INI KENAPA AKU BARU TAU SEKARANG SIH?! 😭🖼✨
Kirain gambar pemandangan itu ya cuma gunung kembar, matahari, sama jalan di tengah... ternyata bisa dibikin dalam bingkai kayak gini dan hasilnya estetik banget! 😍
Panas Jakarta: Umpek-umpekan
Panas Surabaya: Perih nang kulit
Panas Yogya: Sumuk Gobyos
Panas Semarang: Bajingan asu kirik kobong
https://t.co/NqIolYZsgQ
Membuat lukisan Cak Nun terbaru di kanvas ukuran 20 x 30 cm. Melengkapi seri sebelumnya yakni Lukisan Gus Dur dan Gus Mus di ukuran yang sama. Dilukis dengan berbagai macam media: seperti art marker dan oil pencils, plus finishing varnish. @NUgarislucu@caknundotcom@maiyahan
Setelah 20 tahun berkarya, akhirnya Yuliono Singsot bikin konser tunggal juga.
Saya ikut menyiapkan ruang kecil ini di Miftah Rizaq Art Studio. Bukan konser besar, kapasitasnya cuma sekitar 50 orang. Isinya musik, cerita, tawa, dan tentu saja Yuliono Singsot.
Tiketnya cukup bawa sembako dan buku.
MANUSIA JENAKA
26 September 2026, 19.00 WIB.
Kalau mau ikut berbahagia, registrasi lewat link di poster.
Untuk konser MANUSIA JENAKA Yuliono Singsor nanti, kami tidak akan berjualan makanan dan minuman.
Sebagai gantinya, kami membuka ruang gratis untuk 2 UMKM pilihan: 1 penjual kopi keliling dan 1 UMKM makanan dengan penyajian cepat.
Tanpa biaya sewa, tanpa bagi hasil. Seluruh keuntungan untuk UMKM.
Ruang terbatas, produk akan kami kurasi terlebih dahulu.
Jika berminat, silakan DM instagram @ miftahrizaqartstudio dengan nama usaha, produk, foto lapak/produk, dan kontak.
Prosanada - Binatang Yang Sebenarnya
Lagu baru Prosanada tentang bagaimana manusia sebenarnya begitu serakah, jahat, dan tercela memperlakukan alam dan seisinya.
Hutan adalah rumah bagi Orang Utan, satwa yang rumahnya kita rampas, bakar, dan musnahkan.
Karya yang semoga refleksi untuk kita semua.
Lirik : Miftah Rizaq
Musik : Miftah Rizaq
Penata Musik : Vincentio Hadiputra
Produksi : Miftah Rizaq Art Studio, 2026
Seperti di postingan gue sebelumnya, bahwa lebih dari 40 kursi Champions League milik jajaran eksekutif Como 1907 tidak akan digunakan oleh mereka sendiri.
Kursi-kursi itu resmi diberikan kepada supporter tertua Como agar mereka bisa menyaksikan pertandingan pertama klub kesayangannya di kompetisi ini.
Salah satunya adalah Gerardo Mandressi, pria yang sudah berusia akhir 70-an dan dikenal di Curva Como sebagai “Il Barba”.
Mandressi punya koleksi memorabilia Como yang mungkin terdengar unik bagi orang lain, termasuk sepasang kaus kaki milik Mario Nicoletti. 😭
Belakangan, usia membuatnya tak lagi bisa datang ke stadion sesering dulu. Tapi ketika Como akhirnya mencapai Champions League, Mirwan Suwarso memastikan Mandressi tetap berada di Sinigaglia untuk menyaksikan sejarah tersebut.
Dan dia bukan yang tertua btw.
Ada Mario Pozzetti, 90 tahun, dan Enrico Colombo, 81 tahun. Keduanya bahkan akan dijemput langsung oleh klub dari daerah tempat mereka tinggal.
Ada Bruno Mandaglio, 78 tahun, yang sampai sekarang masih mengayuh sepeda menuju Sinigaglia. Dan ada Gianni Canova, 71 tahun, yang cukup berjalan kaki untuk sampai ke stadion.
Mereka semua adalah saksi hidup perjalanan Como dari titik paling nadir, yang sudah mencintai klub ini jauh sebelum Champions League menjadi sesuatu yang realistis.
Makanya ketika Mirwan Suwarso mengetahui banyak supporter lama Como gagal mendapatkan tiket, dia memilih menyerahkan jatah empat tiketnya sendiri. Sesuatu yang menginspirasi para eksekutif lainnya untuk kemudian melakukan hal yang sama, hingga lebih dari 40 tiket berhasil dialihkan kepada para fans.
Ini juga bukan pertama kalinya Como melakukan hal semacam ini.
Ketika Como mencetak gol, klub pernah mengadakan free rounds di sejumlah bar pilihan. Bahkan bir yang disajikan di Sinigaglia, La Comasca, diproduksi secara lokal.
Detail-detail kecil seperti ini mungkin terlihat sepele. Tapi justru di situlah bedanya klub sepak bola dengan sekadar sebuah perusahaan olahraga.
Karena ketika Como akhirnya mencapai panggung terbesar dalam sejarah mereka, mereka tidak melupakan orang-orang yang sudah berada di sana ketika tidak ada sorotan, tidak ada bintang besar, dan tidak ada Champions League.
Kamis dini hari nanti, mereka akan berada di Sinigaglia.
Dan untuk satu malam, setelah menunggu puluhan tahun, sejarah akhirnya datang menemui mereka. ❤️💙
📰: @TheAthleticFC
Kejahatan adalah nafsu yg terdidik. Kepandaian seringkali adalah kelicikan yg menyamar. Kebodohan acapkali adalah kebaikan yg bernasib buruk. Kelalaian adalah itikad baik yg terlalu polos. Kelemahan adalah kemuliaan hati yg berlebihan
CakNun~
Jgn khawatir. Kalau di Jogja, saudara jenengan banyak 🙏🏼
Tadi sudah datang, kami persilakan makan. Kami ngobrol tentang asal-usul dan perjalanannya sampai bisa berada di Jogja.
