Iman Zanatul Haeri (Kepala Bidang Advokasi Perhimpunan Pendidikan dan Guru - P2G) :
"Siapa pun yang merampok anggaran pendidikan, di dunia dipenjara, di akhirat dia masuk neraka"
~Mari kita Amin-kan bersama~ 🤲🥲
have you ever had mahasiswa bimbingan yang skripsinya bagus banget sampe pengujinya bingung nanya apa pas sidang, like "Di halaman 68 mengapa terlalu banyak Ibid" tenangin diri lo Prof
Best read bulan ini 🥹
Dulu jaman masih sekolah di SMM, beberapa kali dapet kesempatan mainin repertoar musikalnya.
22 tahun kemudian akhirnya bisa baca novelnya. Ternyata baik musik dan novelnya sama² berkesan buat aku.
#book#booktwt
Menurutku agak lucu ketika reading habit turned into ajang validasi intelektual. Seolah orang baru boleh dianggap “suka baca” kalau bacaannya sesuai standar tertentu.
Padahal selera bacaan tuh grows with age and life experience. Ada yang mulai dari Tere Liye atau Ika Natassa, lalu pelan-pelan berubah sendiri karena hidupnya juga berubah. Sama kayak music taste, film, atau cara kita lihat dunia.
Saya rasa tiap buku datang di timing yang beda buat tiap orang. Dan kadang yang paling ngaruh bukan bukunya “berat” atau enggak, tapi apakah buku itu berhasil bikin seseorang mau terus baca.
Ada tulisan cantik banget, kira-kira begini isinya:
“semoga kamu selalu dipertemukan dengan seseorang yang dapat berbicara bahasa mu, sehingga kamu tidak perlu menghabiskan waktu seumur hidup untuk menerjemahkan jiwamu..”
Sengaja beli ini buat dibaca waktu lebaran. Tapi ternyata aku nggak se sabar itu 🥲.
Buku ini berisi 15 cerita mengenai Hari Raya dari 15 kontributor dengan latar budaya, ruang dan situasi yang berbeda. Ceritanya hangat dan ringan. 5⭐️
https://t.co/bx6XLavzki
Jujur, aku kagum betul sama ini negara.
Ada rakyat mengkritisi program pemerintah dengan cara-cara baik dan memberikan saran baik, enggak didengar. Malah dicibir habis-habisan dalam setiap pidato presiden.
Giliran ada Ketua BEM salah satu Universitas di Indonesia mengkritisi dengan menyurati PBB dan menggalakkan istilah "Maling Berkedok Gizi" dalam panggung-panggung organisasi, eh malah mendapat teror sana sini sampai orang tuanya ketakutan.
Dan, yang bikin makin takjub, Istana malah merespon: makanya kalau kritik pakai etika.
Woi, itu rakyat lu kena terror karena kritis menyuarakan aspirasinya.
Malah ditanggepin begitu.
Jadi ya enggak heran kenapa orang kritis di negeri ini selalu diterror kepala babi, bangkai ayam, di lempar telur busuk, dan di lempar bom molotov, orang negaranya saja tidak bereaksi apa-apa terhadap pelaku terror pada mereka yang keras bersuara.
Katanya kritik sebagai vitamin, tapi nyatanya?
Sebagian orang menjadikan buku dan penulis favorit sebagai identitas kepribadian (personality). Akibatnya, saat muncul kritik terhadap karya atau penulis tersebut, pembaca merasa terserang secara personal. Mereka lupa bahwa yang dikritik adalah kualitas karya, bukan selera atau harga diri pembacanya. Jadi, tidak perlu defensif; kritik terhadap sebuah buku bukanlah ejekan terhadap seleramu.