Parents akan tua & kembali jadi kanak-kanak
Hargai mereka sebelum mereka sudah tidak ingat kita, apatah lagi bila mereka tiada lagi
Anak-anak akan lihat bagaimana kita jaga & menghargai parents kita
Satu hari, akan tiba giliran anak kita utk menjaga kita
Itu kitaran hidup
Innalillahi Wainna Ilaihi Rooji’un. Semalam pukul 11 malam. Aku baring, scroll telefon. Entah macam mana jari aku tekan Shopee Live. Scroll, berhenti dekat satu live. View: 2 orang. Seorang abang jual muruku. Meja lipat, lampu malap. Nama dia Apis. Aku masuk. Bukan nak beli, saja nak temankan orang live sorang-sorang. Aku tanya, “Abang selalu live ke?” “Setiap malam lepas Isyak.” Aku tanya lagi, “Kenapa rajin sangat?” Dan dekat situ, aku menyesal tanya. Dia cerita pasal hidup.
Guys, ada tweet yang bikin hati lo berantakan sekaligus mikir panjang.
Terkadang membiarkan pergi adalah bentuk cinta terhadap anak, daripada dia menderita di dunia.
Kalian setuju ga dengan statement diatas?
Dibawah ada yg ngepost video bayi kecil – namanya nggak disebut, tapi kondisinya bikin lo langsung terpaku.
Bayi ini lahir tanpa lengan, tanpa kaki (phocomelia berat), plus partial anencephaly alias otaknya nggak lengkap.
Dokter bilang “dia nggak bakal lama”. Tiap minggu operasi baru, paru-parunya rapuh, jantungnya nggak stabil, otaknya nggak utuh.
Tapi dia selamat sampe ulang tahun pertama.
Delapan operasi berbahaya.
Dia nggak bisa jalan, nggak bisa ngomong, nggak bisa pegang apa-apa… tapi dia senyum.
Senyum yang katanya “ngomong” kalau dia masih hidup, dan itu udah cukup.
Video ini sebenernya inspirational banget – nunjukin perjuangan jiwa kecil yang kuat meski tubuhnya nggak sempurna.
Tapi caption-nya? “Sometimes ‘letting go’ is a form of love”
Kita jarang tau realita di balik layar rumah sakit yang kebanyakan orang nggak mau liat.
Nggak lagi romantisasi penderitaan.
Nggak lagi bilang: kadang ngelepas, kadang memilih nggak memperpanjang, itu juga bentuk kasih sayang.
Dan liat komentar-komentarnya dibawah, ada dua kubu:
Banyak yang langsung setuju untuk "end-their-suffering".
“Aborsi ada alasannya.”
“Kenapa bawa bayi polos ke dunia cuma buat menderita seumur hidup?”
“Ini bukan keajaiban, ini penderitaan.”
“Orang tuanya yang egois kalau tetap pertahanin.”
Ada yang bilang “the miracle is in severe pain as it is, pls do the right thing.”
Bahkan ada yang nanya, “nanti pas orang tuanya meninggal, siapa yang rawat anak kayak gini?”
Tapi ada juga yang marah dan nuntut untuk dipertahanin.
“Hidup suci, nggak boleh dimainin.”
“Dia masih senyum, itu artinya dia mau hidup.”
Ini bukan cuma soal satu bayi. Ini cerminan sesuatu yang jauh lebih besar.
Di dunia medis, kasus-kasus kayak gini tiap hari ketemu. Janin dengan kelainan berat, orang tua dihadapkan pilihan: lanjutkan kehamilan atau nggak?
Setelah lahir, lanjut perjuangan medis mahal yang bikin anak menderita bertahun-tahun, atau… biarkan pergi dengan damai?
Aktivis kesehatan perempuan lagi kasih perspektif yang jarang orang berani bilang keras-keras: kadang “letting go” itu bukan kebencian, bukan penyerahan.
Tapi cinta yang paling berat. Cinta yang memilih nggak bikin makhluk kecil yang nggak minta dilahirkan ini harus ngalamin operasi tiap minggu, nyeri kronis, dan ketergantungan total seumur hidup.
Kenapa tweet ini langsung meledak ribuan like dan ratusan reply dalam hitungan jam?
