Pertarungan waktu
Detik pertama membisu dan penuh kelu
Menit kedua detak mulai berjejak
Jam ketiga irama bisu terurai semu
Besoknya, kembali detik pertama.
Silakan rayakan, semeriah mungkin. Lengkap dengan tawa yang paling lebar nan membahana. Karena saat itu, pengaduanku telah sampai di muara sang waktu. Di mana cerita kita sudah tertinggal jauh di belakang.
Tapi, anggap saja aku bodoh. Terlalu lambat untuk bisa memahami setiap jeda. Yaaa ... anggap saja begitu. Biar kalian nyaman. Biar kalian tenang. Lain waktu, saat aku tidak ditemukan di mana pun, tak usah sibuk mencari.
@PemetikAksara#mainkata
Bukan cuma bulan dan bintang yang bisa bersama. Matahari dan bulan pun bisa bertegur sapa. Sedangkan kita, terlalu asing dengan kata-kata.
Sekuat apapun kaki bertahan
Sekokoh apapun ingin digenggam
Siluet-siluet degup terus berdebam
Sampai satu titik waktu berjatuhan
Kita pernah menikmati lelah bersama angan.
Dentang lonceng menuju 210 hari perjalanan.
Tentang Hari Pertama
Katanya, semua bisa diusahakan
Selama raga tak lelah bertebaran
Mengambil garis lintang ke Selatan
Tempat segala harap berpelukan
Katanya, ada banyak rasa perlu dikurangi
Sebagaimana isi hati yang harus dibumbui
Meluaskan hati, melepas segala ambisi
Terasa sulit, terasa berat, bukan berarti kita tidak mampu. Perjalanan ini sedang membentuk, mengokohkan, membentur, menguatkan. Lalu semesta akan menyaksikan jejak-jejak kita yang tegap.
Perjalanan masih berlanjut di kaki langit.
Sama -sama belajar bahwa rindu tidak pernah bisa ditebak kapan datang atau hilang.
Bahwa kehilangan bukan perihal memiliki atau pernah punya janji.
Bahwa ketika ada jarak yang memisahkan, ikatan hati lebih erat dari jutaan sepi.
Bahwa, saling menerima artinya saling melepaskan.