A long thread on my favorite photos.
1. Desa Penglipuran, 18/06/22
2. SD Sangkang Gunung, 26/07/22
3. Pasar Sengol Klungkung, 24/07/22
4. Desa Les, 05/07/22
Gong transformasi Jakarta dimulai dari sini. Gw inget banget, orang-orang marah karena jalan menyempit. Pengguna kendaraan pribadi merasa keistimewaannya direnggut.
Siapa yang dulu ikut misuh-misuh jalanan dibelah buat Trans Jakarta?😅
wkwkwk padahal kalo mau realisasi demo yang “tenang” di “area khusus demo” ada kamisan. seminggu sekali. udah 911 kali. di tempat yang sama. kayak pernah aja tuh bu sumarsihnya ditemuin sampe hari ini coy
Kita berhutang pada Affan Kurniawan, 135 korban tragedi Kanjuruhan, orang2 yang mengalami kekerasan dan kriminalisasi korp coklat
Hutang itu seharusnya bisa dibayar dengan merevolusi institusi Polri sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya
Tapi apa yg dilakukan negara?
Narasumber bukan entitas yang statis. Mereka bisa berubah. Bisa menarik pernyataan. Bisa menyangkal juga. Dan perubahan itu tidak selalu berarti bahwa mereka sejak awal berbohong.
Ada banyak kemungkinan, bisa jadi
mengalami tekanan, mendapat ancaman hukum, mengalami intimidasi fisik atau digital, atau mungkin ada tawaran lain.
Karena itu, dalam jurnalisme atau dalam hal ini film dokumenter, perubahan sikap narasumber tidak otomatis dibaca sebagai bukti bahwa laporan sebelumnya salah, dan Papua baik-baik saja. Tetapi juga tidak boleh diabaikan begitu saja. Justru di situlah pentingnya verifikasi berlapis dan prinsip informed consent.
Narasumber adalah manusia yang berada dalam relasi kuasa. Semoga Mama Yasinta sehat selalu.
Kalau kamu ke Gramedia, lalu ketemu buku yang minat dibeli, JANGAN langsung buru-buru bawa ke kasir. Ada cara ampuh biar kamu dapat harga lebih murah 25% (kadang selisih harganya 10-20rb).
1. Buka situs web https://t.co/YBSgWszpKt (pastikan kamu sudah punya akun dan login di sana);
2. Search judul buku yang tadi mau kamu beli;
3. Di kolom toko, pilih Gramedia Warehouse yang sedang kamu kunjungi;
4. Langsung masukkan buku pilihanmu ke keranjang belanja;
5. Pilih opsi “ambil di toko” (biasanya ada tambahan voucher diskon kalau memenuhi syarat minimal belanja);
6. Nah, di sini tugasmu untuk komparasi harga offline dan online. Kalau sudah yakin harga di web lebih murah, langsung bayar (bisa pakai Qris);
7. Setelah dibayar, cek kode transaksi via email, lalu tunjukkan ke kasir untuk ambil buku fisiknya.
Selamat! Kamu sudah beli buku offline tapi dengan harga online! Buku yang dibeli lewat web ini bisa lebih murah karena tidak kena tambahan harga display Gramedia.
Catatan: persentase diskon di web sewaktu-waktu bisa berubah.
Semua pejabat wajib naik transportasi umum beberapa hari per minggu @prabowo , jadi tau alasannya knp kami kesel kalian bakar duit ke orang2 yg joget 6 juga per hari
Riri Riza ngasih komentar buat PARA PERASUK garapan Wregas Bhanuteja.
"Sebuah nafas baru dari Wregas. Tapi sekaligus sebuah cerita tentang hubungan dalam keluarga dan sebuah lingkungan yang terancam"
Terpantau juga saling bercanda, di kolom komentar post The Maple Media ♥️
Lagi-lagi konsep yang dipahami setengah-setengah. Securitization yang dipake ini adalah konsep dari mahzab kopenhagen. Peristiwa biasa ditarik jadi ancaman politik untuk kekuasaan. Mbaknya malah bikin securitization jadi pembenaran untun membungkam demo, padahal contohnya itu biasanya ke terorisme, narkotika internasional. 🤣🤣🤣🤣🤣
Mbak ini tahu ga sih maksud sekuritisasi apa?
Sekuritisasi itu dalam ilmu HI itu adalah sebuah proses dimana aktor politik seperti negara berupaya untuk mengubah isu-isu non tradisional menjadi isu ancaman keamanan nasional.
