kaya
Pemerintah mewacanakan pembatasan Pertalite untuk desil 9–10 dengan menyebutnya “orang kaya”.
Ranking administratif dipelintir demi melegitimasi pencabutan subsidi ini layak Ini disebut sebagai pembodohan publik.
Kenapa?
Narasi “desil 9 = kaya” dan “desil 10 = elite” bermasalah sejak definisinya.
Desil pada DTSEN adalah peringkat relatif kesejahteraan, bukan kelas sosial absolut.
D1 = 10% terbawah
...
D9 = persentil 81–90
D10 = 10% teratas.
Sekarang bandingkan dengan distribusi kesejahteraan BPS September 2024:
• miskin: 8,57%
• rentan miskin: 24,42%
• menuju kelas menengah: 49,29%
• kelas menengah: 17,25%
• kelas atas: 0,46%
Artinya 82,28% penduduk bahkan belum masuk kelas menengah, sementara kelompok yang dikategorikan kelas atas hanya 0,46% populasi.
Kalau distribusi ini dipetakan ke persentil:
P1–P8,57 = miskin
P8,58–P32,99 = rentan miskin
P33–P82,28 = menuju kelas menengah
P82,29–P99,54 = kelas menengah
P99,55–P100 = kelas atas (kaya)
Kalau didistribusikan ke desil:
D1: 85,7% miskin + 14,3% rentan miskin
D2: 100% rentan miskin
D3: 100% rentan miskin
D4: 29,9% rentan miskin + 70,1% menuju kelas menengah
D5: 100% menuju kelas menengah
D6: 100% menuju kelas menengah
D7: 100% menuju kelas menengah
D8: 100% menuju kelas menengah
D9: 22,8% menuju kelas menengah + 77,2% kelas menengah
D10: 95,4% kelas menengah + 4,6% kelas atas
Jadi D9 praktis tidak memiliki kelompok kelas atas atau orang kaya sama sekali.
Kelas atas baru muncul sekitar P99,55, atau hanya setengah persen paling ujung dari distribusi.
Desil 10 mencakup 10% penduduk.
Kelas atas menurut BPS cuma 0,46%.
D10 sendiri juga sangat heterogen.
P91, P95, P99, dan P99,9 memiliki kemampuan ekonomi yang sangat berbeda.
World Inequality Report menunjukkan:
• top 10% menerima 46,2% pendapatan nasional
• top 1% sendiri menerima 17,6%
Untuk kekayaan:
• top 10% menguasai 59,4%
• top 1% sendiri menguasai 19,9%
Jadi konsentrasi kekayaan di bagian paling atas sangat besar. Memasukkan profesional mapan, pengusaha, eksekutif, dan konglomerat ke satu kelompok lalu menyebut semuanya “elite” menghapus struktur distribusi yang sebenarnya.
Sebaiknya pemerintah berhenti melakukan pembodohan publik dengan menyederhanakan struktur kesejahteraan seenaknya.
Ketika kelas menengah, affluent, dan kelompok superkaya dicampur dalam satu label, kebijakan yang lahir dari kategorisasi itu sangat mudah salah sasaran.
jangankan yang baru mau apply, aku kak, udah kerja remote sama company Malaysia selama 5 tahun tapi masih gak selamat dari politik indo wkwkwk
di company tempat aku kerja, semua staff indo diPHK termasuk aku. padahal kami slalu achieve KPI, masing2 dari kami udah punya penghargaan dari kantor.
alasannya bukan soal skill kami, bukan juga kesalahan kami. tau alasannya apa? HR kantorku blak2an bilang di grup “kami khawatir liat politik indonesia” 🙂
kerasa banget cari kerjaan sekarang sesusah itu, ditambah keadaan politik indonesia bikin kita makin susah buat tembus ke luar.
Sebuah pengingat buat para tekbros kurang2in bacod, pekerjaan kalian ga sekeren itu kok.
Kebanyakan pekerjaan kalian ga se-esensial perawat lansia, petani, dan blue collars lainnya.
Kerjo mek ngongkan ngongkon claude bacod e koyok wes mbangun piramid.
Stay humble 🙏🏻
Prabowo Minta 'Tak Usah Pertanyakan' TNI-Polri Turun ke Sawah:
"Sudah enggak usah terlalu, 'Apa lah ini? Prosedur ini apa, kenapa tentara ikut di sawah? Kenapa polisi ikut tanam jagung?'."
Prabowo Minta 'Tak Usah Pertanyakan' TNI-Polri Turun ke Sawah:
"Sudah enggak usah terlalu, 'Apa lah ini? Prosedur ini apa, kenapa tentara ikut di sawah? Kenapa polisi ikut tanam jagung?'."
Gak ada yang lebih ironis dari kisah Prof. Bambang Hero Saharjo. Ilmuwan yang berjuang nyelametin hutan Indonesia dari kebakaran, malah digugat Rp510 Miliar di negeri sendiri oleh korporat sawit.
Tahun 2018, dosen IPB ini dituntut dengan angka fantastis itu cuma karena beliau jadi saksi ahli KLHK buat ngebongkar kasus pembakaran hutan di Riau. Analisis ilmiahnya yang akurat malah dibalas teror hukum yang nyaris ngehancurin kariernya.
Tapi plot twist-nya bikin nampar muka hukum kita: Di saat dalam negeri beliau ditekan habis-habisan, tahun 2019 lembaga internasional di London, Inggris, justru menganugerahi beliau John Maddox Prize—salah satu penghargaan tertinggi buat ilmuwan paling berani di dunia.
Bukti nyata kalau di negeri ini, jujur dan pakai ilmu buat bela alam itu taruhannya bisa miskin tujuh turunan digugat mafia.
Ingat nama ibu Papua ini:
Melkiana Duwitau, ibu hamil 31 tahun, tewas dibunuh peluru tentara saat sedang hamil 32 minggu akibat operasi militer
Kampung Wandoga, Distrik Sugapa, Kab. Intan Jaya
Never forget, never forgive
Innalilahi wa innailaihi raji'un 🥀
Turut berduka cita atas meninggalnya kiper Palestina, Saleem Al-Ashqar, yang berusia 32 tahun.
Ia meninggal setelah ditembak oleh pasukan Israel pada 30 Juni kemarin di jalur Gaza.
Saleem dilaporkan baru menikah 5 bulan, istrinya hamil anak pertama, dan ia sedang mencoba mendapatkan air saat kejadian tersebut terjadi.
🚨 Rakyat Papua di Intan Jaya melakukan long march atas kejadian pembantaian beruntun oleh TNI. #PapuaDaruratMiliter
- Ibu Merkina Duwitau & bayi tujuh bulan dalam kandungan meninggal kena peluru TNI nyasar
- Bapak Pendeta Elianus GKII dan Okto Tigau usia 19 tahun tewas ditembak aparat,
- Pastur Gereja Katolik Yanuarius dan 2 pekerja gereja yang mobilnya ditembaki.
This is so heartbreaking 💔💔
#IndonesiaGelap