@zoelfick “Matinya kepakaran”. Pakar tidak pakar ditentukan oleh politikus. Real pakar jadi tidak pakar hanya karena kritiknya soal program populis politikus. Bahkan komika dicap dungu oleh “filosof”, lalu berubah jadi jenius stlh (pura2) membenci politikus lawannya. Filosof politikus
Di NTT yg baru kena gempa :
"Kalo tidak salah juga, dari dulu ya rakyat dsini juga banyak bakar hutan"
YA SALAH WOKK,
Orang lagi kemalangan malah nuduh bakar hutan.
Astaga.
Punya kabinet ratusan orang, punya kementrian kehutanan, punya raja juli, punya segala sumber daya negara....., yang disuruh beresin karhutla?
Haji Isam.
Keren.
Samsat di Indonesia ini memang sebuah wujud nyata dari sebuah mesin waktu
Disaat kita setiap hari, setiap waktu menggenggam dunia dalam sebuah gawai cerdas dengan koneksi 5G dan sanggup memproses segala urusan mulai dari sekedar bertanya kabar, melihat sisi lain dunia, membuat karya seni digital, memproses identifikasi wajah secara presisi dan bahkan melakukan transaksi keuangan dalam hitungan detik, namun semua kehebatan teknologi abad 21 itu berubah ketika kita memasuki pintu gerbang sebuah bangunan bernama Kantor Samsat, karena disana seolah waktu ditarik mundur sepanjang 3 dekade
Memasuki bangunan yang kebanyakan masih didominasi bangunan lawas itu sejujurnya memberikan sebuah pemandangan dan paradoks yang getir, disaat para petugas yang duduk di meja dihadirkan dan ditemani seperangkat komputer canggih berjarinagn internet kencang yang terhubung dengan basis data nasional dengan slogan "Online" atau "Satu Pintu", namun diluar jedela persegi dan didepan meja berdiri para warga yang membutuhkan dan akan menyetor hasil keringat mereka demi pembangunan dan agar taat pajak menunggu sembari menggengam map yang berisi berbagai lembar buram berwarna hitam putih
"Ini fotocopy KTP kurang 1 lembar mas, silahkan fotocopy dulu didepan" ucap seorang petugas dengan datar
Sebuah kalimat sederhana yang menjadi tamparan serius bagi konsep digitalisasi & efisiensi, warga yang sudah mendaftarkan diri via aplikasi, mengunggah berbagai berkas dengan gawai mereka dan memverifikasi data diri secara biometrik dirumah berharap agar tidak menyita banyak waktu tetap harus mengalah keluar dari gedung ketika berhadapan dengan birokrasi tatap muka mencari lapak fotocopy, mengeluarkan beberapa ribu rupiah hanya untuk beberapa lembar yang kemudian akan distapler dan ditumpuk bersama lembar kertas lain yang entah kapan terakhir kali diperiksa
Berulang kali kita mendengar soal integrasi data, digitalisasi, efisiensi birokrasi dan sebagainya diberbagai mimbar seminar, namun pada eksekusinya masih tetap saja gagal untuk sekedar menyelesaikan oermasalahan paling mendasar dari pelayanan masyarakat. Kertas fotokopi samsat bukan hanya sekedar lembaran kertas, namun kertas tersebut adalah sebuah simbil dari KETIDAKPERCAYAAN SISTEM KEPADA DATA MEREKA SENDIRI, serta sebuah simbol keengganan untuk sekedar menghilangkan kebiasaan lama yang sudah terlalu "nyaman"
Menurut saya, selama selembar kertas fotokopian ini masih jadi syarat mutlak untuk membuktikan siapakah diri kita dan apa yang kita miliki didepan loket pemerintahan, maka selama itu pula narasi dan slogan "Indonesia Digital" hanya akan berakhir menjadi sebuah slogan, harapan dan impian indah yang tersangkut dimesin fotocopy
While Elon Musk is building Terafab in the U.S., and the United States and China are competing fiercely for leadership in AI, semiconductors, robotics, energy, and advanced manufacturing, President Prabowo is proudly sampling processed drinking water and chips developed by Indonesia's National Research and Innovation Agency, BRIN.
Think about the contrast.
BRIN receives trillions of rupiah in public funding. The question taxpayers should be asking is whether a national research institution with that level of resources should be spending its scarce scientific capacity developing products that private companies already know perfectly well how to make, or concentrating on areas where Indonesia genuinely needs state-backed research because the private sector cannot economically do it alone.
This is the K-shaped divergence I keep talking about, but at the country level.
