ILMU NOL
Pada akhirnya, manusia akan sampai pada satu kesadaran, bahwa dirinya terbatas.
Ilmu, tenaga, pengaruh, jaringan, bahkan kemampuannya melawan ketidakadilan memiliki batas.
Namun keterbatasan bukan alasan untuk berhenti.
Saya tetap berikhtiar, berkata benar menurut pengetahuan saya, bekerja, berdoa, dan bertahan.
Dan terus berjuang.
Saya tidak perlu menjadi lebih besar daripada lawan saya. Saya hanya perlu melakukan apa yang mampu saya lakukan dengan sebaik-baiknya.
Jika di hadapan saya berdiri kekuatan besar, dengan kekayaan, kekuasaan, jaringan, dan pengaruh, saya tidak akan mengukurnya dengan kekuatan saya.
Karena saya tahu:
kekuatan saya terbatas.
Tetapi,
Kekuasaan Allah tidak terbatas.
Maka setelah seluruh ikhtiar dilakukan, saya memilih sampai pada titik nol.
Bukan menyerah kepada manusia, kekuasaan, atau ketakutan.
Tetapi menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah Azza wa Jalla.
Saya menyebutnya:
ILMU PASRAH.
ILMU NOL.
ILMU KOSONG.
Ketika merasa tidak memiliki apa-apa, saya belajar bahwa memang tidak pernah memiliki apa-apa.
Ilmu, kekuatan, kehidupan, dan kemenangan adalah milik-Nya.
Saya hanya menjalankan amanah sebagai manusia.
Setelah itu,
saya serahkan semuanya kepada Allah.
Saat ini,
Saya telah sampai pada titik keberanian yang paling sunyi:
Saya tidak takut apa pun.
Karena semua yang terjadi adalah atas kehendak Allah.
Biarlah Allah membuka jalan yang tidak saya lihat, menggerakkan hati yang tidak mampu saya gerakkan, menghentikan tangan yang tidak mampu saya hentikan, dan menghadirkan pertolongan dari arah yang tidak pernah saya duga.
Ketika benar-benar sampai pada titik nol, saya tidak lagi bertanya:
"Seberapa kuat saya?"
Saya hanya bertanya:
"Apakah Allah bersama saya? "
Jawabannya:
YA.
Sepenuhnya.
Saya pasrah.
Saya berserah.
Saya tawakal.
Saya kembali menjadi nol,
agar kesombongan tentang kemampuan diri lenyap,
dan yang tersisa hanya:
ALLAH.
Hasbunallahu wa ni'mal wakil.
Nikmal maula wanikman nashiir.
Allah cukup bagi kami, dan Dia sebaik-baik tempat berserah.
Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Jati, Desa Jati, Jaten, Karanganyar, Abra Yodha Raya, mengaku muntah usai mencicipi menu Makan Bergizi Gratis (MBG) pada 12 Agustus 2026.
Abra mengatakan kejadian itu bermula saat dirinya mendapat laporan menu MBG ayam rempah itu muncul bau mencurigakan. Mendapat laporan tersebut, dirinya berinisiatif mencicipi sebelum didistribusikan.
“Saya muntah-muntah, mual, dan pusing. Yang mencicipi ada saya, bagian pengolahan juga ikut semua, ada ahli gizi, jadi sekitar 10 orang. Hanya saya yang keracunan,” kata Abra, Sabtu (12/9).
Abra menyebut bahwa menu tersebut dimasak untuk batch kedua untuk 300 penerima, tapi beruntung belum dimakan oleh penerima.
“Sebanyak 300 porsi yang sudah dibagikan ditarik kembali. Hal itu dilakukan sebagai bentuk antisipasi dari SPPG. Tidak sampai ada korban pada siswa. Itu untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan,” kata dia.
📸: Dok. Istimewa.
Baca selengkapnya dengan klik link di bio. Cari tahu berita update lainnya dengan download aplikasi kumparan di App Store atau Google Play.
📝: newsupdate | update | news | oneliner | R176 | E023 | E169
#bicarafaktalewatberita #kumparan
Utang Kopdes Merah Putih jatuh tempo bulan September dan mau dibayar pakai Dana Desa? Tenang, rakyat desa kan emang paling ikhlas kalau jalan rusak atau posyandu terbengkalai, yang penting utang program pusat lunas! 👏