"Mie Ayam Cowboy," tertulis pada spanduk berwarna biru yang digantung di depan kedai. Tekstur mie yang kenyal dengan lumuran minyak yang tidak terlalu banyak memunculkan suatu rasa gurih yang seimbang. Tak heran kedai yang tidak ada di gojek/grab ini punya banyak pelanggan.
bayangin, bapak itu pulang menemui keluarganya yang menahan lapar, lalu dengan semringah ia mengangkat botol itu sambil berkata: “alhamdulillah, hari ini kita bisa makan nasi.”
Iran Kecolongan?
Tadi malam, dalam kondisi sebenarnya udah ngantuk banget (dan hampir saya matikan tuh laptop, mau tidur aja karena sudah 10 menit lewat waktu yang dijanjikan, pihak TV belum menghubungi lagi), saya dihadapkan pada pertanyaan yang menggelitik.
Intinya begini, narasumber yang lain menyebut Iran "kecolongan" karena tidak bisa menjaga pemimpinnya. Lalu host mengkonfirmasi ke saya, menanyakan pertanyaan yang -saya pikir- juga ada di benak banyak orang, "Bukankah seharusnya pemimpin dengan level setinggi itu penjagaan keamanannya sangat ketat?"
Saya sebelumnya sudah menyimak pernyataan tokoh politik senior Iran, saat ini menjabat Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani yang menyatakan bahwa Ayatullah Khamanei memang tidak mau diminta bersembunyi. Memang beliau yang maunya tetap bertahan di tengah masyarakat (rumah dan kantor beliau ada di dalam gang, di tengah kota Teheran).
Beliau bilang, baru mau ke bunker kalau semua warga Iran juga dapat kesempatan berlindung ke bunker.
Berkali-kali sebelumnya saya juga melihat video-video yang menunjukkan beliau berdoa, memohon kesyahidan. Suami saya, dulu banget, saat masih kuliah di Iran, pernah ikut i'tikaf di masjid, lalu diumumkan, "Rahbar minta diaminkan doanya." Jamaah i'tikaf ya nurut aja, amin.. amin.. Eh, kemudian ketahuan, doa beliau adalah doa minta segera disyahidkan.
Jadi, ya memang begitulah mental kebanyakan orang Iran, ingin mati syahid. Tapi, beda dengan syahid ala jihadis Wahaboy, harapan akan kesyahidan dipandu oleh kesadaran kritis, yaitu pemahaman geopolitik dan kegigihan mencapai kemajuan iptek, terutama pembuatan senjata untuk membela diri saat musuh menyerang.
Cuma, masih ada pertanyaan tersisa di benak saya, "Ya tapi kan harusnya langit Teheran dijaga dong, biar ga ada rudal atau jet tempur masuk?"
Di TV saya cuma bisa bilang, serangan ini kejutan, karena serangan terjadi saat negosiasi masih berlangsung, dan Menlu Oman di TV bahkan mengungkap, Iran bersedia menyimpan nol cadangan uranium yang diperkaya [yang berpotensi dijadikan bom]. Namun dalam waktu singkat, meski Pemimpin Tertinggi gugur, Iran mampu memberikan serangan balasan.
[Serangan terhadap kediaman Ayatullah Khamenei jam 8.30 pagi, serangan balasan dimulai 11.00 pagi waktu Iran]
Setelah diskusi dengan beberapa kawan, akhirnya ketemu jawaban yang lebih detil. Narasi bahwa “Iran kecolongan karena gagal mengintersep” adalah penyederhanaan yang keliru. Dalam perang modern, tidak ada sistem pertahanan udara yang 100% sempurna. Amerika gagal mencegah serangan 9/11 [dengan mengikuti klaim mereka bahwa Al Qaida yang menabrakkan pesawat ke Twin Tower], Israel tetap kebobolan sebagian roket Iran (bahkan juga roket Hamas) meski punya Iron Dome. Arab Saudi tidak mampu mencegat drone Ansharullah Yaman saat serangan Aramco 2019.
