Affan Kurniawan (21) tengah mengantarkan pesanan makanan malam itu.
Kondisi Jakarta yang tengah chaos dan morat-marit sebab kekerasan aparat tak membuatnya gentar.
Sebagai tulang punggung, ia tak punya pilihan selain tetap bergerak dan menuntaskan pekerjaannya.
Kerumunan ia lewati dengan segenap keberanian. Namun siapa sangka, ia harus gugur dilindas rantis di tengah kegigihannya mencari pundi di tengah kondisi ekonomi yang mencekik.
Istirahat yang tenang, Affan. Keberanian dan kegigihanmu biar kami yang melanjutkan.
Tragedi Kematian Raya: Balita Sukabumi yang Meninggal dengan Tubuh Dipenuhi Cacing
Di sebuah rumah panggung reot di Kampung Padangenyang, Desa Cianaga, Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi, seorang bocah 4 tahun bernama Raya menjalani hidup yang tak pernah benar-benar layak disebut kehidupan. Sejak lahir, ia tumbuh dalam keterbatasan yang mencekik. Tubuhnya kecil, kurus, dan selalu berada jauh di bawah garis merah pertumbuhan anak.
Sehari-hari, Raya hanya mengenal dunia sempit: rumah bilik dengan lantai bambu yang rapuh, kolong rumah yang dipenuhi kotoran ayam, dan udara pengap bercampur bau yang menusuk. Dari sanalah penyakit mulai merayapi tubuh mungilnya, cacing-cacing parasit yang secara perlahan mengambil alih organ demi organ.
Ayahnya sakit-sakitan, tidak mampu bekerja. Ibunya mengalami gangguan jiwa, tak bisa memberikan perawatan yang semestinya. Hidup Raya adalah kesunyian panjang, tanpa suara tawa riang, tanpa permainan, tanpa perhatian medis. Ia hanya dirawat seadanya dengan cara tradisional, seolah kesehatan hanyalah kemewahan yang mustahil mereka raih.
VIDEO YANG MEMBUKA LUKA
Kisah Raya mencuat ke publik ketika akun Instagram @rumah_teduh_sahabat_iin mengunggah sebuah video berdurasi 9 menit. Dalam video itu, relawan tampak berusaha menarik seekor cacing hidup sepanjang 15 cm dari hidung Raya.
Adegan memilukan itu tak hanya membuat publik terenyuh, tapi juga menimbulkan pertanyaan besar: bagaimana mungkin di era modern ini, seorang anak bisa hidup dan mati dengan tubuh yang dipenuhi cacing?
Video itu viral. Ribuan komentar membanjiri lini masa. Ada yang menangis, ada yang marah, ada pula yang menuding pemerintah lalai.
PERJUANGAN MELAWAN MUSTAHIL
Tim pegiat sosial akhirnya membawa Raya ke rumah sakit. Saat itulah kenyataan yang lebih kejam terungkap. Dari tubuh mungil Raya, dokter berhasil mengeluarkan cacing hidup hingga seberat 1 kg. Bayangkan, satu kilogram parasit yang selama ini hidup, berkembang biak, dan merayap di dalam tubuh seorang bocah 4 tahun.
Hasil CT Scan lebih menghancurkan hati: cacing dan telurnya telah menyebar sampai ke otak. Itu berarti penderitaan Raya bukan hanya pada tubuhnya yang lemah, tapi juga pada syaraf dan pikirannya yang terganggu. Setiap detik baginya adalah siksaan yang tak bisa dibayangkan.
Relawan berlari, mencari pertolongan. Surat permohonan bantuan dilayangkan ke pemerintah, lembaga sosial, hingga donatur pribadi. Tetapi jawaban yang datang sama: nihil. Sementara itu, tubuh kecil Raya semakin kehilangan cahaya, seperti lilin yang terbakar habis.
DETIK-DETIK TERAKHIR
Pada 22 Juli 2025, perjuangan panjang itu berakhir. Raya menghembuskan nafas terakhirnya di rumah sakit. Tak ada peralatan canggih yang mampu menyelamatkannya, tak ada tangan kokoh negara yang hadir tepat waktu. Ia pergi dalam diam, meninggalkan luka dalam yang tak akan pernah sembuh.
Bagi keluarga miskin yang ditinggalkan, kematian Raya adalah kepedihan yang tak terlukiskan. Bagi para relawan yang merawatnya, kepergiannya adalah kegagalan yang membekas. Dan bagi publik yang menyaksikan kisahnya, tragedi ini adalah tamparan keras di tengah gegap gempita slogan kesehatan dan gizi anak.
SEBUAH IRONI
Raya seharusnya masih bermain dengan kawan sebayanya, belajar mengenal huruf dan angka, atau sekadar berlari di halaman rumah. Namun kenyataannya, ia meregang nyawa dengan tubuh dipenuhi cacing, di negeri yang setiap tahun mengumandangkan program gizi anak dan kesehatan keluarga.
