Dear Coach Justin,
Tolong berhenti cuci tangan dengan bilang bahwa lo itu cuma rakyat jelata, cuma netizen biasa kayak kita-kita. No, you’re not, Coach. Lo tahu lo bukan netizen biasa.
Lo salah satu pundit paling berpengaruh di negeri ini. Lo punya posisi, pengaruh dan power dalam membentuk bahkan membelokkan arah narasi publik. Lo bukan netizen biasa seperti yang berkali-kali lo claim, lo orang yang didengerin. Opini lo bisa jadi bahan diskusi nasional.
Lo juga punya akses ke lingkaran dalam federasi, lo sendiri bahkan pernah bilang bahwa Pak Erick sempat diskusi sama lo soal rencana pergantian Shin Tae-Yong ke pelatih asal Belanda. Lo sendiri yang ngomong itu di salah satu podcast.
Jadi gue tanya, “rakyat jelata” atau "netizen biasa" macam apa yang dimintai pendapat langsung oleh pejabat tertinggi federasi sepak bola kita? Come on, Coach. Mereka di atas dengerin lo. Minimal, mereka pertimbangin apa yang lo ucapin.
Makanya lucu ketika sekarang lo mendadak main aman, ngaku cuma netizen biasa begitu situasi mulai gak berpihak ke lo. Begitu argumen lo mulai mentah di lapangan, lo mundur dan seolah lepas tanggung jawab. Padahal dari awal, lo juga ikut nyalain sumbu opini publik. Secara sadar atau gak sadar, Lo telah membantu dalam membentuk persepsi itu, dan lo tahu efek domino-nya.
Jadi jangan pura-pura netral sekarang.
Jangan pura-pura gak tahu apa-apa. Karena faktanya, lo punya andil dalam semua kekacauan ini, Coach.
Orang yg kalian hina dgn "masang taruhan" dan "nggak ada ongkos balik ke Indo" itu, orang yg pernah meninggalkan kenyamanan untuk mendirikan sekolah2 non-formal utk anak2 miskin di bantaran Kali Code Jogja dan Flores.
Dia dan keluarganya skrng memang tinggal di Australia, sengaja datang ke stadion, dengan duitnya sendiri, untuk menonton Timnas Indonesia.
Dia mungkin kesal krn Timnas Indonesia dibantai 1-5. Juga mungkin kesal pd kalian yg sering bias dan tidak objektif dlm beropini.
Harusnya ajak diskusi saja. Atau abaikan, kalau kalian merasa dia tdk penting. Tapi jangan diolok2, diframing, dan direndahkan di depan publik seperti itu.
Sakit kalian ini..
Di sela makan malam saya memetakan dan mengukur lokasi laut yang dipagari oleh “bambu” di Tangerang. Seluruhnya sudah diSERTIFIKAT HGB!
Luasnya MENCENGANGKAN!
Saya memang blm sempat cek ke BHUMI dan baru hari ini.
Membagongkan.
Ini titik batas BARAT.
BHUMI vs Google Map
Anies ada ‘dosa’ politik identitas.
Prabowo ada ‘dosa’ kasus HAM.
Ganjar ada ‘dosa’ konflik agraria.
Tidak ada capres yang sempurna 100%, tapi ada yang tidak ‘gaslight’ balik ketika dosa tersebut dipermasalahkan, atau lebih baik lagi menebus lewat pilihan kebijakan selanjutnya.
Obsesi orang-orang terhadap agama suami Maudy Ayunda menjadi lahan eksploitasi bagi sejumlah media. Mereka beralasan, "Ingin tau doang apa salahnya?"
Tapi pertanyaan lebih mendasarnya, mengapa dari awal mereka merasa perlu tahu detail agama ini? Sebuah utas #Remotivi
Hak Imunitas anggota DPR itu dibuat agar anggota DPR berani bicara dan dilindungi hukum saat jalankan tugas & membela Rakyat yg diwakilinya.
Ingat, agar berani bicara benar. Bukan asal bicara!
A: Knp kami dijebloskan ke neraka?
B: Krn berkerumun.
C: Kami tak berkerumun. Kami cuma melaporkan mereka yg berkerumun. Knp juga dijebloskan ke neraka?
B: Sebab laporan kalian bukan demi tegaknya kesehatan bersama. Laporan kalian didorong oleh KEBENCIAN.
[Video] “Mengapa semuanya putih?”
Ini adalah cuplikan wawancara legenda tinju Muhammad Ali dengan Michael Parkinson dalam acara bincang-bincang ‘Parkinson’ pada 1971.
“Editorial dari Neraka” mengenai tuntutan 1 tahun penjara bagi penyerang Novel Baswedan. Kalau mau nonton #BeritaDariNeraka dengan lengkap, silakan meluncur ke -> https://t.co/yzMD7tciOX