@MyTelkomselApp Semua saran sudah dilakukan, tapi gagal. Diulangi berkali kali kali tetap gagal. Dan itu sudah berlangsung lama. Saya pakai android 12, seharusnya bisa. Sekelas Telkomsel tidak bisa membuat aplikasi yg bagus. Hmmmmm.....
Ganjar Pranowo dan Mahfud MD mengungkapkan alasan gugatan hasil Pilpres 2024 ke Mahkamah Konstitusi (MK).
“Kami menggugat sebagai bentuk dedikasi kami untuk menjaga kewarasan, untuk menjaga agar warga tidak putus asa terhadap perangai politik kita dan untuk menjaga impian semua warga negara tentang Indonesia yang lebih mulia,” kata Ganjar dalam sidang perdana sengketa Pilpres 2024 yang diajukannya di Gedung MK, Jakarta Pusat, Rabu (27/3/2024). | Mata Najwa
Selamat menikmati minggu, akan lbh asyik dg membaca tulisan mas Syaefudin Simon judulnya Fakta yang lebih Fiksi dari Fiksi, asyik bgt 🙏
Fakta yang Lebih Fiksi dari Fiksi
Prof. Johana EP Hadiyono (Gubes Psikologi UGM) pernah mengomentari status-ku di FB. Sulit membedakan tulisan Mas Simon, mana fakta mana fiksi. Ungkapnya.
Nah sekarang aku jawab, apa bedanya fakta dan fiksi? Fakta kadang lebih fiksi dari fiksi. Itu kata cerpenis Budi Darma, yg Gubes Sastra Unair, Surabaya.
Dulu, aku tak pernah berpikir, ada pesawat penumpang Boeing 747 menabrak gedung menara kembar pencakar langit di New York. Pesawat dan gedung hancur. Sungguh dahsyat dan Mengerikan. Ribuan manusia tewas. Itu fakta yg lebih dahsyat dari fiksi. Dan gilanya, pelakunya orang-orang Islam, yang nabinya cinta damai.
Contoh lainnya, tiba-tiba Jokowi yg selama ini tampak ramah, lugu, dan ndeso, begitu brutal mengacak-acak demokrasi Indonesia. Jokowi berkhianat pada PDIP dan Bu Mega yang membesarkannya. Jokowi menyutradarai drakor pemilu 2024. Tanpa malu-malu. Kritik pedas kaum intelektual, budayawan, dan akademisi terhadap Jokowi dianggap angin lalu.
Jadilah pemilu 2024 adalah pemilu terburuk sepanjang sejarah Indonesia. Lebih buruk ketimbang pemilu zaman Orba. Korupsi gigantik disengaja untuk biaya kampanye Prabowo Gibran. Jika Soeharto hanya berani mengangkat Tutut, anaknya jadi Mensos, Jokowi lebih edan, mendudukkan Gibran jadi Wapres. Ini fakta yang lebih dahsyat dari fiksi.
Sobatku Denny JA, konsultan politik Jokowi dan Prabowo-Gibran membelanya. Kenapa menyalahkan Jokowi soal Gibran wapres? Bukankan Presiden John F Kennedy pernah mengangkat adiknya, Robert Kennedy, sebagai Jaksa Agung?
Kennedy, membela diri. Robert Kennedy adalah seorang ahli hukum yang handal dan hebat. Reputasinya tidak diragukan. Andaikan Robert bukan adikku, niscaya tetap aku pilih jadi Jaksa Agung. Kebetulan dia adikku. Dan UU tidak melarangnya. Rakyat Amerika pun diam. Tak ada demo berjilid-jilid. Robert Kennedy memang pakar hukum yg hebat. Rakyat Uncle Sam mengakuinya.
Gibran? Apa prestasinya? Ketika dicawapreskan, Jokowi melanggar UU anti-KKN yang diperjuangkan di awal era Reformasi. Demi Gibran, Jokowi mengacak-acak Mahkamah Konstitusi dengan bantuan Uncle Usman, ketua MK.
So, dalam kasus tadi, latar belakang Jokowi beda banget dengan kasus Kennedy. Seperti langit dan bumi.
Ya. Fakta yang lebih fiksi dari fiksi sudah terjadi. Sungguh aku tak pernah berpikir dan berimajinasi Jokowi bisa seperti itu. Aku sampai tak bisa tidur seminggu gegara ulah Jokowi. Mau diletakkan di mana mukaku yang pernah menulis buku pujian untuk Jokowi berjudul Jokowi The Inspiring President! Malu...