At the top of the K, the U.S. and China are pouring capital, talent, and research into frontier technologies that could determine productivity, military capability, industrial competitiveness, and national wealth for decades.
At the bottom of the K, we risk celebrating incremental achievements while the technological frontier moves further away from us.
There is nothing inherently wrong with improving food technology or water processing. The issue is opportunity cost. Every rupiah, researcher, laboratory, and hour allocated to one project is a resource that cannot be deployed elsewhere.
The relevant question is therefore not, "Can BRIN make drinking water and chips?"
Of course it can.
The question is: with trillions of rupiah of resources and Indonesia competing in a world being transformed by AI, what should BRIN be working on?
Kepala MBG Baru Sudaryono Sidak SPPG Menux Ada Burger, Ayam, Telor, Anak² Pun Bahagia Di Hari Itu Juga, Ketika Tdk Di Sidak Kepala MBG Ya Kembali Asal Ayam Potong, Telor Sampai Bisulen. Video Ke 2 SPPG Yg Tdk Pernah Di Sidak Kepala MBG. Sidak SPPG Kok Bawa Media Goblok‼️
Media Askar, Dosen UGM: "DATANGLAH HARI KETIKA..."
Kami, saya pribadi, itu tidak pernah menyangsikan niat program MBG ini.
Hingga akhirnya datanglah hari di mana program itu diluncurkan.
Datanglah hari ketika pimpinan BGN itu dipilih dari ahli serangga.
Datanglah hari ketika pimpinan BGN itu dari polisi dan TNI
Sampai kemudian datanglah hari ketika penunjukan SPPG itu tidak melewati skema pengadaan barang dan jasa yang benar.
Datanglah hari ketika kita kemudian tau SPPG itu dimiliki oleh unsur, entitas yang terafiliasi dengan penguasa.
Datanglah hari kemudian kita tau ada ribuan dapur dimiliki oleh polisi, kemudian TNI, ormas keagamaan, termasuk juga mereka yang terafiliasi dengan partai politik.
Sampai kemudian datanglah hari ketika Pak Prabowo berpidato bahwa polisi dan TNI dilibatkan dalam pemberian Makan Bergizi Gratis.
What's going on here?
Saya menghabiskan belasan tahun meneliti tentang perlindungan sosial di banyak negara.
Saya menyelesaikan S2 dan S3 saya di Inggris.
Tidak ada satu pun negara di seluruh dunia, yang program makan bergizi gratisnya dilakukan oleh aparat keamanan.
“kami mau melapor ke polisi, polisi punya dapur sppg, kami mau melapor ke TNI, TNI punya dapur sppg, kami mau melapor ke DPR, DPR pun punya dapur sppg. jadi ini jalan terakhir kami untuk mengadu, kepada konstitusilah kami berharap”
—ucap seorang guru, pendidik anak bangsa. ironi.
🚨🗣️New: Thierry Henry reacts to the USA vs Paraguay stoppage for TV commercials:
“I’ve spent my entire life in this beautiful game — as a player at the highest level, as a fan, and now as someone who analyses it every week — and what unfolded during that USA versus Paraguay match left me deeply frustrated. The fourth official standing there on the touchline, arm raised high, instructing the referee to hold the restart… not for any injury, not for tactical reasons, and not even primarily for player hydration in that scorching heat. No. It was because the broadcast team hadn’t finished airing all their commercials. That’s not football. That’s a television show pretending to be a World Cup match.
The beautiful game is being strangled by greed. Players are out there in the heat, ready to restart, momentum building like a storm about to break — and we pause everything so the sponsors can cash in. It’s like stopping a symphony mid-crescendo because the advertisers want their jingle heard. Football didn’t conquer the world by turning into American sports with endless timeouts and ad breaks. We had rhythm, flow, emotion that flowed like a river. Now? It’s dammed up for dollars.
This isn’t about hydration or player welfare anymore — it’s a slippery slope where the soul of the game is sold piece by piece. Fans deserve better. Players deserve better. The referee on that pitch looked like a puppet on strings controlled from some broadcast truck. Enough is enough. We need to protect what made this sport the greatest on Earth before it disappears completely.”
The World Cup should be football’s cathedral. Instead, we’re turning it into a shopping mall with a pitch in the middle.
And here’s the question nobody wants to answer: if the fourth official is waiting for commercials, then who is really running the game? FIFA? The referee? Or the broadcasters?
Because the moment football starts asking advertisers for permission before asking the players, you’ve crossed a line.
The World Cup is supposed to be the showcase of football. Not the showcase of who paid the most for airtime.”