Masalahnya sekuritisasi ini sering di salah gunakan, karena yang namanya ancaman keamanan nasional sering ditafsirkan secara subjektif sehingga rawan disalahgunakan
Salah satu sekuritisasi yang berbahaya, yakni menjadikan aktivis-aktivis dan LSM yang bergerak di isu demokrasi menjadi ancaman stabilitas keamanan nasional.
Nah saya heran, mbak ini sebagai pembela pemerintah, harusnya membantah dong kalau pemerintah melakukan sekuritisasi.
Ini malah kok jadi terkesan pemerintah memang menggunakan konsep itu lewat pernyataan Mbak.
Selamat Hari Kartini dan selamat membaca koleksi terlengkap Api Kartini (41 volume, 1.200+ halaman)!
Semuanya bisa diakses secara gratis di https://t.co/LBHrUjN6sn 🥳
Lu ya @kemkomdigi dari pada ngurusin konten @magdaleneid mending ngurus kerjaan utama lu yg ga kelar-kelar deh.
Sibuk yg ga penting tapi ngebiarin korban terus berjatuhan.
Yg makin GILA adalah keuntungan fantastis para pengusaha MBG itu BEBAS pajak penghasilan (PPh) karena masuknya YAYASAN. Mau lu genjot dunia usaha kyk apa, APBN pasti defisit karena penerimaan stuck. Padahal MBG ini program andalan Wowok, anggaran dipusatkan kesini, tapi malah bikin defisit APBN makin lebar 😅
Buat yang kelonjotan karena menganggap “kan gw udah nafkahin istri gw” “apaan sih ini unpaid-unpaid labor”, mending jarinya dipakai menyelam lebih dalam buat cari tahu unpaid labor.
Unpaid labor ini tidak sesederhana “gw udah nafkahin keluarga”. Di sini, salah satu kerangka berpikirnya adalah mendorong pemerintah buat menyediakan akses yang juga memudahkan/mengkompensasi kerja keperawatan-mengasuh.
Contoh gampangnya: memastikan akses mudah air bersih ke setiap rumah, sehingga ibu-ibu tidak perlu nimba/ngangsu air berjam2. Jam-jam yang hilang buat nimba air ini bisa dipakai buat istirahat atau ikut komunitas.
Contoh lain: daycare berkualitas dan terjangkau. Teman-teman @projectm_org punya tulisan yang mendesak pemerintah menyediakan day care berkualitas dan bisa diakses siapapun. Sama, anak bisa dititipkan di day care yang berkualitas ini. Jadi ibu punya waktu lebih juga untuk berdaya.
Nah terbukti, TNI terlibat. Tapi yg ditangkapi & dituduh bersalah para aktivis. Bahkan yg cumak bikin story di medsos dijebloskan ke penjara. Ribuan org tdk bersalah dijadikan tahanan politik. Emang nggak waras negara ini. Sialnya didukung tanpa syarat oleh para Ulama dekaden.
Serius, ini soal PRIORITAS.
Bukan apa-apa, itu uang dari orang yang bangun jam 5 pagi, desak-desakan KRL. 😭
Dari yang lembur sampai malam. 😭
Dari UMKM yang dipotong pajaknya tiap bulan. 😭
Dari guru honorer yang gajinya bahkan belum layak. 😭
Kalau benar insentif Rp6 juta per hari × 313 hari = Rp1,87 M per dapur, dan bisa tembus Rp2,2 T per tahun hanya untuk satu institusi, itu bukan angka di atas kertas. Itu uang kita.
Di saat:
– Sekolah masih banyak yang rusak
– Gaji guru honorer masih Rp1–2 juta
– Air bersih belum merata
– Sanitasi belum layak
– Pemulihan pascabencana belum selesai
– Transisi energi jalannya pelan karena anggarannya segitu-gitu aja
Kalau ini skema asuransi swasta, jujurrrr izinn… ini udah terindikasi fraud bjr.
Apalagi kalau skemanya “availability based”, belum jalan pun tetap dapat.
Makanya orang marah bukan karena antek aseng anjr.
Tapi karena basic logic aja anjr. Nggak adil.
Kalau pakai uang rakyat, ya harus pakai standar akuntabilitas paling ketat. Bukan standar “asal ada dapur”.
Hadehh, proyek bancakan ini meresahkan bgt.
Indonesia lebih hebat. Sudah kena tarif 19%, lalu di klaim diplomasi BoP jalan satu satunya karena ditelen tarif, sampai Presiden sendiri harus berangkat pergi.
Hasilnya, tarif tetap 19%.
Senegara dibuat tolol bareng sambil mengangguk kenyang.