Tragedi ini bukan hanya tentang satu anak bernama Raya. Ia adalah simbol, potret buram tentang bagaimana kemiskinan, kelalaian, dan sistem yang rapuh bisa merenggut nyawa anak-anak tak berdosa.
Raya telah tiada, tapi kisahnya tetap hidup sebagai jeritan sunyi. Jeritan yang bertanya:
Sampai kapan anak-anak miskin harus menunggu keadilan?
Sampai kapan tubuh kecil harus dikorbankan hanya karena lahir di tengah keluarga miskin yang tak pernah tersentuh perhatian pemerintah?
Buat lu semua pendukung 02, kalau ditanya kenapa dukung 02? Mendingan lu jawab karena programnya cocok sama gue dll, gue kasih respect sama elu. kalau alasannya karena gemoy, kasihan dll yang ga ada hubungannya sama programnya, mending otak lu di jual aja di market place.
Terbiasa nonton video satu menit, dikasih durasi dua jam ya kaget. Terbiasa baca qoutes gratisan di medsos, diajak baca buku ya nggak mau. Dikasih tahu apa pun, jawabannya, iya deh sipaling sipaling melulu. Au ah, gelap.
Jangan ajari kami mencintai pak prabowo. Jauh sebelum kalian menghina pak prabowo dgn sebutan gemoy, kami sejak 2014 tidak pernah berani keluarkan 1 istilah apapun utk mengantikan nama besar beliau, dgn istilah berbau fisik seperti gemoy. Kemana kalian saat itu, sedang asik bermain bola dan main boneka? Atau jadi pro jokowi ?
Jangan ajari kami utk memaafkan pak prabowo. Sejak tahun 2014, kami berdamai dgn diri kami sendiri, utk melupakan semua sejarah kelam pak prabowo, krn satu manusia pun tidak pernah luput dari kesalahan. Kami memaafkan pak prabowo krn sejak tahun 2014 pak prabowo bicara tentang bagaimana melindungi rakyat dari pemerintah yg semena mena, antek-antek asing sering beliau gaungkan. Kemana kalian saat itu,
masih duduk dibangku smp, atau menjadi pro jokowi ?
Jangan ajarin kami membela pak prabowo. Tahun 2019, kami garda terdepan menyelamatkan kotak suara pak prabowo, 500 orang meninggal tanpa otopsi, dimana kalian saat itu? Masi sibuk coret coret baju seragam merayakan kelulusan? Atau tetap menjadi projokowi ?
Jangan ajari kami tentang kejujuran dan santun nya pak prabowo. Tahun 2019, partai baru seumur jagung, memberikan kebohongan award utk pak prabowo, kami perang fakta dgn partai tersebut. Bapak dulu tidak pernah diam ketika ditanya oleh rakyat, sekarang bapak bungkam. Bapak dulu tidak marah ketika dinilai rendah oleh rakyat, sekarang bapak murka. Bapak dulu berjalan dgn tegap ditengah² rakyat, tidak joget didepan kamera, lalu diberi tepuk tangan oleh pendukungnya bahkan ditertawakan. Kemana bapak prabowo ku yg dulu?
Ohh... saya tau. 4 tahun lalu, Bapak telah menyerah kan diri bapak ke PENGUASA. Bapak meninggalkan kami utk bergabung bersama dinasti. Bapak tidak sanggup menanggung suara hati kami. Bapak menyerah. Dan sejak saat itu lah, kami pun berjuang dgn cara kami sendiri.
#SALAMPERUBAHAN
🇮🇱 NEW VIDEO PROOF Israel bombed the Gaza Baptist Hospital!
🇮🇱 Video analysis shows an Israeli jet in the air at the time of the bombing.
The evidence is UNDENIABLE.
Praying for humanity. 🤲🏼 Praying for peace. 🤲🏼🇵🇸 Innocent people and especially innocent kids are losing their lives in the war - on both sides. It's so heartbreaking & sad. 😥💔 PLEASE STOP THE WAR!!! ❌❌❌
I just wanted to send this farewell message to all Manchester United supporters.
I would like to express my unwavering gratitude and appreciation for the love from the last 12 years. We’ve achieved a lot since my dear Sir Alex Ferguson brought me to this club. I took incredible pride everytime I pulled on this shirt, to lead the team, to represent this institution, the biggest club in the world was an honour only bestows upon a few lucky footballers.
It’s been an unforgettable and successful period since I came here. I didn’t think from leaving Madrid as a young boy we would achieve what we did together.
Now, it’s the right time to undertake a new challenge, to push myself again in new surroundings.
Manchester will always be in my heart, Manchester has shaped me and will never leave me.
We’ve seen it all. 🤘🏼❤️
Ia singgah ke kuburan ayahnya untuk mengobati rindu dan mungkin berusaha tidak mengadu bahwa dirinya lelah.
Usai mengusap nisan sang ayah dgn mata yang basah, kaki mungilnya kembali melangkah.
Ia sendiri harus mencari nafkah demi terus bisa tetap bersekolah.