I love you. I do love you.
Not with the kind of love that keeps score, nor with the kind that waits at the door demanding to be let in. I love you with a quiet abundance, a love that has learned that not everything it gives will find its way back.
kalau gua hari ini, besok, dan seterusnya keliatan jauh lebih stabil, lebih bisa rem pikiran dan perasaan, percayalah itu belum menghapus keinginan untuk mati
Warga Indonesia beruntung bisa terpapar mitologi sejarah dari 3 peradaban besar.
Banyak yg akrab dengan Journey to the West & Sam Kok.
Saat bersamaan kenal tokoh2 Mahabharata, Bharatayudha sampai Ramayana.
Tapi tumbuh besar dengan cerita Prometheus, Orpheus sampai Odiseus.
Karya sastra pada hakikatnya adalah karya seni yang bebas diekspresikan, bukan sekadar media khotbah atau buku pedoman terkait moralitas.
Miskonsepsi bahwa sastra harus selalu disisipkan dengan pesan moral itu berasal dari tradisi pendidikan dasar yang menggunakan karya seni sebagai alat indoktrinasi.
Praktik ini berakar dari paham didaktisisme, di mana fungsi utama sastra disamakan dengan buku teks, yaitu untuk mengajarkan dogma, agama, atau etika.
Masalahnya, pendekatan ini terus dilanggengkan di sekolah karena beberapa alasan tertentu, misalnya:
Pertama, ditinjau dari fungsi pragmatis, di mana pemerintah atau institusi pendidikan menjadikan sastra sebagai instrumen praktis untuk pembentukan karakter.
Ke-dua, terkait warisan tradisi, di mana sastra klasik sering digunakan oleh leluhur sebagai panduan hidup dan nasihat sosial, sehingga anggapan bahwa sastra adalah “buku petunjuk moral” itu melekat kuat.
Ke-tiga, aku rasa ini juga karena kemudahan evaluasi bagi guru, di mana guru lebih mudah menguji pemahaman siswa dengan meminta mereka mencari pesan moral daripada menganalisis estetika, metafora, atau kompleksitas emosi dari sebuah teks.
Dari pengalamanku di bangku kuliah sastra, aku malah menemukan bahwa karya sastra yang baik justru nggak mendikte pembacanya dengan pesan moral klise seperti “yang jahat akan kalah.”
Sastra diciptakan untuk memotret realita secara utuh, mempertanyakan nilai-nilai yang ada, atau memberikan pengalaman batin yang kompleks, sehingga menjadi ruang untuk tumbuhnya empati dan pemikiran yang kritis.
dan sastra bukan buku petunjuk hidup, melainkan medium untuk memahami kompleksitas manusia. tidak selalu menawarkan solusi, tapi hampir selalu mengajak pembacanya berpikir.
memang sudah waktunya mendekonstruksi pemikiran “setiap karya sastra pasti memiliki amanat” menjadi “setiap karya sastra menghasilkan makna, tetapi makna tidak selalu berbentuk amanat”
Sebagai guru bahasa, saya memahami ini.
Pd banyak kasus, saat baca fiksi, level pendidikan kita di kelas selalu diarahkan "Apa pesan moralnya?" terlebih bila pakai modal unsur intrinsik.
Dan kdng juga, kita juga banyak anehnya, saat fiksi juga diharapkan membawa moral yg baik.
tidak semua karya ingin mengajarimu menjadi orang baik. ada karya yang hanya ingin membuatmu gelisah.
ada karya yang hanya ingin membuatmu melihat dunia dari sudut yang belum pernah kaulihat. ada karya yang hanya ingin membuatmu bertanya.