Otoritarianisme tidak berdiri sendiri, ia tumbuh bersama korupsi, merembes ke institusi, dan pada akhirnya yang rusak bukan hanya sistem, tetapi juga jalinan sosial: kepercayaan antarwarga, rasa keadilan, bahkan harapan akan masa depan bersama. Apakah kita sudah sampai di sana? Apakah masih ada harapan untuk mencegahnya?
The joke is that these mfers think they're free.
No nation or system can grant you freedom.
You were born with it, then bit by bit, they stole it from you.
Only you can reclaim it.
#AprilFooolsDay#Joker#NoMasters#Anarchy
Saya seorang penulis yang menulis karena niat utamanya pengin cari duit, bukan karena pengin mencerdaskan kehidupan bangsa atau berbagi pengetahuan, saya tidak se-Depdikbud itu. Dan karena alasan itulah, saya sangat marah jika buku saya dibajak.
Begitu pula dengan kawan-kawan yang bekerja di penerbitan, mereka menerbitkan buku ya untuk mencari uang dan menghidupi keluarganya, bukan semata demi kerja-kerja ideologis kepustakaan yang agung dan adiluhung. Dan karena alasan itulah, kerja-kerja mereka harus diapresiasi dalam bentuk materi.
Bahwa ada orang-orang mulia seperti Tan Malaka yang memberikan seluruh pemikirannya dan membebaskan karya-karyanya untuk disebarluaskan, itu tentu bagus. Namun harus diingat, tidak semua penulis betah dan sanggup mengikuti laku hidup Tan Malaka.
Sebagian penulis hanya kuat menjadi “Pram” yang punya semangat membagikan ide dan pemikirannya melalui karya-karyanya sambil tetap berharap mendapatkan materi atas karyanya.
Sisanya lagi cuma sanggup menjadi penulis “berideologi rendah” seperti saya ini yang cuma mengincar penghasilan semata agar punya ongkos menjalani hidup kian makin keras dan makin berdarah dingin ini.
Maka, kalau kalian tidak bisa memahami perasaan kami yang marah terhadap pembajakan buku, cukuplah memahami perasaan kami sebagai pekerja yang sedang berusaha mencari uang dengan cara yang halal untuk membiayai hidup.
Pahami kami sebagai manusia yang akan marah ketika sumber rezeki halalnya diganggu seperti kalian memahami tukang cilok yang akan marah ketika botol saos dan kecapnya disembunyikan atau tukang becak yang akan marah ketika ban becaknya dikempesi.
menurut @pandji, “Pembajakan tidak bisa dihilangkan, pembajakan tidak bisa di-stop, tapi pembajakan bisa dikalahkan.”
untuk mengalahkan pembajakan, kita harus punya strategi agar orang membeli yang asli. sebab, menurutnya, mengalahkan pembajakan bukan dengan menurunkan harga, melainkan dengan cara meningkatkan value.
dalam videonya, pandji menyebut 3 tipe pembeli, yakni price oriented customer, value oriented costomer, dan product oriented costomer.
1. Tidak ada hak cipta selain tuhan yang maha pencipta
2. Menyadari bahwa negara gagal total, bayangkan masyarakat kita boro-boro bisa beli buku, untuk makanpun susah
3. mendukung pembajakan buku.
4. Buku layaknya udara, gratis, dan bebas
4. Mari beralih untuk membajak b4nk
1. Tidak dukung pembajak buku krn itu merugikan penulis & pekerja buku
2. Menyadari ada pembaca yg tidak punya akses baca buku krn tidak punya akses ekonomi
3. Dukung ekosistem buku yg ngasih akses baca scr gratis & legal (perpus, komunitas, dsb)
4. Desak negara untuk hadir.
Yes! Dan buktinya meski naskah digital dibagikan secara gratis, buku fisiknya tetap habis. Pembaca-pembaca gila, memang. Sudah dikasih gratis masih saja kepingin beli yang fisik. Pas buku habis malah minta cetak ulang, padahal bisa nyetak sendiri. Garoblog! 🫵🥰