Tapi itu terjadi. Dahsyat! Tesis Budi Darma terbukti di Indonesia.
Sampai hari ini pun aku tak habis pikir -- kenapa Jokowi seperti itu. Lebih aneh lagi, orang seperti Efron Bayern dan Teguh Budi Wibowo, dua sahabat terbaikku di FB, alumni UGM, tetap membela Jokowi. Dan orang seperti Efron dan Teguh ternyata buaanyaak sekali. Kesambet massal, pinjam istilah Cak Nun.
Ini benar-benar luar biasa. Penipuan dan keculasan terjadi secara nasional. Itulah fakta yang lebih fiksi dari fiksi yang kini terjadi di Indonesia.
Itulah jawabanku untuk Prof. Johana!
Isu politik sudah jadi santapan pembicaraan rakyat kecil. Wayang Kampung saja yg dibahas mahalnya biaya untuk mensukseskan anak Jokowi yg sampai ratusan trilyun. Sementara rakyat bawah sekarang secara nyata harus menghadapi harga2 bahan pokok yg semakin mahal. Keadaan ironi dan tidak adil seperti ini menuntut orang2 bijak bicara menyuarakan kepentingan mereka yg menderita dan mengkritik rusaknya demokrasi serta memburuknya ekonomi rakyat kecil.
Saat jd keynote speaker di UI (7/3/24) Jusuf Kalla (JK) mengemukakan bhw "Angket di DPR perlu dilakukan" utk klarifikasi atas berbagai dugaan penyalahgunaan kekuasaan. Kalau tdk diselesaikan di DPR maka demokrasi akan rusak dan pemilu tak ada gunanya. Mengapa? Karena akan timbul kebiasaan ke depannya bhw yg akan menang pemilu hanya kelompok yg berkuasa dan banyak uang. JK jg mengatakan sejak pemilu pertama tahun 1955, pemilu 2024 ini terburuk. Kita hrs hindari bertemunya krisis politik dan krisis ekonomi karena kalau itu terjadi bisa menimbulkan huruhara besar.
Saya sendiri selalu menegaskan, bahwa apa pun hasil angket tak bisa membatalkan hasil Pilpres. Kesahan Pilpres scr hukum terletak di KPU dan putusan MK, sama sekali tak ada hubungan dgn angket.
Unik banget cara mengajarnya. Jadi bisa ikut merasakan sebagian peristiwa Reformasi waktu itu, deh~
Tapi enggak cuma sejarah aja, lho, yang dipelajari. Ada pelajaran lain yang didapat oleh para siswa. Simak selengkapnya di video deh 👇
| Narasi Daily
Sebelum Andi Widjoyanto mengungkap ke publik, saya sudah dapat info tentang 3 keinginan Presiden Jokowi terkait Pemilu 2024 ini. Awal Januari saya sudah diberi tahu, sebelum podcast yg viral itu. Tapi saya masih agak ragu apakah mungkin Jokowi akan mewujudkan 3 keinginan politiknya itu.
Namun dengan berjalannya waktu, dan melihat proses yg terjadi dengan berbagai keanehan selama Pemilu 2024, nampaknya apa yg sudah direncanakan dan dinginkan Jokowi tersebut tidak terbendung.
Partai politik yg pragmatis, dengan para politisinya yg tersandera, ditambah aparat dan masyarakat yg permisif, telah menguatkan berbagai penyimpangan menuju terwujudnya 3 keinginan itu. Bocoran Mas Andi Wijayanto, jadi terasa benar 100%. Tak terbantahkan, bhw semua siasat telah direncanakan dengan rapi sebagaimana yg diungkap film Dirty Vote.
Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI telah sepakat membentuk panitia khusus (pansus) kecurangan Pemilu 2024. Keputusan disepakati dalam Rapat Paripurna DPD RI ke 9 Masa Sidang IV di Gedung DPD RI, Senayan, Jakarta, Selasa (5/3/2024).
Baca di https://t.co/Wt8sKm3Hn3
Partai Simsalabim Indonesia
Melejitnya suara PSI di Sirekap diduga berasal dari suara tidak sah. Salinan formulir C-hasil menguatkan indikasi pergeseran suara itu disengaja.
Simak edisi terbaru Koran Tempo, hanya di https://t.co/JSPrmxFxEM
#korantempodigital#KoranTempo
Hasil penelusuran kumparan, ternyata di beberapa TPS ditemukan ada penggelembungan suara PSI terutama di daerah terpencil. #focus#suarapsi#news#text https://t.co/GYlPnyneZ0