Karena ini nyentuh titik paling sensitif manusia: batas antara “hidup harus diperjuangin mati-matian” versus “kualitas hidup yang layak”.
Kita ga perlu tau nama bayi, nggak perlu tau nama rumah sakit, nggak perlu tau orang tuanya siapa.
Tapi pesannya nyasar ke hati semua orang yang pernah liat atau bayangin punya anak kayak gini.
Dan reaksi netizen nunjukin: masyarakat kita masih terbelah banget soal isu disability, aborsi medis, dan euthanasia pasif.
Ini bukan soal “pro-life vs pro-choice” doang.
Ini soal: apa kita berani jujur sama diri sendiri kalau melihat anak seperti ini, apa kita masih bisa bilang “semua kehidupan harus diselamatkan” tanpa mikir panjang soal penderitaan yang bakal dia alami?
Si Bapak di Pemalang kemarin dibilang “berani kritik” sampe anaknya kena imbas. Ini juga “berani” dalam cara yang beda – berani nunjukin kenyataan medis yang kebanyakan orang tutup mata.
Kadang “letting go” emang bentuk cinta yang paling sakit. Karena cinta bukan cuma soal mempertahankan napas. Tapi soal membebaskan dari penderitaan yang nggak manusiawi.
Tweet satu ini bikin lo mikir ulang semua yang lo kira lo tau soal “cinta orang tua”.
Buat calon atau sedang jadi orang tua, pendapat kalian gimana?
Setuju buat diaborsi atau tetap dipertahanin dengan segala kekurangannya?
Korang yg lelaki ni, cubalah senonoh sikit. Bila ada wanita atau perempuan yg nak buat kerja halal, elok dan proper, berilah support, bantu promote, janganlah dok harrass dengan DM bodoh2
Kira dah elok sgt adik ni promote kerja babysit. Ramai yg perlukan servis ni
She swam 1, 600 km carrying her calf's body so it wouldn't sink.
In 2018, Tahlequah, an orca known as J35, did something that left everyone speechless. Her calf died shortly after
birth, and for 17 days she caried its body throughout the Pacific. More than 1, 600kilometers. She had to dive again and again to retrieve it every time it sank, without eating or resting properly.
Scientists later confirmed it. This was not just animal instinct. It was real grief. And her entire pod did something extraordinary.They slowed their swimming pace to stay with her and shared food so she could keep going.
In the end, she let her calf go. Two years later, in 2020, she became a mother again.This time the baby was born healthy and they named it Phoenix. Today both of them are still swimming together in the Pacific.
insane. makan in public without disturbing anyone’s peace ada juga manusia tak guna yang nak harass the innocent woman. she did nothing wrong. she was simply eating. yang buat live tu bodoh, and the enablers pun sama bodoh. when will be better if we normalise harassment macam ni
some important issues raised by women:
- r@pe
- SA/SH
- DV
- forced marriage
- human trafficking
- femicides
issues raised by men:
- girlfriend cheating
- why do men always have to pay for dates
- men rejected too much
- women get free drinks
- wife choosing to divorce and getting her half
- i paid, and she didn't sleep with me
Got on the news last week! Here's my tech journey so far:
15yo: Entered uni
16yo: Taught myself coding & published a game
17yo: First tech internship with startup & started freelancing
19yo: Co-authored GenAI paper with MIT
22yo: Co-founder/cto of VC-backed AI startup
Imagine this. You prayed for a baby.
You waited for years.
Then finally, your baby came.
But one year later, he is gone.
Not from sickness.
But hit by a lorry at a toll plaza.
People will blame the driver.
But ask this: why was he even allowed to drive?
I don’t think he owns the lorry.
The truth is... many business owners don’t care about safety.
They don’t send their vehicles for maintenance.
They don’t fix what is broken.
They don’t hire competent people, mostly just to save cost.
And still, they let these lorries go on the road.
If you’re that business owner:
How do you sleep at night, knowing your mistake has killed a child… and destroyed a family?
I still see it today. Lorries speeding. Buses racing in the fast lane.
If nothing changes, it will happen again. Soon.
Because here, safety is not first.
And until that changes, more lives will be lost for nothing.
📸: Utusan