Saya, sambil melukis di Magelang, mengikuti perkembangan dan dinamika pasar. Baik pasar modal maupun pasar uang. Memang, kurang menggembirakan.
Tetapi, saya berpendapat, tekanan ekonomi yang lebih berat masih dapat dicegah. Tentu something must be done. Kita masih memiliki "political & economic resources". Opsi & solusi masih tersedia.
Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo, pemerintah, dunia usaha, para ekonom dan seluruh pemangku kepentingan "must be on board". In crucial things unity. Mutual trust mesti dibangun bersama.
Mari kita berikan kesempatan dan dukungan kepada pemerintah. Insya Allah Indonesia Bisa. *SBY*
Di suatu negara yang aneh
Negara tropis = buah mahal
Negara maritim = ikan mahal
Negara CPO = migor mahal
Negara SDA = listrik dan BBM mahal
Negara hukum = tunggu viral
Swasembada pangan = beras mahal
Bebas aktif = ikut BOP
Negara religius = korupsi nya banyak, sampai kitab Tuhannya dikorupsi
Semuanya karena sistem yang buruk dan political will yang tidak berpihak rakyat tapi berpihak cepat balik modal dan nambah kekayaan pribadi hehe
Embege akan sangat bagus jika:
-yang diupgrade itu kantin sekolah
-pemasaknya yang ada di kantin
-dapurnya decenterized tiap sekolah
-beli bahan di pasar terdekat
-ga bakal basi karena ga perlu nganter2
Bukannya bikin dapur katering 2 miliar bonus motor trail sama semir sepatu.
Keluar dari kamarmu, ambil laptop terus pindah ke cafe. Stay di hotel, traveling ke kota lain. Satu2nya obat depresi itu adalah dgn kita keluar rumah, pergi ke tempat baru, and stop looking at ur fucking phone
Jujur, aku kagum betul sama ini negara.
Ada rakyat mengkritisi program pemerintah dengan cara-cara baik dan memberikan saran baik, enggak didengar. Malah dicibir habis-habisan dalam setiap pidato presiden.
Giliran ada Ketua BEM salah satu Universitas di Indonesia mengkritisi dengan menyurati PBB dan menggalakkan istilah "Maling Berkedok Gizi" dalam panggung-panggung organisasi, eh malah mendapat teror sana sini sampai orang tuanya ketakutan.
Dan, yang bikin makin takjub, Istana malah merespon: makanya kalau kritik pakai etika.
Woi, itu rakyat lu kena terror karena kritis menyuarakan aspirasinya.
Malah ditanggepin begitu.
Jadi ya enggak heran kenapa orang kritis di negeri ini selalu diterror kepala babi, bangkai ayam, di lempar telur busuk, dan di lempar bom molotov, orang negaranya saja tidak bereaksi apa-apa terhadap pelaku terror pada mereka yang keras bersuara.
Katanya kritik sebagai vitamin, tapi nyatanya?
Artikel yang berani dr mz. Moh. Ainun Rizqi.
• Kurikulum Gonta-Ganti Terus: Tiap ada perubahan kurikulum, bahasanya selalu keren: "progresif" atau "visioner". Tapi kenyataannya, guru di sekolah sering bingung karena aturan mainnya berubah terus dari pusat.
• Suara Guru Nggak Didengar: Penulis pakai istilah keren epistemic injustice. alias Negara nggak percaya kalau guru itu pinter. Guru cuma dianggap sebagai "petugas" yang tinggal jalanin perintah, bukan ahli yang paham kondisi murid di lapangan.
• Regulasi "Sok Tahu" dari Pusat: Kebijakan pendidikan kita itu sifatnya top-down (dari atas ke bawah). Orang-orang di kantor pusat yang mungkin jarang masuk kelas, bikin aturan yang harus diikuti semua guru, tanpa nanya dulu ke gurunya: "Eh, ini cocok gak buat murid kalian?"
• Guru Jadi Korban, Di satu sisi harus nurut sama aturan administrasi yang ribet, tapi di sisi lain mereka yang paling tahu kalau murid-muridnya punya kebutuhan yang beda-beda. Akhirnya guru kayak robot yang dipaksa kerja pakai remote control dari jauh.
