NAJIS
SAYA KECEWA DENGAN ITB
Baru baca duduk perkara kasus kekerasan seksual yang melibatkan dosen ITB. di @TirtoID
Kasus ini bikin miris
dan kecewa banget sama cara penanganan.
Korban harus bertahan hampir dua tahun sebelum ada keadilan yang dirasa layak. 2 TAHUN BOS !!!
Kronologi
- 27 September 2024: Insiden pertama di area kampus ITB. Korban (asisten dosen perempuan, inisial RA) mengalami pemaksaan fisik oleh dosen pelaku (inisial RR, dari prodi berbeda).
- 16 Oktober 2024: Insiden kedua. Pelaku bilang mau minta maaf, korban datang, tapi malah terjadi lagi. Korban trauma berat.
- 16 November 2024: Korban lapor tertulis ke Satgas PPK ITB (No. 47/2024). Baru satu bulan setelah kejadian kedua.
ITB baru kasih sanksi administratif pada 13 April 2026 — hampir 17 bulan kemudian! Sanksi cuma: teguran tertulis, penundaan kenaikan pangkat, dan pembatasan beban SKS mengajar.
Korban merasa tidak ditanggapi serius.
Akhirnya resign dari jabatan asisten dosen. Kondisi mentalnya drop parah. Bahkan dalam satu bulan terakhir, hampir lima kali mencoba bunuh diri. Korban harus konsultasi psikiater sendiri dan minum obat.
Baru 29 Mei 2026 korban lapor ke Polisi (Polda Jabar, LP/B/1029/V/2026). Saat ini proses penyidikan masih di tahap awal (per Juni 2026).
ITB lewat Direktur Komunikasi dan Humas-nya bilang: “ITB sangat menyayangkan, prihatin, dan mengecam... Terlapor telah dijatuhi sanksi sesuai ketentuan yang berlaku.” Tapi buat korban, rasanya terlambat dan sanksi terlalu ringan untuk tindakan seberat itu.
Sebagai sesama dosen, saya kecewa berat. Kampus seharusnya jadi tempat paling aman buat civitas akademika, apalagi melindungi korban dengan cepat dan tegas. Bukan malah bikin korban harus resign, lapor polisi sendiri, dan berjuang sendiri melawan trauma.
Kuasa hukum korban, Muhammad Hamzah, bilang tujuannya supaya korban-korban lain berani speak up. Semoga kasus ini jadi pelajaran buat semua kampus di Indonesia.
Semoga korban cepat pulih dan dapat keadilan yang sebenarnya.
Link berita lengkapnya:
https://t.co/vr55kw5ET1
@Fandom_ID@KevinPin__@ngapa_ya23@krisiparuhbaya@ahliCINTA@scapeeegoat@f02prasetyo@Windekind_Budi@hermansiboeng@Lambe_Iler@Juve_info01@BetaKopites@sepakbolatribun@stngh_lapangan@txtttgbola@UnitedTalkAbout@psetengahmatang@vicko_twitt@bacot_bolaa
“Aku ikut aksi demo ini tahunya dari mami”
Anak SD diajak ikut demo, dan banyak yang bilang ini arahan dari Kepala Dinas Pendidikan
SAKIT JIWA KADISDIK🤮🤮
bukti anak itb itu biasa: bodoh gabisa multitasking untuk belajar uas sekaligus mengkritisi pemerintah di waktu yang sama sehingga turun demonya 'telat' dibanding yg lain.
Apa kabar Unisba dan Unpas Tamansari yang tiap ada demo besar-besaran selalu menjadi zona aman dan titik evakuasi buat korban. Selalu digedor dan digeruduk aparat pasca aksi. Ga pernah merasa eksklusif dan heroik "kalo kita udah turun artinya negara memamg tidak baik saja".
Dalam 60 hari terakhir:
Aktivis HAM disiram air keras → pelakunya bebas sebelum motor lo lunas
Kacab Bank BUMN diculik dan dibunuh → salah satu pelakunya cuma 1 tahun, masih aktif berseragam
4 Brimob ditikam sampai operasi → diselesaikan dengan "damai" dan mutasi
Oknum TNI aktif ditangkap bawa 29 kg sabu → pengedar, bukan pemakai
Bocah SD 12 tahun dicabuli → pelakunya kabur 36 hari dari pemeriksaan internal sendiri
Ini bukan rangkuman berita kriminal biasa.
Ini laporan kinerja sebuah sistem.
Konsep “demo tapi mendukung” saja sudah aneh.
“Tapi kan, Bang, ada demo dukung Palestina?”
Jadi gini, dek.
Gerakan dukungan itu tetap masuk akal kalau arahnya membela pihak yang tertindas atau menekan pihak yang punya kuasa.
Demo dukung Palestina, misalnya, bukan membela kekuasaan.
Itu bentuk solidaritas kepada korban dan tekanan moral kepada negara/lembaga internasional.
Nah, ketika ada yang turun ke jalan untuk membela pemerintah yang sedang berkuasa, apalagi di saat pemerintah itu sedang dikritik...
monyet bodoh yang baru lahir saja tahu kalau itu bukan gerakan murni, tapi bagian dari upaya mengamankan narasi kekuasaan.
@awcancie klo menurut gua coping mechanism aja si yg ngomong gitu, mereka gabisa dapet pendidikan bagus jadi harus ngeyakinin diri mereka dan orang lain bahwa jalan yang mereka laluin itu udah yang paling baik
untuk saat ini infonya yang ditahan anak unpad, upi, unpar, ukri, ut. sisanya belum ada kabar lebih lanjut. barangkali ada temennya yang belum ada kabar boleh dateng ke reskrim
ketika harga minyak dunia naik
teddy: "harga pertamax naik mengikuti harga minyak dunia"
sekarang harga minyak dunia turun
pertamina: "berdasarkan kordinasi dgn pemerintah, harga pertamax tidak mengikuti harga minyak dunia"
P MAKSUDDD?