dana bpjs dialihkan buat program mbg dan iuran bop, sekali mendayung langsung menggenosida dua negara, bener2 si paling expert melanggar ham, layak dijadikan bahan studi
aku pake IUD. aku selalu ngeluh sakit, capek dikit sakit, buat hb kadang sakit. suami nyaranin buat cek ke dokter, dan dokternya bilang apa?
"suaminya ada keluhan nggak bu? kerasa kegesek benangnya nggak?"
aku jawab "nggak ada sih bu"
dijawab lagi sama dokternya-
Cetak sawah digarap Jhonlin Group, proyek tanam tebu digarap 10 koporasi raja gula
Dan di sana, ada 50.000 masy adat Papua di 40 kampung (Malind, Yeinan, Kimahima, Maklew) yang terancam digusur proyek
Read that again & let it sink in
Kebayang daya rusaknya bakal sebesar apa?
Police are class traitors and will always stand between the people and meaningful change to the status quo. During every revolution in modern history they have fought on the side of the oppressors.
Characters that are written as critique to toxic masculinity behave the same as characters tha glorify it.
Which I'm no saying it's bad, but it shows why it hard get that point accross because how much more movies glorify this type of characters as "morally complex antiheroes".
Bencana di Sumatera seharusnya jadi peringatan keras agar pemerintah berhenti menghancurkan hutan.
Namun Presiden @prabowo malah menyemai bencana lewat ambisi swasembada energi (bioetanol) yang menyasar hutan seluas 6x Jakarta untuk kebun tebu di Merauke.
#TolakPSNMerauke
When a president owns nearly 100K Ha of pulpwood plantation in the region wrecked by floods & landslides that killed hundreds of his own citizens, he can't plausibly lead the country out of crisis. He is part of the crisis.
Jakarta Post X Omong-Omong:
https://t.co/SzCrKMEvCR
Satu juta. Angka itu bukan statistik. Itu adalah 1.057.482 tatapan kosong di tenda pengungsian, bau basah dari pakaian yang tak sempat diselamatkan, dan 961 kursi kosong di meja makan yang takkan pernah terisi lagi.
Kau tahu apa yang paling menjijikkan dari data 961 nyawa melayang dan hampir seribu orang hilang ini? Estimasi biaya pemulihan.
BNPB bilang, butuh Rp51,82 triliun untuk memulihkan Aceh, Sumbar, dan Sumut. Bayangkan. Kerugian yang disebabkan oleh kelalaian sistematis pembalakan liar, tata ruang abal-abal, dan penegakan hukum tumpul terhadap korporasi perusak kini harus ditanggung negara. Uang kita.
Pejabat datang, pasang wajah prihatin di depan kamera, bilang "Indonesia Mampu Atasi Musibah". Mereka memastikan APBN cukup (Kata Mensesneg 3 Des 2025). Tentu saja cukup! Anggaran untuk event pencitraan, studi banding, atau food security project yang tiba-tiba muncul, angkanya jauh lebih berani.
Lihat kontrasnya:
Biaya pemulihan: Rp51,82 Triliun.
Bantuan yang diserahkan Menag tahap awal: Rp155 Miliar (fakta, 2 Des 2025) – mayoritas dari donasi Baznas dan lembaga lain, bukan murni kucuran APBN Penuh.
Korban meninggal hampir 1.000 jiwa, tapi Pemerintah Pusat TIDAK MAU menetapkan status Bencana Nasional (fakta, dikritik ekonom karena membatasi ruang fiskal darurat - 1 Des 2025). Kenapa? Karena menetapkan Bencana Nasional berarti pejabat harus kerja, bukan pencitraan. Itu berarti membuka dompet sebesar-besarnya, bukan sekadar mengirim 3-4 pesawat Hercules berisi mi instan.
Sementara anak-anak di pengungsian merindukan satu piring nasi hangat, elite di Jakarta sibuk berdebat: Apakah lebih penting kerja lapangan atau administrasi? (fakta, alasan belum ditetapkan Bencana Nasional - 3 Des 2025).
Jutaan nyawa terancam. Ribuan hilang. Puluhan triliun rupiah ludes karena keserakahan yang dilegalkan. Dan kita, yang kehilangan saudara, hanya bisa melihat mereka beradu argumen di podium.
Kita menabur kemanusiaan, yang kita tuai hanya lip service dan angka kerugian yang membengkak.