PYTHON is difficult to learn, but not anymore!
Introducing "The Ultimate Python ebook "PDF.
You will get:
• 74+ pages cheatsheet
• Save 100+ hours on research
And for 48 hrs, it's 100% FREE!
To get it, just:
1. Like & RT
2. Reply "Python"
Dalam hati mereka mungkin sangat marah, karena gurunya dilecehkan. Tapi mereka menahan diri. Coba kalau yg demo bukan santri, apa masih semulus itu muka?
Siapa yg mengajarkan mereka hingga punya adab demikian? Ya para kiai yg kalian fitnah itu @TRANS7
Makna dua sujud dalam satu rakaat Shalat
Mengapa kita sujud dua kali, bukan sekali? Sujud pertama adalah kejatuhan total. Saat dahi menempel pada tanah, lapisan ego runtuh. Gelar, harta, kebanggaan—lenyap seketika. Engkau kembali pada asal: debu rapuh menunggu tiupan rahmat. Di sujud itu, keakuanmu dimatikan. Itulah fana—lenyapnya segala selain Dia.
Lalu engkau bangkit perlahan. Duduk di antara dua sujud. Ini jeda ruhani, bagaikan barzakh—ruang hening di antara mati dan hidup. Engkau belum sepenuhnya hidup, tapi tak lagi mati. Seperti ruh yang menanti di alam perantara, engkau merintih: ampuni aku, rahmati aku… maafkan aku.
Kemudian engkau kembali sujud. Tapi sujud kedua bukan lagi kejatuhan, melainkan kebangkitan. Setelah ego luluh, ruhmu dimurnikan oleh doa di barzakh, lalu dihidupkan dengan cahaya baru. Sujud kedua adalah baqā’—hidup bersama-Nya. Kini engkau tidak lagi sujud dalam kehinaan, tapi dalam pelukan kasih yang menyucikan.
Sujud pertama adalah peleburan ego. Sujud kedua itu kedekatan dengan Allah. Imam al-Ghazali memberi bocoran langit:
“Seorang yang bersujud, bila ia merasakan manisnya sujud, ia menjadi dekat. Karena dengan sujud, ia melipat hamparan semesta—masa lalu dan masa depan—dan sujud di tepian jubah keagungan-Nya, lalu ia mendekatiNya.”
Para arif mengatakan, siapa yang belum pernah mati dalam sujudnya, ia belum benar-benar hidup dalam shalatnya. Karena sujud bukan hanya gerakan, tetapi perjalanan: dari fana menuju baqā’, dari runtuh menuju tegak dalam kehadiran.
Maka setiap rakaat adalah latihan perjalanan ruhani. Ia mengingatkan bahwa hidup bukan sekadar berjalan lurus, tapi berulang kali jatuh dan bangkit; mati dan dihidupkan; hilang lalu ditemukan dalam kehadiran Ilahi.
يَا مَنْ تَخْضَعُ لَهُ الرُّكُوعَاتُ وَالسُّجُودَاتُ، أَحْيِ قَلْبِي بِنُورِ قُرْبِكَ كَمَا أَمَتَّهُ ذُنُوبِي، وَاجْعَلْ سُجُودِي سَبِيلًا لِوُصُولِي إِلَيْكَ، وَلَا تَحْجُبْنِي عَنْكَ طَرْفَةَ عَيْنٍ
“Wahai Yang kepadanya tunduk semua rukuk dan sujud, hidupkanlah hatiku dengan cahaya kedekatan-Mu sebagaimana ia pernah mati karena dosa-dosaku. Jadikan sujudku jalan untuk sampai kepadaMu, dan jangan biarkan aku terhijab dariMu walau sekejap matapun.”
Tabik,
Nadirsyah Hosen
Rahasia Duduk di Antara Dua Sujud
Di antara ruku‘ yang meruntuhkan ego dan sujud yang meleburkan diri, ada jeda yang sering dipandang sederhana: duduk di antara dua sujud. Namun justru di sanalah kelembutan Ilahi menyapa. Ia bukan sekadar istirahat, tapi helaan napas ruhani setelah meruntuhkan segala keangkuhan di hadapan-Nya.
Imam al-Ghazālī dalam Iḥyā’ menulis, “Duduk di antara dua sujud adalah saat hamba berhenti sejenak untuk memohon semua kebutuhannya, merintih dalam ketenangan, lalu bersiap kembali menenggelamkan wajahnya dalam penghambaan.”
Di duduk ini, kita melafazkan doa singkat namun memuat lautan makna:
رَبِّ اغْفِرْ لِي، وَارْحَمْنِي، وَاجْبُرْنِي، وَارْفَعْنِي، وَارْزُقْنِي، وَاهْدِنِي، وَعَافِنِي، وَاعْفُ عَنِّي
Ampuni aku… rahmati aku… perbaikilah yang retak dalam hidupku… angkat aku dari keterpurukan… berilah aku rezeki halal dan barakah… tunjukkan jalan-Mu… lindungi aku dari bala… maafkan aku…
Ibnu al-Qayyim berkata, “Doa ini intisari segala permintaan hamba. Ia merangkum ampunan masa lalu, rahmat saat ini, petunjuk jalan, perlindungan, dan limpahan kebaikan yang akan datang.”
Lihatlah betapa lembutnya Allah. Setelah sujud, Dia tidak langsung memerintahkanmu bangkit. Dia memberi jeda agar kau duduk dalam keheningan, meneguk rahmat-Nya perlahan, sebelum kembali bersujud lebih dalam.
Para sufi memandang duduk ini sebagai tempat ruh bernafas. Setelah tenggelam dalam fana sujud, jiwa yang luluh diberi jeda untuk merasakan baqā’—kehadiran yang kembali pada hidup, namun lebih jernih.
Jangan anggap remeh duduk di antara dua sujud. Ia mengajarkan bahwa setiap kejatuhan butuh jeda untuk bangkit, dan setiap bangkit harus disertai pengakuan akan kelemahan.
Berhentilah sejenak, biarkan hatimu merayu pada-Nya. Duduk itu bukan sekadar transisi gerak. Ia adalah mushafahātul qalb—berbisiknya hati dengan Rabb-nya, dalam lirih yang tak terdengar telinga manusia, tapi disambut langit dengan kasih sayang.
Lantas mengapa harus sujud dua kali? Kok gak cukup sekali? Ada apa dengan sujud yang kedua dalam shalat? Nantikan pembahasan berikutnya yah, bi idznillah 🙏🏻
Tabik,
Nadirsyah Hosen