• Efeknya? Pendidikan Jadi berantakan. Kalau pemerintah terus-terusan merasa paling tahu dan mengabaikan pengalaman nyata guru di kelas, ya pendidikan kita nggak bakal maju-maju. Antara teori di kertas sama kenyataan di kelas bakal selalu nggak nyambung.
Indonesia menempati posisi kedua negara paling rentan penipuan di dunia menurut Global Fraud Index 2025 dari Sumsub. Dengan skor 6,53 dari 10, Indonesia berada di urutan 111 dari 112 negara.
Baca di sini: https://t.co/RDLrCNPpyB
~TR #Indonesia#GlobalFraudIndex
Mari jawab seriusan..
PDKT umur 30an sih... jujur aja lebih serius tapi sekaligus lebih santai. Maksudnya gini, sekarang kan udah nggak ada waktu buat drama-dramaan atau ngegombalin berbunga-bunga. Jadi langsung aja gitu lho.
Biasanya sih ngobrolin:
1. Kerjaan dan karir
Gak usah flexing, tapi lebih ke "kamu enjoy nggak sama kerjaan kamu sekarang?" atau "rencana ke depannya mau gimana?" Soalnya di umur segini kan udah mulai jelas ya arah hidupnya kemana.
2. ekspektasi
Langsung to the point. Mau nikah atau nggak, mau punya anak atau nggak, tinggal bareng ortu gimana, soal finansial gimana. Ngobrolnya gak ngawang-ngawang gitu.
3. Keluarga
Bakal discuss lebih ke hubungan sama ortu gimana, ada tanggung jawab apa ke keluarga, value yang ditanem sama keluarga apa.
4. Kesehatan mental dan kematangan emosi
Pernah terapi nggak, gimana cara kamu handle konflik, attachment style kamu apa. Soalnya di 30an udah ngerti pentingnya stabilitas emosional.
5. Lifestyle dan hobi
Weekend biasa ngapain, suka traveling kemana, spending habit kayak gimana. Penting soalnya ini bakal jadi keseharian kalian nanti.
6. Past relationship
Kenapa putus sama yang dulu, udah move on belum, pelajaran apa yang didapet. Nggak buat nyinyir, tapi buat tau polanya gimana.
Intinya sih lebih mature, lebih jujur, dan nggak banyak basa-basi. Umur segini mah udah capek main tebak-tebakan hati 😅
@tanyakanrl Ternyata MBG itu ga gratis ya, dibayarnya pake:
- sulitnya akses pendidikan layak
- keracunan makanan
- sulitnya nyari pekerjaan
- pemulihan bencana yg lambat
- non aktifnya bpjs
Semoga semuanya lekas membaik, hanya kepada Tuhan kita berharap.
-kalo kalah pintar, lu harus menang disiplin
-kalo kalah modal, lu harus menang konsisten
-kalo kalah gaya, menanglah di etika
-kalo kalah pendidikan, menanglah di pengalaman
-kalo kalah cinta, menanglah di self value
-dan kalo kalah segalanya, menanglah dihubungan lu sama Tuhan
Presiden Prabowo menginginkan Undang-Undang Dasar 1945 dikembalikan ke naskah awal. Pengamat menilai hal itu tak ubahnya seperti menghidupkan kembali Orde Baru.
#TempoPlus
Di dunia yang semakin chaos, tugas paling berat bukan sekadar mencari nafkah, melainkan membersamai anak.
Memastikan mereka tumbuh mindful. Mampu mengikuti kecepatan zaman tanpa terseret kekacauan. Punya daya pikir, daya tahan, dan kompas batin.
Kadang tantangannya bukan soal uang. Justru kekacauan dunia itu sendiri yang paling melelahkan.
Informasi berlebihan.
Tekanan sosial.
Standar yang berubah cepat.
Kebisingan yang ngga pernah berhenti.
Jangankan anak-anak, orang dewasa pun banyak yang tumbang.
Sebagai ibu yang intens mendampingi anak tumbuh, saya paham kenapa sebagian orang memilih untuk child-free.
Bukan karena tidak peduli.
Tapi karena sadar: membesarkan manusia di zaman seperti ini membutuhkan kesiapan mental, energi, dan kehadiran yang tidak main-main.