Gue ga ada simpati sama pengusaha sppg
- Mereka dari awal jadi enabler negara buat bakar duit
- Mereka doyan potong anggaran, nilep duit yang jadi haknya murid sekolah dan ibu hamil
- Mereka kasih upah minim ke tim pelaksana SPPG
- Mereka dapet titik dari nyuap dan koneksi ordal
- Mereka oportunis ga tau tempat. Orang2 kaya gini kalau pegang jabatan pemerintahan, udah pasti bakal korup
IHSG junam, Rupiah junam, ya karena uang negara yang harusnya dipake secara cermat dan strategis malah masuk kantong mereka
Kita mungkin baru akan liat IHSG recover 2027 onwards, itu gara2 mereka
Namanya Yasika Aulia Ramadhani. Usia 20 tahun. Pembina Yayasan Yasika Group.
Di usia yang kebanyakan orang masih mikirin skripsi, dia udah mengelola 41 dapur MBG yang tersebar di Makassar, Parepare, Gowa, dan Bone.
Inspiratif banget. Tapi tunggu dulu.
Aturan BGN: maksimal 10 dapur per yayasan, per provinsi.
Cara Yasika punya 41: daftar lewat beberapa yayasan berbeda-beda. BGN-nya sendiri yang ngaku ke publik:
"Tahunya itu dari cerita orang. Yang kami baca cuma dokumen."
Jadi sistem dilangkahi , dan yang melangkahi bukan sembarang orang.
Ayahnya: Yasir Machmud. Wakil Ketua DPRD Sulawesi Selatan. Partai Gerindra.
Fungsi utama DPRD: mengawasi penggunaan anggaran publik.
Program MBG dibiayai Rp 335 triliun anggaran negara , dari pajak lo, dari pajak gue.
Trus anak Wakil Ketua DPRD mengelola 41 dapur dari program yang seharusnya diawasi oleh ayahnya sendiri.
Saat wartawan tanya ke Ketua Badan Kehormatan DPRD Sulsel soal konflik kepentingan ini:
"Aduh, saya tidak bisa berkomentar soal itu."
Saat wartawan coba konfirmasi ke Yasir dan Yasika: tidak direspons.
Kolom komentar Instagram keduanya langsung ditutup.
Dan BGN bilang tidak bisa menghentikan 41 dapur itu karena:
"Kasihan anak-anak yang sudah terima manfaat."
Bukan tuduhan.
Ini fakta yang sudah dikonfirmasi BGN sendiri, diliput Liputan6, Tempo, Kompas , dan diinvestigasi ICW, yang menemukan 102 yayasan mitra MBG di 38 provinsi terafiliasi politisi, militer, dan polisi.
Gerindra: partai paling banyak afiliasinya dengan 7 yayasan.
Program ini katanya untuk anak-anak kurang gizi.
Pertanyaannya sederhana: siapa yang paling bergizi dari program ini?
penyesalan selama SMA
1. ga pernah ikut lomba/ngumpulin sertif
2. ga nentuin arah hidup dr kelas 10
3. terlalu fokus organisasi
4. terlalu santai dan kebanyakan main
@BudiBukanIntel “Benar” dan “salah” itu dlm beberapa aspek dan di komunitas yg berbeda bisa jadi sangat relatif … maka dari itu ada sistem demokrasi, sistem hukum, uji materi, ada kajian, evaluasi, dsb.
Pancasila isn't inclusive. FYI back then Buddhists were struggling to clarify the concept of "Keesaan Tuhan" just to fit in. Pada gatau kan? Engga lah, kan kalian gak peduli sama minoritas. If we—minorities die of oppression, you guys don't give a fuck anyway.
Guru dan Dosen menggugat ke MK, tentang tidak adanya standar upah minimum sehingga guru dan dosen bisa diupah semau-maunya.
Saat ini, jika kebijakan pendidikan dipoles seetalase mungkin, tetap akan mentah, jika pemerintah tidak segera memberikan jaminan kesejahteraan para pendidik. Pengandaian bahwa guru dan dosen mendapatkan tunjangan, sementara gaji pokok di bawah standar, hanya upaya delusi pemerintah untuk menyakini dirinya telah mensejahterakan kaum pendidik di negeri ini.
