Good morning. Woke up to $1 now equals 18.100 rupiah. Pertamax has risen from Rp12.300 to Rp16.250, and 5kg rice from Rp75.000 to Rp90.000. If you see nothing wrong with Indonesia's current fucked-up situation, you're either a nepo baby or braindead assholes who voted for 02.
Menurut gw, having a child itu keputusan yang paling sakral dalam hidup manusia. Bahkan daripada menikah.
Karena kita menghadirkan satu jiwa baru lagi di dunia yang seperti ini. Yang one day kita akan lepasin gitu aja, sementara kita jg akan dimintai pertanggungjawaban.
Sayangnya, banyak orang mikir punya anak sekadar ngelahirin, ngasih makan, udah.
Padahal tiap manusia punya kebutuhan dasar dan banyak hak, sampai aspirasi dan cita2 yang menurutku parents musti turut bertanggungjawab.
Ini jokes tapi nyelekit banget karena terlalu nyata.
2021 semua orang bilang WFH adalah masa depan. Produktivitas naik. Work life balance membaik. Tidak perlu buang 3 jam sehari di jalan cuma buat duduk di depan laptop yang sama.
2024 komprominya hybrid. Dua tiga hari di kantor. Sisanya dari rumah. Semua orang bisa hidup dengan itu.
2026 tiba tiba balik lagi. Empat hari seminggu di kantor. Dan alasannya satu kata yang tidak bisa dibantah tapi juga tidak bisa dibuktikan.
Kultur.
Kita butuh kultur yang kuat. Kita butuh kolaborasi. Kita butuh energy yang cuma bisa ada kalau semua orang ada di satu ruangan.
Dan realitanya di ruangan itu?
Semua orang pakai noise cancelling headphones. Kepala menunduk ke layar masing masing. Tidak ada yang ngobrol. Tidak ada yang brainstorming spontan. Tidak ada magic kultur yang dijanjikan.
Yang ada cuma orang orang yang sama, ngerjain pekerjaan yang sama, yang bisa mereka kerjain dari rumah, tapi sekarang harus buang waktu dan uang buat transport dulu sebelum bisa mulai.
Dan ini relate banget di Indonesia.
Macet Jakarta rata rata 3 jam pulang pergi. Itu 60 jam sebulan. 720 jam setahun. Tiga puluh hari penuh dalam setahun habis di jalan.
Bukan buat meeting penting. Bukan buat kolaborasi yang tidak bisa dilakukan secara digital.
Tapi buat duduk di kantor sambil pakai headphones supaya tidak terganggu rekan kerja.
Yang paling ironis keputusan balik ke kantor ini hampir selalu datang dari orang yang kantornya punya parkir khusus, ruangan sendiri, dan tidak merasakan macet yang sama dengan karyawannya.
Kultur yang mereka maksud itu nyata.
Tapi kulturnya adalah bos bisa lihat lo duduk di kursi. Dan kalau bos bisa lihat lo duduk berarti lo kerja.
Bukan soal produktivitas. Bukan soal kolaborasi.
Soal kontrol.
Scene ikonik di Blue Valentine (2010) yang kelihatannya happy, gemas dan romantis ini sebenarnya sedih banget kalau udah nonton filmnya.
Untuk adegan ini sutradara Derek Cianfrance sengaja minta Ryan Gosling dan Michelle Williams buat gak saling ngasih tau bakat satu sama lain supaya reaksi yang muncul jadi spontan dan nyata. Dan bener, ini momen berasa genuine banget!
Ryan Gosling dan Michelle Williams benaran tinggal bareng selama sebulan sebelum syuting untuk ngelakuin di mana momen pernikahan mereka mulai memburuk. Mereka hidup dengan budget cuma $200 tiap dua minggu (dibuat sengaja cekak supaya bisa realistis dan stressful). Terus mereka juga bagi tugas rumah, termasuk cuci piring 3 kali sehari, pake kamar mandi yang sama, bahkan sampe diminta buat cari alasan supaya bisa ribut sungguhan.
Gosling bahkan pernah bilang kalau ia sulit buat ngelepasin cicin pernikahannya. Seperti bukan cuma ngelepas sebuah properti film, tapi seperti nutup hubungan yang udah mereka bangun secara emosional.
Ini juga ngejelasin kenapa Blue Valentine bisa berasa gitu nyakitin dan realistis. Jarang ada film romansa yang breakup-nya terasa sejujur dan sebrutal ini.
My mom’s older brother passed away a few years ago. He was the quiet type. Lived in the same modest house for decades. Wore old flannels. Fixed his own car. No one ever thought of him as “well off.”
After he died, we learned he had been buying small life insurance policies over the years. Not for himself. For his nieces and nephews.
In his will, he left each of us a payout that would only be released for one thing: education, starting a business, or a down payment on a first home.
No speeches. No “remember me” letter. Just paperwork and signatures.
Turns out he had also been anonymously paying for one cousin’s trade school tuition when their parents couldn’t afford it. None of us knew.
He never posted about helping anyone. Never brought it up at dinner.
He just quietly positioned the next generation a few steps ahead.
Sometimes love looks like preparation no one sees coming.
Jgn terlalu loyal sm perusahaan, pindah 1-2 thn sekali, increase yo salary 20%-30%, ambil sertifikasi, S2.
Sering2 cuti dah, travelling, build relationship with friends, yo parents.
Olahraga.
Sayangin ortu, lebih pemaaf lebih penyayang.
TIDUR PENTING.
ada bocil 9th mau MRI, diminta standby buat ngebius kalo2 anaknya nangis & berontak. ternyata anaknya tenang, kooperatif. pas mau mulai ditanya, mau sambil dengerin lagu apa?
“hindia”
SIAP ABANG2AN BROKEN
Anjing gue juga suka coklat, tiap gue makan coklat dia ngerengek minta.
Apakah kemudian gue kasih? Ya enggak, karena gue tidak tolol.
Orang-orang kayak gini sih bikin gue smakin yakin manusia emang butuh surat izin beranak. Salah satu syarat dapetinnya harus tes akal sehat, logika, ama psikiatri.
Kasian anaknya kalo engga, minta dilahirin juga kagak, eh sekalinya brojol dapet emak antivaxx + dongo 🤦🏻♀️