Lebih banyak melakukan pelanggaran tapi gak dapat kartu samsek, dan di pertandingan terlihat beberapa pelanggaran yg normalnya bisa dikasih kartu.
Sama kek Paraguay v Prancis kemaren nih model wasitnya.
Cuma perlakuan fans aja yg beda 😎
“Trofi ini memang diarahkan untuk Argentina.”
Sebuah kalimat yang diucapkan oleh sang pencetak gol Mesir, Mostafa Ziko sesaat setelah negaranya tersingkir dari Piala Dunia 2026.
Kekalahan 3-2 dari Argentina ternyata bukan hanya menyakitkan. Bagi kubu Mesir, pertandingan itu dipenuhi keputusan kontroversial yang mereka yakini mengubah jalannya laga. Mereka merasa beberapa keputusan wasit menjadi pembeda di pertandingan tersebut.
Pelatih Mesir, Hossam Hassan, menilai timnya dirugikan oleh dua keputusan besar. Pertama, gol kedua Mesir dianulir setelah ditinjau VAR. Kedua, Mesir tidak mendapat penalti di masa injury time, hanya beberapa saat sebelum Enzo Fernandez mencetak gol kemenangan Argentina.
Dalam konferensi pers seusai pertandingan, Hassan mengatakan:
“Kami tidak melihat rasa hormat ataupun fair play. Penalti kami dibatalkan, lalu ada satu lagi insiden yang seharusnya diperiksa VAR tetapi bahkan tidak dicek. Gol kedua kami juga dianulir tanpa alasan yang bisa saya pahami.”
Ia juga menuding tekanan dari kubu Argentina memengaruhi keputusan wasit.
“Sepertinya ada tekanan dari pihak Argentina kepada wasit yang menghasilkan keputusan seperti ini. Hidup memang tidak selalu adil. Dunia juga tidak selalu adil. Tapi kenapa olahraga juga tidak bisa adil? Saya tidak bisa menerima hasil maupun cara pertandingan ini berjalan.”
Hassan turut mengkritik jadwal pertandingan yang dimainkan pada pukul 12 siang.
“Orang yang menyusun jadwal ini pasti belum pernah bermain sepak bola. Anda tidak menjadwalkan pertandingan sepak bola pada pukul 12 siang.”
Saat berbicara kepada beIN Sports, Hassan kembali melontarkan tuduhan yang lebih keras.
“Mungkin mereka ingin mempertahankan juara bertahan di turnamen. Mungkin mereka ingin Lionel Messi tetap bertahan. Dalam sepak bola, terkadang ada faktor-faktor di luar aspek teknis. Juara dunia mendapat dukungan di setiap level.”
Ia mengaku bahkan sudah menyampaikan langsung kepada wasit bahwa pertandingan tersebut tidak berjalan dengan adil.
“Ini kemenangan yang tidak pantas untuk Argentina. Setelah saya pulang ke negara saya, saya tidak akan pernah menonton Piala Dunia lagi karena tidak ada keadilan di kompetisi ini.”
Pencetak dua gol Mesir, Mostafa Ziko, juga meluapkan kekecewaannya kepada TSN.
“Wasit tidak adil. Sangat jelas dia tidak adil. Semua usaha kami sia-sia karena keputusan-keputusannya. Kami sudah unggul 2-0 dan setelah itu kami tidak bisa berbuat apa-apa. Semua ada di tangan Tuhan.”
Ziko kemudian meminta maaf kepada masyarakat Mesir.
“Kami minta maaf kepada rakyat Mesir. Saya benar-benar minta maaf. Kami ingin membuat kalian bahagia, tetapi memang bukan takdirnya. Penyebabnya adalah wasit.”
Lalu ia menutup wawancaranya dengan kalimat yang kini menjadi sorotan.
“Trofi ini memang diarahkan untuk Argentina.”
Menariknya, kritik terhadap keputusan VAR tidak hanya datang dari kubu Mesir.
Mantan wasit Premier League, Graham Scott, yang menjadi analis perwasitan untuk The Athletic, menilai keputusan menganulir gol kedua Mesir memang keliru.
Menurut Scott, kontak antara Attia dan Lisandro Martinez dalam proses terciptanya gol hanyalah kontak normal dalam sepak bola. Insiden tersebut terjadi hampir 100 yard dari gawang Argentina, sehingga masih ada banyak waktu bagi Argentina untuk kembali bertahan. Karena itu, menurutnya, pelanggaran tersebut sama sekali tidak memenuhi ambang batas agar VAR ikut campur.
Scott bahkan menyebut intervensi VAR dalam situasi tersebut sebagai tindakan yang berlebihan.
Hingga hari ini, FIFA telah dimintai komentar terkait kontroversi tersebut, tetapi belum memberikan tanggapan.
📝: @TheAthleticFC
#FeelEveryGoal | @toshibatv_id
Awalnya ragu buat ngepost di first account mengingat isinya adalah keluarga, teman, dan kolega yang konservatif/homofobik/02 garis keras.