Kegagalan intersep [mencegat] bisa disebabkan oleh serangan multi-vector yang kompleks, faktor kejutan, infiltrasi intelijen, atau celah teknis. Menyimpulkan “lemah” atau "kecolongan" dari satu kegagalan adalah falasi "hasty generalization" (generalisasi yang terburu-buru).
Begitu juga, klaim bahwa terbunuhnya Ayatullah Khamenei adalah gara-gara kebocoran intelijen yang artinya "rezim tidak solid" atau lemah, juga generalisasi yang tergesa-gesa. Faktanya, semua negara mengalami infiltrasi: CIA beroperasi di Rusia, Mossad di berbagai negara, dan intel Rusia maupun China juga menyusup ke Barat. Dan... intel-intel Iran juga ada di Teluk. Makanya Iran menggempur sebuah hotel mewah di Dubai karena mendapatkan info bahwa tentara-tentara AS dievakuasi ke sana.
Terakhir, penyebab terbunuhnya Ayatullah Khamenei juga masih belum pasti, apakah jet tempur masuk ke wilayah Iran, atau rudal yang ditembakkan dari luar Iran. Jika rudal dari luar Iran, penjelasannya begini (kata teman saya):
Misil yang ditembakkan dari luar perbatasan masih jadi problem buat semua militer, bukan cuma Iran. Jika rudal itu dikirim dari Suriah, Bahrain, atau Irak, jaraknya sudah terlalu dekat. Misil sudah dalam posisi aktif untuk bisa dicegat. Apalagi (lihat peta), pangkalan militer AS ada di sekeliling Iran, serangan bisa berasal dari mana saja, sulit diduga, dan wilayah Iran sangat luas. Tidak mungkin menjaganya 100% tanpa bisa ditembus.
Sebaliknya, misil dari Iran menuju Tel Aviv, bisa ditembak di Yordania, UAE, dll, karena belum masuk posisi aktif (masih meluncur) jadi lebih mudah dijatuhkan. Itulah sebabnya, jika misil Iran sudah masuk fase aktif, bahkan Iron Dome dkk juga tidak bisa menangkis.
Apapun juga, intinya: Iran sudah (dan sedang) melawan sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya. Kematian pemimpin dan para komandan militer adalah bagian dari resiko perjuangan mereka. Kesyahidan (yang rasional) menjadi impian bagi mereka.
YANG SALAH ITU: menyalah-nyalahkan korban. Justru harusnya, terus berfokus ke si pelaku: AGRESI terhadap negara berdaulat adalah salah, melanggar Piagam PBB pasal 2, dan pihak yang diserang berhak untuk membalas (Piagam PBB pasal 51).
Ini juga berlaku dalam cara kita memandang Palestina. Meski di sana ada friksi internal, ya sudah, itu urusan mereka. Selalu ingat bahwa yang salah itu ISRAEL; penjajahan Israel harus segera dihentikan. Jangan malah berkata, "Ya gimana kita mau bantuin? Mereka aja berantem satu sama lain?!"
Selain negara2 Arab sunni pengkhianat & pengecut ini. Jangan lupa Indonesia yang jg jadi anjing Amerika dan secara brutal didukung para Ulama, terutama Yahya Staquf antek zionis di tubuh NU.
Kalo ada kader NU tdk terima. Mari kita berdebat terbuka!
Oman’s foreign minister says Iran agreed to “zero enriched uranium stockpiling.”
Within hours, Israel and the USA attacked them.
It was never about peace or uranium but about acting out Netanyahu's biggest bloodthirsty fantasy.
I am a diplomatic aide in the Sultanate of Oman's Ministry of Foreign Affairs.
My job is logistics. When two countries that cannot speak to each other need to speak to each other, I book the rooms. I prepare the briefing materials. I make sure the water glasses are the right distance apart. You would be surprised how much of diplomacy is water glasses. Too close and it feels informal. Too far and it feels like a tribunal. I have a chart.
We had a very good month.
Since January, Oman has been mediating indirect talks between the United States and Iran on Iran's nuclear program. The talks were held in Muscat and in Geneva. The Americans would sit in one room. The Iranians would sit in another room. I would walk between them. My Fitbit says I averaged fourteen thousand steps on negotiation days. The hallway between the two rooms at the Royal Opera House conference center is forty-seven meters. I walked it two hundred and twelve times in February. This is good for my cardiovascular health. It was less good for my knees. Both are in the service of peace.
