Cerita ini datang dari seorang supir travel malam bernama Mas Bayu, yang sering bolak-balik rute Semarang–Jakarta lewat jalur Pantura sekitar tahun 2018-an.
Waktu itu sekitar jam 1 malam, jalanan Pantura di daerah Subang ke arah Karawang lagi sepi banget dan gerimis tipis. Mas Bayu cuma membawa satu penumpang di kursi depan, seorang bapak-bapak yang dari tadi udah tertidur lelap.
Pas lagi fokus menyetir dengan kecepatan sedang, di pinggir jalan yang minim penerangan—dekat area persawahan dan kebun tua—Mas Bayu melihat ada seorang wanita berdiri sendirian. Wanita itu pakai baju terusan warna putih kusam, rambutnya sebahu, dan melambaikan tangan seperti orang lagi cegat angkutan.
Karena merasa kasihan malam-malam hujan ada cewek sendirian di jalan sepi, Mas Bayu pelan-pelan menepi dan buka kaca jendela sebelah kiri.
"Mau ke mana, Mbak?" tanyanya ramah.
Wanita itu tersenyum tipis, tapi matanya agak sembap dan tatapannya datar banget. "Ke arah Cikampek, Mas... Boleh ikut sampai depan gerbang tol?"
Mas Bayu yang mikir "daripada dia sendirian di jalan berbahaya", akhirnya mengangguk. "Boleh Mbak, masuk aja di jok belakang."
Mbaknya pun membuka pintu tengah dan duduk di barisan kedua. Sepanjang jalan, kondisi mobil mendadak jadi dingin banget, jauh lebih dingin dari biasanya padahal suhu AC standar. Mas Bayu coba mengajak ngobrol lewat kaca spion tengah.
"Mbaknya kok malam-malam sendiri di situ? Habis dari rumah saudara ya?"
Gak ada jawaban. Pas Mas Bayu lirik spion tengah... Mbaknya cuma duduk tegap menatap lurus ke depan tanpa berkedip sedikit pun. Mas Bayu mulai merasa agak aneh, tapi dia berusaha positif thinking mungkin mbaknya lagi capek atau stres.
Sekitar 15 menit berlalu, bapak-bapak penumpang di sebelah Mas Bayu mendadak terbangun. Bapak itu mengusap mukanya, lalu secara refleks nengok ke belakang lewat spion tengah.
Tiba-tiba, badan bapak itu tegang seketika. Mukanya langsung pucat pasi. Dia memegang lengan Mas Bayu kuat-kuat sambil berbisik dengan suara gemetaran yang pelan banget:
"Mas... Lu jangan nengok belakang... Injak gas aja terus..."
Mas Bayu bingung dan langsung kaget. "Kenapa, Pak?"
Bapak itu membisikkan sesuatu yang bikin darah Mas Bayu serasa berhenti mengalir:
"Mas, dari tadi pas saya bangun... cewek di belakang itu kepalanya nempel di langit-langit mobil, tapi badannya melayang di atas kursi... dan matanya melotot ngelihatin leher kamu dari belakang."
Jantung Mas Bayu langsung berdegup kencang luar biasa. Dia gak berani sama sekali melirik spion tengah lagi. Dengan tangan gemetaran dan keringat dingin bercucuran, dia langsung menginjak pedal gas dalam-dalam menuju pos polisi atau rest area terdekat.
Anehnya, bau wangi bunga melati yang sangat menyengat langsung memenuhi seluruh kabin mobil. Dan tepat saat mobil mereka melewati lampu penerangan jalan di dekat gerbang tol, terdengar suara tawa melengking yang sangat halus di telinga Mas Bayu, tepat di belakang lehernya:
"Khhhh... Makasih ya, Mas..."
Begitu mobil berhenti di area terang dekat pos gerbang tol, Mas Bayu dan bapak penumpang itu langsung loncat keluar dari mobil. Pas pintu belakang dibuka... jok belakang kosong melompong.
Cuma ada satu hal yang tertinggal di atas jok kulit tempat cewek itu duduk: genangan air keruh yang baunya persis seperti air selokan tua dan tanah kuburan.
Kisah ini dialami sama Mas Doni, seorang penjaga gerbang tol di jalur pantura-tengah pertengahan tahun 2023.
