Satu hal penting yang gua sadari selama 120 hari di aceh paska bencana; air bersih yang layak konsumsi dan terjangkau itu komoditi mahal banget
Kamu lagi ngerjain instalasi pipa air bersih di desa reje payung, linge, aceh tengah; harus narik pipa hdpe kurang lebih 2 kilometer ke mata air di atas bukit untuk punya akses air bersih yang layak konsumsi
Tanpa air bersih yang layak dan mudah dijangkau, ancamannya mulai dari diare, produktivitas pertanian/pangan menurun, sampai beban lebih untuk perempuan dan anak yang seringkali terbebani tugas untuk ngambil air
Sekarang di desa2 sumur mengering, sungai dan mata air menyusut, di kota harga air semakin mahal, banyak yang terpaksa pakai air kotor dan terpolusi. Biaya produksi, distribusi, permurnian, olah limbah dll juga semakin mahal. Ngga kebayang kalau el nino besok ini beneran jadi kemarau panjang.
A former book editor in a publisher here 👋🏾
Habis resign dari penerbit, saya skeptis sama semua buku dan gak membaca. 😅 Jadi editor, berhadapan sama naskah mentah dan beberapa megalomaniak yg nulis asal-asalan demi nerbitin buku bikin saya trauma membaca. Untung bisa sembuh. 🙏🏾
Pernah kerja di retail publishing bikin saya sadar, being surrounded by books doesn’t always mean people have the time or energy to actually read them.
Karena sehari-harinya lebih banyak kejar target, display, campaign, stock movement, meeting, dan segala hal operasional lain. At some point, books slowly become “products to sell” instead of “ideas to sit with”.
Dan menurut saya itu bukan salah individu juga sih, tapi emang culture kerjanya sering bikin orang terlalu capek buat punya relasi personal sama buku itu sendiri.
Setelah terlalu sering membaca tulisan-tulisan yg sangat “AI”, ketemu tulisan curhat receh dari ibu-ibu atau bapak-bapak Facebook sekarang jadi terasa sangat menyenangkan. Bahkan walau mereka masih menulis “Matur suwun” dengan “Mator suwon” dan menulis nama Agus menjadi Agos.
Setelah belasan tahun gak menjadi warga paroki mana pun, tahun ini akhirnnya gak perlu war kursi karena berlabuh di gereja kecil yg adem. Dateng kurang 10 menit pun masih kebagian kursi.
Dan ya, ini juga masih berlaku.
Sekalipun akadnya bantuan "sahur" drrt jogja, tapi dari kemarin Alhamdulillah bisa jangkau temen² & saudara² dari semua kalangan, yg mungkin ngga berpuasa tp lapar dan merasa terbantu kalau dapat tambahan makan malam gratis
Bantu share ya 🙏🙏
Tahun lalu, berbulan-bulan gak bisa ngakses Tesaurus Tematis daring. Pikirku kok gak dibener-benerin. Rupanya, domainnya diganti karena nama kementeriannya ganti.🙃 Itu orang TI-nya pada gak tau apa gimana kalo bisa diarahkan otomatis ke domain baru?
Aduh jadi inget.
Aku punya temen namanya Gedek, dulu dia minta--separo maksa--aku nungguin dia boker di luar toilet Taman Budaya Yogyakarta gara-gara dia takut setan
:(
Mana sepanjang boker dia manggil2 terus dr dalam, memastikan aku gak pergi. :(:(:(
i’m not even indonesian but indonesian people are some of the funniest people on earth like if a content is funny their comments are even funnier 😭😭😭 is this a coping mechanism are you hurt somewhere friends