Aku kasih 3 website GRATISSSSS yg biasanya aku gunakan untuk membuat dashboard.
1. https://t.co/GAe1f51D6g
Kaggle cocok kalo kamu ingin mencari dataset untuk latihan dan membangun portfolio. Namun, kualitas dan sumber dataset juga perlu diperiksa karena dataset berasal dari berbagai kontributor.
2. https://t.co/IW5gjr0IYe
BPS cocok kalo kamu ingin menggunakan data Indonesia yang resmi dan relevan untuk analisis daerah atau sosial-ekonomi.
3. https://t.co/SRu0QNnwUp
World Bank cocok kalo kamu ingin membuat dashboard perbandingan antarnegara atau analisis tren pembangunan.
Jujur ngeri sih ini🥲🙏
Pertalite abis dimana-mana
Mall- Mall besar pada bikin pagar tinggi
Harga sembako naik lagi
PHK dimana-mana, banyak layoff
Polri vs Kejagung tiba2 selesai
Pejabat2 pada masukin keluarga jadi komisaris
Langsung ke intinya aja, jadi tanggal berapa sih?
Harus gimana menyikapi situasi ini?
🙏🥲
Jujur ya.. Jakarta itu mahal buat SEMUA orang!
Gak peduli tinggal di Senopati atau di pinggiran Jaktim. Bedanya cuma di apa yang kamu korbankan buat bisa bertahan di sini.
3 "mata uang" yang biasa dikorbankan orang Jakarta:
- Uang: bayar lebih demi waktu/kenyamanan
- Waktu: komuting jam-jaman demi ngirit sewa
- Kewarasan: tinggal numpang demi nabung, tapi bayar pakai stres
Ada yang rela komuting 4 jam PP naik angkutan umum dari Pinggiran Jkt ke kantornya di Jakarta Selatan, demi nggak perlu ngekos di tengah kota.
Ada juga yang udah 40-an tahun tapi masih tinggal di rumah orang tua, bukan karena nggak mampu ngekos, tapi karena dia hitung-hitung sendiri dan itu emang lebih masuk akal secara finansial. Cuma "bayarnya" pakai kesehatan mental.
Buat yang udah berkeluarga, mainnya beda lagi.
Kalau masih single, struggle-nya soal kos vs komuting. Tapi buat yang udah punya anak, ceritanya soal berapa persen gaji yang abis buat kebutuhan sosial anak, sekolah, kegiatan, pergaulan.
Salah satu temen bilang dia alokasiin sampai 80% gajinya ke rekening keluarga, dan tetap ngerasa kerja keras tapi nggak pernah kerasa "kaya" .. yang ada cuma mode survival terus.
Yang bikin capek bukan cuma harga, tapi rasa "kurang" yang nggak pernah abis.
Jakarta didesain buat bikin orang terus ngerasa kurang: gaji harus lebih gede, lingkungan harus lebih oke, gaya hidup yang "dikit lagi" keraih.
Makin ngejar standar orang lain (atau standar yang muncul di linimasa), makin jauh juga rasa "cukup" itu kekejar.
Jadi strategi paling realistis buat hidup di Jakarta bukan nyari cara biar nggak ngorbanin apa-apa, karena emang nggak ada caranya.
Tapi nyari tau: dari uang, waktu, atau kewarasan, mana yang paling worth buat LO korbanin?