¿Universidades sin Sociología?
La idea comienza a recorrer los campus de EEUU🇺🇸: si una disciplina no garantiza empleabilidad o buenos salarios, quizá debería perder espacio.
The Economist se suma al absurdo: afirma que la caída en la matrícula de sociología y en general las humanidades es una “buena noticia”, porque los jóvenes responden a incentivos… genios.
La tendencia en México🇲🇽 preocupa: en 10 años la matrícula en estos programas ha caído sistemáticamente.
Vivimos entre IA🤖, desinformación, polarización, violencia y crisis de confianza institucional. Es cuando más necesitamos comprender a la sociedad, y cuando menos jóvenes quieren estudiarla.
La Sociología necesita autocrítica: más rigor, pluralidad y menos dogmatismo. Pero eliminarla sería confundir educación con capacitación y empleabilidad con ciudadanía.
La universidad no es un centro de adiestramiento laboral. Es un gimnasio del pensamiento.
Comparto mi artículo en @Milenio
https://t.co/aq3ngj5cbj
Nobody tells you how hard it is to rewire your brain so you can allow amazing things to happen to you after so much trauma or hurt. Blessings exist, good people exist, a softer life exists. Let it happen.
Baru beres nonton video ini di yt.
Dan saya tersadarkan kalo menjamurnya org yg jualan seblak, cilok, gorengan dan pedagang olahan tepung lainnya di jalanan bukanlah tanda kebangkitan ekonomi rakyat, tpi sinyal keputusasaan (necessity entrepreneurship) untuk menutupi status pengangguran.
Setidaknya ada 6 poin yg saya dapati :
• Jebakan low barrier to entry: Bisnis olahan tepung dipilih cuma krn modalnya murah dan gk butuh keahlian khusus.
Dampaknya, terjadi ledakan keseragaman yg memicu kanibalisme ekonomi (sesama pedagang kecil saling mematikan di radius beberapa meter saja)
• Romantisasi penderitaan oleh negara: Narasi "UMKM Pahlawan Ekonomi" dikritik sebagai alat politik agar negara bisa lepas tangan dari kewajiban menyediakan lapangan kerja formal dan jaring pengaman sosial.
• Paradoks data pengangguran: Angka pengangguran resmi terlihat turun, tpi pekerja sektor informal melonjak smpe 60%. Ini adalah fenomena pengangguran terselubung, tercatat bekerja, tapi pendapatan minim dan gk menentu.
• Perang Harga vs Hancurnya Daya Beli: Di tengah inflasi dan turunnya kasta kelas menengah, merek bukan lagi faktor penting. Pedagang terpaksa memotong margin keuntungan demi mempertahankan konsumen yg sensitif harga.
• Ironi "Negara Tepung" yg 100% Impor: Indonesia menopang jutaan pedagang kecil dari komoditas yg gak bisa tumbuh di tanah sendiri. Ketergantungan impor gandum yg mutlak membuat nasib pedagang cilok di jalanan sangat rentan terhadap konflik geopolitik dunia dan kurs Dolar.
• Model bisnis ini udah di titik jenuh. Para pedagang seperti berjalan di tempat, bekerja keras 12 jam sehari menghirup asap jalanan, tetapi posisi finansialnya gk bergeser maju sama sekali.
Source : https://t.co/YnzpIZpO3L
@straits_times This is hilariously dumb
In some ways he is kinda like Trump but trump pretends to be dumb while he is seriously dumb.
Why is he the president?
Seskab Letkol Teddy Indra Wijaya mengatur ketat arus informasi istana.
Mulai dari meminta wartawan memberitakan yang baik-baik saja, hingga menelpon manajemen dan petinggi media saat tidak suka dengan isi pemberitaan.
#DeadPressSociety#YaAkuBakalDibaca https://t.co/O6XCuqB4dA