Malam itu sekitar jam tiga pagi, udara di pos tol dingin banget dan kabut tipis mulai turun. Gardu tempat Mas Doni tugas itu gardu paling ujung, dekat sama area pepohonan jati yang sepi. Shift malam jam segitu biasanya udah sepi banget, cuma ada satu dua truk fuso yang lewat.
Pas Mas Doni lagi ngatur struk di meja, dari kejauhan terdengar suara sirine samar-samar.
Nguung... nguung... nguung...
Suaranya aneh, bukan kayak sirine ambulans modern yang nyaring, tapi lebih kayak suara sirine zaman dulu yang berat dan agak beratmosfer tua.
Mas Doni ngira itu ambulans rumah sakit yang lagi bawa pasien darurat mau masuk tol. Dia langsung siap-siap di dalam gardu, nunggu mobil itu lewat.
Beberapa detik kemudian, muncul satu mobil dari balik kabut. Tapi pas mobilnya makin dekat, Mas Doni langsung ngerasa ada yang janggal.
Mobil itu bukan ambulans putih biasa, melainkan mobil ambulan tua karoseri hitam keluaran tahun 70-an. Kacanya gelap banget sampai hitam pekat, dan di atapnya ada lampu rotator merah yang berputar pelan memancarkan cahaya redup.
Yang bikin aneh, mobil itu jalan pelan banget—sekitar 20 km/jam—tanpa ada suara mesin. Cuma suara sirine berat itu yang memenuhi udara malam.
Mobil itu berhenti tepat di samping gardu Mas Doni.
Mas Doni nunggu pengemudinya buka kaca atau nempel kartu tol. Tapi kaca pintu depan tetap tertutup rapat. Mas Doni yang berusaha melihat ke dalam lewat kaca samping cuma bisa liat bayangan hitam kaku di balik kemudi.
"Pagi, Pak. Mau ke arah mana? Tolong kartunya ditatap ya," kata Mas Doni dari dalam gardu sambil mengintip.
Enggak ada jawaban. Suasana di sekitar gardu mendadak jadi hening cipta. Suara jangkrik sama hembusan angin malam hilang total. Bau yang tercium bukan bau bensin atau asap knalpot, tapi bau bunga kantil basah bercampur kapur barus yang menyengat banget sampai bikin hidung Mas Doni perih.
Tiba-tiba, kaca pintu belakang mobil ambulans itu meluncur turun sendiri pelan-pelan.
Mas Doni refleks nyorot pakai lampu gardu ke arah dalam kabin belakang.
Di dalam kabin belakang, enggak ada keranda atau ranjang pasien. Yang ada cuma sebuah bangku kayu panjang, dan di atas bangku itu duduk sosok tinggi besar memakai pakaian kain kafan yang sudah kecokelatan penuh bercak tanah kering.
Sosok itu posisinya duduk tegak kaku. Dan tepat pas lampu gardu mengenai mukanya, ikatan kain kafan di atas kepalanya pelan-pelan terlepas sendiri, meluncur jatuh ke pangkuannya.
Muka di balik kain itu hitam hangus seperti bekas terbakar, dengan kedua kelopak mata yang kosong bolong tanpa bola mata. Mulutnya yang terbuka lebar mengeluarkkan uap dingin, lalu dari dalam tenggorokannya keluar suara bisikan halus tapi jelas banget di telinga Mas Doni:
"Kamu... ikut... giliranmu besok..."
Seketika itu juga, lampu gardu tol kedap-kedip lalu mati total (cekak!).
Mas Doni teriak histeris sambil jongkok merem erat-erat di bawah meja gardu, menutupi telinganya rapat-rapat. Dia terus berdoa sampai terdengar suara klakson truk fuso kencang dari belakang yang bikin dia kaget dan terbangun.
Pas lampu gardu nyala lagi dan Mas Doni nengok ke luar, mobil ambulans hitam itu sudah lenyap tanpa bekas. Tapi di atas kaca pembatas gardu tol, tertinggal telapak tangan berdebu tanah makam yang menempel jelas.
Waktu itu sekitar akhir tahun 2020. Namanya Rian, seorang kurir paket malam yang sering dapat tugas lembur nganterin pesanan area Bandung atas sampai lewat tengah malam.