By mid-February, we had something.
Iran agreed to zero stockpiling of enriched uranium. Not reduced stockpiling. Zero. They agreed to down-blend existing stockpiles to the lowest possible level. They agreed to convert them into irreversible fuel. They agreed to full IAEA verification with potential US inspector access. They agreed, in the Foreign Minister's phrase, to "never, ever" possess nuclear material for a bomb. I have worked in diplomacy for seven years. I have never seen a country agree to this many things this quickly. I made a spreadsheet of the concessions. It had fourteen rows. I color-coded it. Green for confirmed. Yellow for pending. By February 21 the spreadsheet was entirely green. I printed it. It is on my desk in Muscat. It is still green.
That phrase took eleven days. "Never, ever." The Iranians initially offered "not seek to." The Americans wanted "will not under any circumstances." We landed on "never, ever" at 2:14 AM on a Tuesday in Muscat. I typed the final version myself. I used Times New Roman because Geneva prefers it. The document was fourteen pages. I was proud of every comma.
Here is what they said, in the order they said it.
February 24: "We have a once-in-a-generation opportunity." — The Foreign Minister, private briefing to Gulf Cooperation Council ambassadors. I prepared the slide deck. Slide 14 was the implementation timeline. Slide 15 was the signing ceremony logistics. I had reserved the Palais des Nations in Geneva, Room XX. It seats four hundred. We discussed pen brands for the signing. The Iranians preferred Montblanc. The Americans had no preference. I ordered twelve Montblanc Meisterstucks at six hundred and thirty dollars each. They arrive on Tuesday.
February 27, 8:30 AM EST: "The deal is within our reach." — The Foreign Minister, CBS Face the Nation. He sat across from Margaret Brennan. He said broad political terms could be agreed "tomorrow" with ninety days for technical implementation in Vienna. He said, and I wrote this line for the briefing card he carried in his breast pocket: "If we just allow diplomacy the space it needs." He praised the American envoys by name. Steve Witkoff. Jared Kushner. He said both had been constructive.
I watched from the Four Seasons Georgetown. The minibar had cashews. I ate the cashews. They were nineteen dollars. The most expensive cashew I have ever eaten. But it was a good morning and we were within our reach.
February 27, 2:00 PM EST: Meeting with Vice President Vance, Washington. The Foreign Minister presented our progress. Zero stockpiling. Full verification. Irreversible conversion. "Never, ever." The Vice President used the word "encouraging." His aide took notes on an iPad. The aide did not make eye contact for the last nine minutes of the meeting. I noticed this. Noticing things is the only part of my job that is not water glasses.
February 27, 4:00 PM EST: "Not happy with the pace." — President Trump, to reporters.
Not happy with the pace.
We had achieved zero stockpiling. Full IAEA verification. Irreversible fuel conversion. Inspector access. And the phrase "never, ever," which took eleven days and cost me two hundred and twelve trips down a forty-seven-meter hallway.
Every American president since Carter has failed to get Iran to agree to this. Forty-five years.
Not happy with the pace.
February 27, 9:47 PM EST: The Foreign Minister's flight departs Dulles for Muscat. I am in the seat behind him. He is reviewing Slide 14 on his laptop. The implementation timeline. Vienna technical sessions. The signing ceremony. The pens.
I fall asleep over the Atlantic. I dream about water glasses.
February 28, 6:00 AM GST: I wake up to push notifications.
February 28: "The United States has begun major combat operations in Iran." — President Trump.
Operation Epic Fury. Coordinated airstrikes. The United States and Israel. Tehran. Isfahan. Qom. Karaj. Kermanshah. Nuclear facilities. IRGC bases. Sites near the Supreme Leader's office. Israel called their half Operation Roaring Lion. Someone in both governments spent time choosing these names. Epic Fury. Roaring Lion. I spent eleven days on "never, ever." They spent it on branding. The President said Iran had "rejected American calls to halt its nuclear weapons production."
Rejected.