Semua fakta ini lebih terang dari cahaya.
Dengan demikian, maka pemerintah sulit mengklaim anggaran yang seharusnya bisa mensejahterakan pendidik, untuk digunakan "program prioritas" yang diambil dari 20% anggaran Pendidikan.
Ditambah saat ini ada 5 Gugatan terhadap MBG dalam UU APBN 2026. Jika Gugatan ini dikabulkan, MBG haram menggunakan 20% anggaran pendidikan.
Dengan demikian, MBG sulit dimasukan RUU Sisdiknas. Meski demikian, laporan tempo menyebut ada upaya memasukan MBG ke RUU Sisdiknas.
Pada sisi lain, pejabat BGN secara tiba-tiba berstatemen bahwa MBG itu harusnya untuk balita, ibu menyusui dll. Dan ditekankan bahwa siswa bukan sasaran utama MBG. Ini 90 derajat berbeda dari kampanye selama ini yang menyatakan siswa sangat butuh MBG.
Pada satu sisi, ini kemenangan, karena sepertinya pemerintah sedang menggeser MBG di "sekolah" ke sasaran yang notabennya "gizi masyarakat" yang selama ini diurus kemenkes.
Tapi ini juga tekanan pada front kesehatan, sebab pada tahun mendatang anggaran MBG yang akan diambil dari mandatoris kesehatan dari 37 Triliun (2026) akan mencapai diatas 200 Triliun pertahunnya (2027-2029).
Teman-teman nakes harus segera menyiapkan front untuk mempertahankan mandat kesehatan, sebab 37 Triliun anggaran kesehatan diambil MBG pada 2026 saja, BPJS sudah bergoyang.
Yang jadi soal, jika pemerintah menganggap front dari pendidik dan nakes adalah musuh negara, pemerintah sejatinya sedang menciptakan musuh yang tidak ada. Sebab pendidikan dan kesehatan adalah peran minimal negara.
Sejak MBG sudah diperkarakan di MK, pemerintah seharusnya membuka dialog bermakna--bukan atraksi istanasentris--dengan kalangan pendidik dan nakes. Mereka punya suara yang lebih jernih, kemana seharusnya MBG diberikan, dan bagaimana seharusnya.
Sebanyak apapun aparat yang dikerahkan untuk mengelilingi rantai pasok ompreng MBG, jika isinya racun akan tetap racun. Jika isinya keserakahan, joget tidak akan bisa ditahan.
Entah kenapa, sinyalemen ini tidak mampu dibaca oleh istana yang sibuk memetakan musuh, sehingga peringatan yang nyata hanya dianggap residu sentimen, yang sejatinya tidak mungkin dilakukan banyak pihak dalam waktu bersamaan.
Sikap kritis dan cinta tanah air bukan air dan minyak. Ini bukan negara teater yang plotnya bisa dibuat hitam putih.
Pemerintah perlu peka terhadap apa yang terbiasa terjadi di alam, ketika semut-semut keluar dari lubang, ubur-ubur kepermukaan laut, dan binatang buas yang biasanya bersembunyi terang-terangan mengacak-acak pemukiman warga.
Sepertinya, ini kenyataan yang terlalu berat diterima. Agaknya lebih mudah menganggap mereka yang bersikap kritis sebagai komitmen permusuhan. Ini lebih mudah dipetakan dalam laporan-laporan singkat yang tidak menguras otak.
Kita butuh "new deal" sebelum terlambat.
@ardisatriawan Plus minus kayaknya sih pak. Ada bagusnya, tp jangan sampai berlebihan sehingga melupakam well being anak. Soalnya, dunia ini makin kejam dan kompetitif. Kalo anak kompetitif, dia jg mendapatkan manfaatnya. Asal berimbang aja kynya
One of the most amazing things I’ve ever seen: a standing ovation for the full Daraxonrasib results
I feel inspired and energised, to put it mildly — we have a targeted therapy for pancreatic cancer now, and nothing is undruggable anymore