Malam itu, sekitar jam dua belas lewat, Rian harus nganterin satu paket terakhir ke daerah perumahan lama di dekat kawasan Siliwangi. Jalur yang dia lewati itu terkenal sunyi kalau udah malam, dikelilingi pohon-pohon besar peninggalan kolonial yang bikin cahaya lampu jalan nyaris enggak tembus ke aspal.
Pas dia lagi meluncur pelan pakai motor matic-nya, tiba-tiba di pinggir jalan dekat sebuah pohon mahoni besar, ada seorang perempuan berdiri sendiri sambil melambaikan tangan.
Perempuan itu pakai gaun terusan panjang berwarna putih gading dengan gaya pakaian khas zaman dulu, rambutnya panjang tergerai rapi menutupi setengah punggungnya. Di bawah temaram lampu jalan yang kuning redup, wajahnya kelihatan pucat banget tapi perawakannya anggun.
Karena Rian mikir itu warga lokal yang mau minta tolong atau nerima paket malam, dia akhirnya ngurangin kecepatan motor dan berhenti persis di sebelah perempuan itu.
"Malam, Teh? Ada yang bisa dibantu atau nyari alamat?" tanya Rian ramah sambil buka kaca helm setengah.
Perempuan itu enggak langsung jawab. Dia cuma menunduk sedikit, tersenyum tipis, lalu ngeluarin suara yang lembut banget, hampir seperti berbisik melawan angin malam:
"Mas... boleh tumpangan sampai ke ujung jalan jembatan di depan? Kaki saya sakit, tidak kuat jalan..."
Rian yang ngerasa kasihan ngelihat cewek sendirian jam segitu, langsung ngangguk dan nawarin tumpangan. Dia bahkan nyiapin helm cadangan di bagasi, tapi si perempuan nolak pelan sambil bilang enggak usah pakai helm karena rumahnya udah dekat banget di depan.
Akhirnya perempuan itu naik ke boncengan.
Anehnya, pas perempuan itu duduk di belakang, Rian sama sekali enggak ngerasain ada beban berat atau dorongan jok ke bawah—motornya tetap ringan melaju seolah-olah kursi belakang itu kosong melompong. Tapi aroma wangi bunga melati yang pekat mendadak langsung menusuk hidungnya, nutupin bau polusi malam itu.
Mereka jalan pelan-pelan menyusuri jalanan aspal yang sepi. Suasana di sekitar mendadak jadi dingin banget, bikin bulu kuduk Rian berdiri kaku.
Pas motor mereka mau ngelewatin area jembatan tua di dekat tikungan sepi, Rian nengok sekilas lewat spion motor buat ngecek penumpangnya.
Jantung Rian langsung copot seketika.
Di pantulan spion, perempuan itu udah enggak duduk di jok motor. Sosoknya melayang tepat di samping motor dengan posisi tubuh miring, kakinya tidak menjejak tanah sama sekali, dan gaun putihnya berkibar tanpa ada angin yang tiup.
Yang bikin darah Rian mendadak dingin membeku: separuh wajah sebelah kiri perempuan itu ternyata sudah rusak hancur berdarah, dengan mata melotot kosong menatap tajam ke arah Rian.
Belum sempat Rian narik rem atau berteriak, perempuan itu nempelkan mulutnya tepat di telinga Rian, lalu berbisik dengan suara menggema berat:
"Terima kasih ya... sudah mengantar sampai rumah saya..."
Seketika itu juga, motor Rian mendadak terasa berat banget kayak ditarik belasan kilo dari belakang, dan ban belakangnya serasa ngerem sendiri secara paksa. Rian nekat ngegaspol sambil baca apa aja doa yang dia ingat, merem melek di atas motor sampai akhirnya dia berhasil lolos keluar dari jalur itu dan nyampe ke pos ronda warga di jalan raya besar dengan kondisi pucat pasi lemas ketakutan.
Besoknya, pas Rian cerita ke warga setempat, warga di situ langsung ngingetin kalau daerah jembatan tua Siliwangi itu emang terkenal sama urban legend sosok perempuan masa kolonial yang sering nyegat pengendara malam-malam dengan modus minta tumpangan.