Iran had agreed to zero stockpiling. Iran had agreed to full verification. Iran had agreed to "never, ever." Iran had agreed to everything in a fourteen-page document that I typed in Times New Roman.
The President said they rejected it.
I do not know which document the President was reading. I know which one I typed.
February 28, 18:45 UTC: Iran internet connectivity: four percent. — NetBlocks, confirmed by Cloudflare. Ninety-six percent of a country went dark. You cannot negotiate with a country at four percent connectivity. You cannot negotiate with a country that is being struck. You cannot negotiate. This is not a political opinion. This is a logistics assessment.
February 28: The governor of Minab reported forty girls killed at an elementary school.
I do not have logistics for that. There is no slide for that. The water glass chart does not cover that.
February 28: Lockheed Martin: up. Northrop Grumman: up. RTX: up. Dow futures: down six hundred and twenty-two points. Gold: five thousand two hundred and ninety-six dollars. An analyst at AInvest published a note titled "Iran Strikes: Tactical Plays." The note recommended positions in oil, defense stocks, and gold.
The most expensive cashew I have ever eaten was nineteen dollars. The most expensive pen I have ever ordered was six hundred and thirty dollars. The math suggests I have been working in the wrong industry. Defense stocks do not require water glasses. Defense stocks do not require eleven days. Defense stocks require one morning.
February 28: Israel closed its airspace and its schools. Iran launched retaliatory missiles toward US bases in the Gulf. The Supreme Leader promised a "crushing response." Israel's defense minister declared a permanent state of emergency. Everyone is using words I recognize in an order I do not. I recognize "permanent." I recognize "emergency." I do not recognize them next to each other. In diplomacy, nothing is permanent and everything is an emergency. In war it is the reverse.
February 28: The Foreign Minister has not made a public statement.
The briefing card is still in his breast pocket. It still says "within our reach."
- "A revenge is COMING. A revenge is coming SOON. They will see what they have done."
- "Imam Khamenei will go down in history as did Imam Ali"
Voice of Press TV's Maryam Azarchehr
Berikut video analisa sy re ledakan konflik Timur Tengah, dimana sy juga jelaskan mengapa ide agar Pres Prabowo terbang ke Teheran utk jadi mediator konflik AS-Israel-Iran adalah gagasan yg TIDAK realistis. Sy juga himbau agar Pemerintah 🇮🇩 menangguhkan pengiriman pasukan perdamaian kita ke Gaza. Silahkan dibahas, komentari, bantu sebarkan & boleh dikutip media.
Bombing Iran in the middle of negotiations, while starving Cuba, while genociding Palestinians, while threatening to invade Greenland… the US and Israel are the single greatest threat to humanity and it’s not even close. We are all forced to live in the nightmare they create.
"Mengebom Iran saat negosiasi, memblokade Kuba, menggenosida Palestina, mengancam invasi Greenland… AS dan Israel adalah ancaman terbesar bagi umat manusia. Kita semua dipaksa hidup dalam mimpi buruk ciptaan mereka." Jason Hickel
Ujian UT itu susah naudzubillah sih menurut gw. Perbandingan:
Gw kuliah STAN IP 3,5
Trisakti IP bisa lah 3,6.
Unimelb tembus 3,75
Di UT gw mentok 3,00
Ya UT murah emang, tapi tantangan terbesarnya itu di diri elu seperti konsistensi, komitmen, dan daya juang yg tinggi.
Kenapa?
Soalnya UT lu dibiarin. Mau lanjut kuliah monggo, kagak juga ga di DO. Mau 3 tahun selese bisa, mau 7 tahun pun bisa.
Lulus dari UT, artinya bukan hanya lulus dengan ijazah (yg tentu 100% asli) tapi lulus juga ujian komitmen, konsistensi jangka panjang, dan daya juang lu juga
Ayo ke UT!
Telur dan daun kelor disebut dapat menjadi pengganti susu dalam program makan bergizi gratis.
~N #DaunKelor#Telur#Susu#MakanBergiziGratis
https://t.co/MWE6CuAwN0
Dua bulan lalu saya dan Detha keheranan dan sangat susah mencerna oleh nalar tindakan akademisi sejarah di Universitas Indonesia bawa materi ke konferensi sejarah internasional hasil comot artikel di rubrik Memori VOI.