Daripada malam ini tidak ada kepastian mau ke mana, saya persilakan untuk sementara tinggal di rumah.
Untuk konteks,
Ini video jaman rezim SBY.
Bayangkan, jaman SBY lho. Gimana ya kalau jaman sekarang, dan mbah Nun masih seprima dulu.
"... wong kerjanya negara cuma ngerepotin hidup rakyat! "
Si Burung Merak WS Rendra di pembaringannya saat sakit hanya berucap "Yaa Lathif" dan "Qul Huwallah Hu Ahad" meminta pengajaran makna ahad kepada emha.
"Allah yg Ahad adalah Tunggal,beda dengan Esa, tambahkan juga Qul Huwallah Hu Wahid yaitu Allah Yang manunggal atau nyawiji itulah tauhid" ujar Emha. Seketika menangislah rendra dg bergumam "nyawiji...nyawiji"
Kemarin ngomongin gurunya.
Sekarang tentang dia.
Beliau dilahirkan sebagai anak keempat dari lima belas bersaudara di sebuah desa kecil bernama Menturo, Jombang.
Ayahnya adalah petani sekaligus kiai desa yang memiliki surau sederhana. Ibunya menjadi tempat mengadu bagi tetangga yang kesulitan. Begitulah awal mula seorang manusia biasa yang kelak akan dipanggil dengan banyak gelar.
Di Pondok Modern Gontor, pada tahun ketiga, beliau memimpin demonstrasi santri menentang kebijakan keamanan yang dianggap tidak adil. Akibatnya, beliau dikeluarkan.
Sejak kecil beliau sudah memiliki kebiasaan memprotes ketidakadilan, bahkan terhadap guru di sekolah dasar. Dunia, seperti biasa, tidak selalu menyukai orang yang terlalu cepat melihat ketimpangan.
Antara tahun 1970 hingga 1975, beliau hidup menggelandang di sepanjang Malioboro, Yogyakarta. Di sana beliau berguru sastra kepada Umbu Landu Paranggi, seorang penyair misterius yang lebih memilih jalanan daripada kenyamanan.
Lima tahun di emperan toko. Lima tahun belajar menjadi manusia. So it goes.
Pernah pula, ketika mengikuti acara kepenyairan di Eropa, beliau kehabisan bekal. Tiket pulang tak terbeli. Selama dua bulan beliau tinggal di sebuah flat kosong di Amsterdam bersama seorang penyair Amerika yang juga tidak memiliki status resmi. Mereka mencari roti di sekitar stasiun dan belajar cara bertahan hidup dari mereka yang disebut “penduduk haram.”
Pengalaman itu, kata beliau kemudian, menjadi titik penting. Dunia, sekali lagi, tidak selalu menyediakan tempat duduk yang nyaman.
Beliau sempat masuk Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada. Bertahan hanya satu semester. Ayahnya meninggal karena kecelakaan lalu lintas. Beliau keluar. Pendidikan formal, seperti banyak hal lain, ternyata tidak selalu menjadi jalan yang harus dilalui sampai akhir.
Beliau menikah dua kali. Dari pernikahan pertama lahir seorang putra yang kelak dikenal sebagai Noe, vokalis Letto. Kemudian, pada tahun 1997, beliau menikah dengan Novia Kolopaking. Dari pernikahan itu lahir empat anak. Kehidupan berkeluarga, seperti kehidupan lainnya, berjalan dengan cara yang tidak selalu lurus.
Sebelum dikenal luas sebagai budayawan, beliau pernah menjadi wartawan dan redaktur di harian Masa Kini. Di usia dua puluh delapan tahun, tulisan kolomnya sudah dimuat di majalah Tempo. Ia termasuk yang termuda. Tulisan, rupanya, sudah menjadi cara beliau berbicara kepada dunia sejak dini.
Karena sikap kritisnya terhadap kekuasaan, beliau pernah dilarang memasuki wilayah Jawa Tengah. Karya-karyanya dianggap mengganggu. Larangan datang dan pergi. Manusia tetap menulis.
Nama “Emha” sendiri berasal dari inisial Muhammad yang disingkat M.H., lalu berubah menjadi Emha. Nama, seperti gelar, sering kali lebih merupakan ciptaan orang lain daripada pilihan pribadi.
Dan yang paling jarang diperhatikan: beliau berulang kali menolak banyak label yang disematkan kepadanya: kiai, ulama, cendekiawan, atau apa pun.
Beliau lebih suka disebut sebagai manusia biasa yang diperjalankan. Citra yang melekat, kata beliau, banyak yang diciptakan oleh kepentingan dan keterbatasan orang lain.
Demikianlah beberapa catatan tentang seorang manusia yang hidupnya penuh belokan, protes, gelandangan, dan kata-kata.
Dunia terus berputar. Dan Cak Nun, dengan caranya sendiri, terus berbicara.
Dulu cuma bisa dengerin lewat radio, nonton di MTV, atau ya akhirnya di platform digital lain buat liat /rif. Udah tau lama kalo gitarisnya namanya Om Jikun.
Tapi nggak pernah kepikiran karyaku bisa dikoleksi sama beliau.
Sebuah apresiasi yang tentu sangat berarti sekali bagi saya pribadi, keluarga, studio, juga Sabalingga.
Super thank you, Om Jik ! 🤘🏻
Sehat selalu! Ditunggu kehadirannya di Jogja!