Tapi that Fyodor Dostoevsky "you betrayed yourself for nothing" quote keeps haunting me, so fuck it.
Awalnya ragu buat ngepost di first account mengingat isinya adalah keluarga, teman, dan kolega yang konservatif/homofobik/02 garis keras.
Tapi that Fyodor Dostoevsky "you betrayed yourself for nothing" quote keeps haunting me, so fuck it.
Salah seorang suporter Argentina membawa bendera Israel untuk memprovokasi pelatih Mesir, Hossam Hassan.
Hassan memang jadi salah satu orang yang vokal membela dan tidak melupakan Palestina di ajang Piala Dunia 2026.
udh mah tadi pemain mesir ditonjok ga ada pelanggaran, argen kesenggol dikit pelanggaran, goal kedua mesir dianulir, bener bener wasitnya bias banget anjrit gue yg awalnya dukung argen aja jd kesel sm wasitnya monyettt
Menganulir Gol Mesir ke Gawang Argentina adalah Keputusan yang Salah
Sebuah analisis dari pakar perwasitan dan mantan wasit Premier League, Graham Scott via The Athletic.
✅Keputusan menganulir gol Mesir adl keputusan yang salah. Benturan Marwan Attia terhadap Lisandro Martinez dlm proses terjadinya gol Ziko pada menit ke-67 merupakan kontak fisik yang wajar dan seharusnya dinilai seperti itu, alih-alih dianggap sbg sebuah pelanggaran.
✅Insiden itu juga terjadi hampir 100 yard (sekitar 91 meter) dari gawang, dan Argentina punya setiap kesempatan untuk merapatkan barisan dan bertahan, tidak heran jika Mesir merasa dirugikan karena gol tersebut akhirnya dianulir setelah peninjauan VAR.
✅Jika kita melihat insiden tersebut, memang ada sedikit kontak, baik kaki-ke-kaki maupun tarikan baju sekilas, tetapi tidak ada pelanggaran yang cukup berat di sini hingga layak membuat VAR mengintervensi untuk membatalkan gol. (GAMBAR 1)
✅Bagi Scott, ini adalah intervensi yg sangat mencengangkan dan bentuk penyalahgunaan wewenang yang masif dari tugas VAR. Seharusnya, VAR hanya mengoreksi kesalahan yang jelas dan nyata (clear and obvious errors).
✅VAR secara rutin memeriksa fase serangan sebelum terjadinya setiap gol dan dalam kasus ini, peninjauan akan ditarik mundur hingga momen perebutan bola (turnover of possession).
✅Agar sebuah gol dapat dibatalkan, harus ada pelanggaran yang jelas, dan hal itu tidak ada di sini. Sebagai aturan umum yang praktis, semakin lama waktu dan semakin jauh jarak antara sebuah benturan dengan terjadinya gol, maka dugaan pelanggaran tersebut harus semakin serius.
Namun, tidak ada pelanggaran yang berarti di sini, dan tidak ada hal yang mendekati ambang batas bagi VAR untuk ikut campur.
✅Dengan logika yang sama, klaim penalti Mesir atas dugaan pelanggaran terhadap Mohamed Salah sesaat sebelum gol kemenangan Argentina, sudah tepat untuk diabaikan. Ada sedikit kontak kecil pada sepatunya, tetapi tidak cukup kuat untuk membuat Salah terjatuh. Itu bukan sebuah pelanggaran.
Yang jelas, publik sepak bola Indonesia akan sulit sekali melupakan nama dan wajah wasit ini: Francois Letexier dari Prancis. Tadi, wasit ini juga yg memimpin Mesir vs Argentina dgn kontroversial.
Letexier tampil dgn buruk, tidak kompeten, dan melakukan kesalahan2 fatal dlm playoff Olimpiade 2024 antara Indonesia vs Guinea di Clairefontaine, Prancis, 9 Mei 2024.
✅Letexier menganggap Witan Sulaeman melanggar pemain Guinea Algassime Bah. Padahal dlm tayangan ulang, Bah dilanggar di luar kotak penalti. Guinea mengonversi hadiah penalti itu menjadi gol.
✅Letexier menganggap bek Indonesia Alfreanda Dewangga melakukan pelanggaran di kotak penalti kpd Bah. Padahal Dewangga terlihat lebih dulu menyentuh bola. Teklingnya bersih. Guinea dapat penalti kedua, tapi gagal mencetak gol.
✅Letexier mengusir pelatih Indonesia Shin Tae-yong yg protes keras karena penalti aneh itu. Pasca pertandingan, Shin Tae-yong menuding wasit melakukan kecurangan.
aneh bgt ni tl cuk semua orang ngeributin tete. pink dilecehin, coklat dikatain, kecil dihina, gede dituduh pamer. ga cowo ga cewe komennya pada sampah semua anying. paling sampah ya yang affiliate tp clickbaitnya ngatain badan orang