Paparan materi di International Conference Universiti Malaya itu di-klaim akademisi tersebut sebagai hasil penelitiannya yang jujur, walaupun saat di-cek copy-paste hampir menyeluruh.
Tahapan heuristiknya tidak satu pun menyebut artikel kami di VOI sebagai salah sumber beliau, boro-boro menulis/menyebut/merujuk teman saya @Dethazyo dalam literatur review.
Plagiasi oleh akademisi yang menimpa Kang Fadly Rahman kembali jadi pembicaraan di medsos dan dia tangkap basah langsung di forum diskusi, pernah dialami @voidotid kebetulan materi yang ia plagiasi menurut beberapa teman, di bawa ke forum yg sama yg dihadiri Kang Fadly
Akhirnya saya pribadi menyimpulkan, plagiasi yg bermuara dari nihilnya apresiasi mungkin karena akademisi Ilmu Sejarah UI itu berpikir artikel sejarah di VOI atau pembahasan sejarah via medsos ditulis oleh orang yang tak jelas latar belakangnya akademiknya.
Memang benar, Detha dan saya sama-sama membahas sejarah tanpa background kuliah Sejarah formal, kami hanya bermodal membaca dan wawancara.
Semoga hal ini segera terhenti dan para akademisi menempatkan integritas dan orisinalitas sebagai hal dikedepankan.
⚠️ Rantastia & UIMP fakta scam dunia pendidikan tinggi Indonesia level kronis ⚠️
Dari dua video ini, pendiri UIPM untuk menyusun kalimat runut yg bisa dimengerti orang lain pun sangat kesulitan.
Fakta menyedihkan bagi kita adalah ratusan orang sudah mendapat gelar dari dia 😭
Kemampuan komunikasi Rantastia dalam berbahasa Indonesia (video kiri) masih mending pelajar SMP & SMA menurut gue.
Makin darah naik kita saat Rantas si tentara PBB ini berbahasa inggris dalam videonya
Mungkin TNI @Puspen_TNI atau Polri @DivHumas_Polri mau bergerak usut sebab unsur pidana pasal 378 KUHP dan pasal 492 KUHP
PBB selalu dia comot supaya bisa jual sertifikat & award bodong yg berkaitan dengan militer dan bidang pendidikan internasional
Pernyataan kampus UIPM ini malah menambah banyak pertanyaan pas selesai saya baca.
Begini aja deh, saya pribadi mengajak diskusi dan debat terbuka Prof. (H.C) Dr. Lt. Gen Rantastia Nur Alangan sebagai pendiri UIPM.
Saya berharap Prof. Rantastia mau diskusi langsung secara fisik sama-sama hadir di satu tempat, masing-masing membawa arsip dan literatur rujukan.
Jangan lewat aplikasi meeting online, karena pembahasan debat terbuka yg saya ajukan ini sudah sangat dikuasai Prof. Rantastia.
Pembahasan pertama soal Keberadaan Harta Karun Bung Karno.
Prof. Rantastia sebagai orang yg sudah lama aktif dalam kegiatan berburu harta karun Sukarno bisa menjelaskan keberadaan harta itu, termasuk mendebat saya sebagai orang yang membatah adanya harta itu.
Pembahasan kedua seputar eksistensi Kerajaan Prussia. UIMP yg dalam berita di bawah ini diakreditasi Order Kingdom Prussia. Saya minta koreksi pengetahuan saya terkait Kerajaan Prussia yg sudah bubar 106 tahun lalu, wilayahnya sekarang jadi 8 negara adalah gak tepat.
Saya perlu pencerahan argumen Prof. Rantastia tentang Kerajaan Prussia ini masih eksis di tahun 2024 hingga sempat memberi akreditasi untuk UIMP kampus yg beliau dirikan.
Semoga ajakan diskusi dan debat terbuka ini sampai ke Prof. (H.C) Dr. Lt. Gen Rantastia Nur Alangan. Teman-teman yg kenal atau sering ketemu beliau pun silakan disampaikan.